Ketika Profesor Jadi Ketua Ranting NU


Oleh: Fahroji

Belum lama ini di grup WhatsApp beredar postingan tulisan yang mengisahkan seorang guru besar yang menjabat Ketua Ranting NU di Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Gunungpati, Semarang. Postingan itu sempat viral diteruskan berkali-kali karena memang memenuhi salah satu unsur syarat berita yaitu sesuatu yang unik dan tidak lazim.

Lazimnya seorang guru besar yang juga Kiai Haji biasanya ketika menduduki jabatan di Ormas keagamaan seperti NU akan berada di level PBNU, PWNU atau setidaknya tingkat PCNU. Namun tidak demikian dengan Prof. KH. Ali Masyhar.

Berikut saya kutipkan tulisan tersebut: “Sang Guru Besar; Ketua Ranting NU KH. Ali Masyhar Ketua Ranting NU (PRNU) Kalisegoro, Gunungpati, Semarang. Beliau adalah Guru Besar ke-110 Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Sebagai seorang akademisi yang telah mencapai derajat Guru Besar dirinya tidak canggung dan tidak merasa turun harga dirinya dalam berkhidmah, meski ketua NU pada level paling bawah atau akar rumput.

Menurutnya, Khidmah NU di akar rumput sangat terasa nikmatnya, setiap hari memberikan layanan dan dapat berinteraksi dengan warga sebagaimana orang tuanya dulu berkhidmah di NU.

#SALAM; KHIDMAH ITU MELAYANI UMAT”

Ada dua hal yang membuat saya salut dan kagum dari Sang Profesor. Pertama ketidak canggungannya menjadi ketua Ranting NU dengan kapasitasnya sebagai profesor.

Bagi Prof. Ali Masyhar barangkali berpandangan, di NU yang penting khidmatnya dan kemanfaatannya. Bukan jadi apanya. Karena di NU tidak jadi apapun masih bisa ikut ngurusi NU. Tentu dengan kapasitasnya masing-masing.

Kedua, Prof Ali Masyhar mengaku sangat menikmati berkhidmat di tingkat Ranting atau akar rumput, karena dengan demikian ia bisa setiap hari memberikan layanan dan dapat berinteraksi dengan warga.

Apa yang dilakukan Sang Profesor sebenarnya merupakan “Aksi Senyap” karena kegiatan di Ranting sering luput dari bidikan media. Namun demikian, membawa dampak besar karena kebesaran NU harus dimulai dari tingkat Ranting. Karena sehebat apapun program kerja yang dihasilkan dari permusyawaratan tertinggi semacam Muktamar, Konferwil maupun Konfercab akan sulit terealisasi tanpa ditopang Ranting yang kuat dan solid. Mega proyek RSNU Kendal misalnya, semestinya dimulai dari membangun Ranting yang kuat dan solid dulu sehingga tidak berlarut-larut puluhan tahun.

Keberhasilan beberapa Cabang NU dalam program Koin NU sudah pasti di dukung oleh kondisi Ranting NU yang solid tersebut. Menguatkan Ranting sebenarnya juga memuliakan umat. Oleh karenanya, saya sempat tertarik dengan tema Konfecab NU XVIII Batang “Bergerak Memuliakan Umat Memasuki Abad Kedua Nahdlatul Ulama” yang digelar di Kecamatan Bawang beberapa waktu lalu.

Yang terakhir saya ucapkan selamat kepada Prof. Ali Masyhar dan istrinya Mbak Maria Ulfa yang merupakan aktifis PC IPPNU Kendal era 90-an yang telah mendampingi sang suami. Karena dibalik suami yang sukses pasti berdiri istri yang kuat.


Penulis adalah Ketua MWC NU Sukorejo 2016-2021

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close