
Oleh Fahroji
Tulisan saya berjudul "Ketika Profesor Jadi Ketua Ranting NU" (baca juga: Ketika Profesor Jadi Ketua Ranting NU) yang sebenarnya sekedar menanggapi postingan yang viral di grup WhatsApp ternyata mendapat tanggapan beragam dari pembaca. Mulai yang datar - datar saja dan mengandung harapan serta doa sampai yang mengajak berpikir dengan cara baca yang berbeda.
Yang datar dan mengandung harapan serta doa misalnya disampaikan Ketua MUI Kendal KH. Asro'i Thohir, "Semoga Ranting NU-nya tambah maju". Ketua PRNU Damarjati Sukorejo, Majdi Arrosyid juga demikian, "Nah niki sae, Ketua Ranting NU kui sing profesor wae, ngaen sip NU ne".
Sedangkan tanggapan yang mengajak berpikir dengan cara baca yang berbeda disampaikan Prof. Hirin (Mujahirin Thohir yang juga adik kandung Kiai Asro'i Thohir). Prof. Hirin, begitu beliau akrab disapa, mengomentari, "Cara bacanya: untuk jadi Ketua Ranting NU saja butuh profesor."
Menanggapi komentar Prof. Hirin, Aktivis NU Weleri, Irhamni Sabil juga berkomentar, "Keren sih, Yi. Cara baca profesor dengan netizen awam memang beda. Seperti halnya redaksi: Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun. Cara baca profesor: Belanda butuh 350 tahun untuk menjajah Indonesia dan hasilnya gagal. Ini yang pernah diajarkan senior saya Mbakyu Shuniyya Ruhama”, lanjutnya.
Wakil Ketua PC Lazisnu Kendal, H. Machrus Ali juga ikut berkomentar, "Bukan cara berpikir profesor, tapi poin apa yang akan didapat".
Ketua MWC NU Boja, Kasan Asy'ari punya tanggapan berbeda: " Tidak butuh, namun itu menurut saya lebih pada mengembalikan spirit jam'iyah ini, dimana niatnya adalah berkhidmah. Dalam khidmah tidak penting menjadi apa dalam posisi apa? Yang penting adalah apa yang bisa dilakukan atau kontribusinya. Menurut saya, Ranting itu yang paling urgen dalam.sebuah organisasi. Karena yang punya jamaah itu Ranting. Tanpa Ranting tentu tidak ada artinya MWC, PC, PW maupun PBNU. Jarang lho seorang profesor tidak malu dan mau jadi ketua Ranting. Ini menurut saya yang super keren."
Bagi Nur Wahib yang juga Bendahara PCNU Kendal tidak masalah, "Siapapun ia, yang penting ada waktu untuk ngurus umat".
Senada dengan Kasan Asy'ari, Wakil Ketua PCNU Kendal, Ali Murtadlo juga berkomentar, "Setiap pembaca memiliki cara baca yang tidak selalu sama. Tapi satu tulisan pasti memiliki satu pesan atau misi tertentu.
“Pesan tulisan di atas adalah, bahwa khidmah itu lintas jabatan atau gelar (tidak identik dengan jabatan atau gelar). Dan khidmah memiliki kemuliaan tersendiri sebagaimana ketakwaan. Khidmah tidak butuh gelar atau jabatan tapi jabatan atau gelar (profesor sekalipun) tetap membutuhkan khidmah," tulisnya.
Itulah beberapa tanggapan para pembaca dengan cara baca masing-masing yang tentu saja tidak sama. Apapun komentarnya yang jelas kita kita perlu mengapresiasi dan meneladani, di tengah kesibukan Prof. Ali Masyhar yang luar biasa di dunia akademik namun masih mau menyisakan sedikit energinya untuk dimanfaatkan berkhidmah di NU meskipun ditingkat Ranting sekalipun. Semoga barakah Prof.

Penulis adalah Ketua MWC NU Sukorejo 2016-2021