
Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH
Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang publik. Hingga kini, konflik tersebut tampak belum menemukan titik temu. Informasi mengenai hal ini pun telah menjadi konsumsi luas masyarakat, nyaris mustahil ditutup-tutupi di tengah era keterbukaan informasi dan derasnya arus media sosial.
Konflik ini mencuat pasca Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, mengumpulkan jajaran Syuriyah PBNU pada 20 November 2025 di Hotel Aston City, Jakarta. Dari total 53 pengurus Syuriyah, tercatat 37 orang hadir dalam rapat harian tersebut. Rapat itu kemudian melahirkan sebuah surat keputusan yang memuat lima butir penting.
Pertama, rapat menyoal keterlibatan Peter Berkowitz—yang dikenal sebagai tokoh Zionis Israel—dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional (AKN), sebuah program kaderisasi formal calon pengurus PBNU. Kehadiran tokoh tersebut, yang diundang oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, dinilai telah mencederai perasaan kaum Muslimin Indonesia, melanggar nilai dan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah, serta bertentangan dengan Qanun Asasi Nahdlatul Ulama.
Kedua, berdasarkan Pasal 8 huruf (a) Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama Nomor 13 Tahun 2025 tentang Pemberhentian Fungsionaris, tindakan tersebut dianggap mencemarkan wibawa dan nama baik organisasi, sehingga berimplikasi pada kemungkinan pemberhentian tidak hormat.
Ketiga, rapat juga menyoroti pengelolaan keuangan organisasi yang dinilai terindikasi melanggar hukum syara’, peraturan perundang-undangan, serta Pasal 97–99 Anggaran Rumah Tangga (ART) Perkumpulan NU. Kondisi ini dinilai berpotensi membahayakan eksistensi badan hukum NU.
Keempat, berdasarkan tiga pertimbangan tersebut, Rapat Harian Syuriyah menyerahkan keputusan akhir kepada Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam.
Kelima, hasil musyawarah kemudian memutuskan untuk mendesak Ketua Umum PBNU agar mengundurkan diri atau diberhentikan secara sepihak dalam jangka waktu tiga hari sejak surat diterbitkan.
Pasca terbitnya surat tersebut, dinamika PBNU kian kompleks. Setidaknya, jika merujuk pemberitaan media, PBNU kini terfragmentasi ke dalam empat kelompok. Pertama adalah kelompok yang kerap disebut sebagai “kubu Sultan”, yakni struktur bentukan KH Miftachul Akhyar yang mengangkat KH Zulfa Musthofa sebagai Penjabat Ketua Umum Tanfidziyah serta meresuffle Katib Aam dari KH Ahmad Said Asrori kepada Prof Dr Muhammad Nuh.
Kelompok kedua dikenal sebagai “kubu Kramat”—merujuk pada nama jalan kantor PBNU—yakni struktur bentukan KH Yahya Cholil Staquf yang merombak posisi Sekretaris Jenderal dari H Saifullah Yusuf kepada H Amin Said Husni.
Kelompok ketiga terdiri dari para mustasyar dan sesepuh NU yang menginginkan terjadinya ishlah atau perdamaian di antara pihak-pihak yang berkonflik. Kelompok ini dimotori oleh sejumlah tokoh, antara lain KH Anwar Mansur, KH Nurul Huda Jazuli, KH Ma’ruf Amin, KH Said Aqil Siradj, dr H Umar Wahid, serta KH R Moh Kholil As’ad Syamsul Arifin.
Adapun kelompok keempat adalah Forum Kiai NU Jawa yang dikoordinatori KH Faris Fuad Hasyim. Forum ini menolak legitimasi struktur PBNU dari kedua kubu dan mendesak penyelenggaraan Muktamar Luar Biasa (MLB) yang melibatkan seluruh unsur PWNU dan PCNU se-Indonesia. Forum ini juga menegaskan bahwa MLB tidak boleh diikuti oleh kedua kubu yang bertikai sebagai mandataris Muktamar Lampung. Bahkan, mereka mengancam akan mendirikan PBNU tandingan jika tuntutan tersebut tidak ditindaklanjuti dalam waktu tiga bulan.
Konflik yang kian menggelinding bak bola liar ini pun memancing beragam respons. Tak hanya dari pengurus struktural NU di berbagai tingkatan dan warga NU kultural, tetapi juga dari masyarakat luas yang sejatinya berada di luar lingkaran organisasi. NU seakan menjadi “etalase publik”, di mana setiap informasi tentangnya menjadi bahan komentar, ditawar, dan dihakimi—apakah dengan niat baik atau sekadar ikut gaduh.
Respons publik pun beragam. Ada yang membela Rais Aam, ada yang mendukung Ketua Umum untuk tetap bertahan, ada pula yang menyerukan ishlah. Namun tak sedikit pula yang terjebak pada komentar sinis, bahkan hujatan, dengan tuduhan bahwa konflik ini semata-mata konflik kepentingan elite NU.
Situasi ini tentu mengundang keprihatinan mendalam, terutama bagi warga Nahdliyin di akar rumput. Kita semua memiliki rasa hormat dan takzim kepada para masyayikh dan kiai. Kita mencintai Nahdlatul Ulama sebagai rumah besar bersama. Karena itu, kita tidak rela melihat panutan kita dihujat dan organisasi yang kita cintai terpecah belah.
Di titik inilah penting bagi kita untuk menahan diri. Salah ucap dan komentar yang berlebihan bisa menyeret kita pada ghibah dan fitnah. Terlebih, yang sedang berkonflik adalah para kiai dengan kapasitas keilmuan dan kedalaman pemahaman agama yang tentu jauh di atas kita.
Sejarah Islam memberi pelajaran berharga. Peristiwa Perang Jamal yang melibatkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah dan Sayyidah Aisyah Radhiyallahu Anha adalah contoh nyata fitnah besar yang menimpa generasi terbaik umat. Syekh Muhammad bin Abdullah al-Imam dalam Tamam al-Minnah fi Fiqh Qital al-Fitnah menjelaskan bahwa peristiwa tersebut adalah ujian. Karena itu, sebagaimana pesan Sahabat Sa’id al-Khudri, sikap terbaik adalah tidak berkomentar tanpa dasar dan menyerahkan urusan kepada Allah SWT.
Sebagai warga NU di akar rumput, peran kita adalah mendoakan agar konflik ini segera berakhir secara baik dan terhormat. Menahan diri dari komentar negatif, tidak menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, serta tetap berpegang pada etika keislaman.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” Maka, alih-alih larut dalam konflik elite yang belum tentu kita pahami utuh, lebih baik kita tetap fokus berkhidmah: menguatkan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah, menggerakkan kerja-kerja sosial, dan melayani masyarakat.
Umat lebih membutuhkan kehadiran dan perhatian kita daripada kegaduhan opini. Adapun konflik PBNU, biarlah menjadi wilayah ikhtiar para pihak yang berwenang. Kita yakini, dengan doa dan keikhlasan bersama, Allah SWT akan menjaga dan menolong Nahdlatul Ulama dari segala bentuk kehancuran.
Penulis adalah Kabag Produksi NUKO, Ketua Lakpesdam MWC NU Weleri dan PC MDS Rijalul Ansor Kendal