Khutbah Jumat: Hakikat Hidup Manusia

...

Oleh: Moh Muzakka Mussaif

Khutbah I

?????????? ???? ???????? ????????? ???? ???????? ????????????? ???????? ???????? ??????????????? ?????????? ??????????????? ???? ??????????? ???????????? ???????? ???? ??? ?????? ?????? ????? ???????? ??? ???????? ????? ?????????? ????? ?????????? ???????? ???????????? ???? ??? ??????? ????????. ??????????? ????? ????????? ????? ???????? ?????????????? ????????????????? ??????? ????? ?????????? ????????????? ????? ?????? 

????? ??????? ????? ??????????? ??????? ????????? ????? ?????? ????? ??????????????. ????? ????? ???????? ???? ????????? ??????????? ?????? ????? ??????????? ???????????. ??? ???????? ?????? ????? ????????? ????? ????? ????????? ????? ??????????? ?????? ?????????? ???????????? 

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Dalam kesempatan yang baik ini, marilah kita sejenak merenungkan jati diri kita, siapa sebenarnya kita, dari mana kita berasal dan ke mana nanti kembali. Merenung yang demikian ini sangat kita perlukan, sebab hal itu akan dapat mengendalikan hawa nafsu kita, mengarahkan pikiran dan hati kita, serta perilaku kita dalam kehidupan yang singkat ini.

Hadirin, kita adalah anak-anak Nabi Adam, penerus generasi Adam, dan melanjutkan perjuangan Nabi Adam untuk kembali ke surga. Sebab, dulu Nabi Adam dan Ibu Hawa adalah penghuni surga, karena bujuk rayu Iblis maka beliau tertipu sehingga melanggar peraturan Allah di surga. Karena tipu daya iblislah, Nabi Adam dan Hawa pun diturunkan ke bumi. Tak ketinggalan iblis dan setan pun diturunkan ke bumi. Meskipun tobat Nabi Adam diterima oleh Allah SWT, tetapi beliau dan keturunannya diberi ujian untuk menghadapi bujuk rayu setan sepanjang hidupnya di dunia. Bila selama hidupnya di dunia ini dapat mengalahkan bujuk rayu setan, maka otomatis mereka dapat kembali ke surga. Sebaliknya, jika mereka kalah dengan setan maka ia akan masuk neraka bersama setan dan iblis.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Kita adalah anak-anak Adam, keturunan Adam, yang tengah menjalani ujian kelayakan di dunia fana ini, mampukah kita kembali ke Taman Surga yang indah dan abadi atau malah tersesat di dalam neraka. Ini adalah tantangan sekaligus ujian berat bagi kita. Sebab, manusia diciptakan oleh Allah di muka bumi ini tidak lain adalah mengabdi kepada Allah SWT, menyembah pada Allah, dan mencari ridho Allah SWT. Hal itu ditegaskan Allah dalam QS. Adz-Dzariyat: 56.

????? ???????? ???????? ??????????? ?????? ?????????????

(Dan tidaklah Aku (Allah) menciptakan jin manusia kecuali untuk beribadah).

Jadi, sangat jelaslah hadirin, bahwa kita diberi kesempatan hidup di dunia ini untuk menghamba kepada dzat yang menciptakan kita, yakni Allah SWT, bukan menghamba pada makhluk-makhluk yang diciptakan-Nya. Apalagi menghamba kepada harta-benda atau pangkat jabatan. Sebab, semua yang ada di dunia ini bakal binasa. Allahlah yang kekal, yang menguasai kehidupan dunia dan  akhirat.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Kita diciptakan Allah di dunia fana ini  dalam waktu yang terbatas, pada saatnya nanti kita pasti akan kembali kepada Allah untuk menjalani kehidupan abadi. Oleh karena itu, mestinya target kita yang utama adalah bagaimana memperoleh kehidupan abadi kelak dengan selamat dan dapat berkumpul dengan nenek moyang kita Nabi Adam dan Hawa di taman surga. Maka kita harus berhati-hati dalam menjalani hidup di dunia fana ini. Allah SWT mengingatkan pada kita dalam Alquran surat Alqashash, 77

????????? ?????? ?????? ??????? ???????? ?????????? ? ????? ?????? ????????? ???? ?????????? ? ?????????? ????? ???????? ??????? ???????? ? ????? ?????? ?????????? ??? ????????? ? ????? ??????? ??? ??????? ??????????????

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu membuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dari ayat itu sangat jelas para hadirin, bahwa kita diperintah oleh Allah untuk mencari kebahagiaan negeri akhirat karena negeri itu adalah tempat yang sesungguhnya bagi bani Adam. Karena sekarang ini kita tengah hidup di dunia dalam waktu terbatas, maka kita juga diingatkan oleh Allah untuk mendapatkan kenikmatan di dunia ini secukupnya. Hal lain yang harus diperhatikan adalah selama kita tinggal di dunia ini kita diperintah untuk berbuat baik kepada sesama, dan dilarang membuat kerusakan di bumi.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Target utama kita memang untuk mendapatkan kemuliaan di akhirat. Namun, untuk mendapatkan kemuliaan itu bukan lantas sepanjang hari hidup itu, kita gunakan untuk melaksanakan sholat, berpuasa, berdoa,  dan berdzikir saja sehingga malas bekerja. Kita juga diingatkan Allah untuk mengambil hak kita di dunia, bahkan kita diperintah oleh Allah mengatur alam semesta dan isinya, termasuk mengatur sesama dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kita juga diperintah oleh Allah untuk bekerja guna menafkahi keluarga, mendidik keluarga, mengatur negara dan penduduknya, sehingga tercipta harmoni dunia atau menjadi rahmatan lil ‘alamin.

Hadirin, di satu sisi, Allah menciptakan dunia ini memang sangat indah. Di sisi lain Allah menciptakan manusia juga dilengkapi syahwat atau perasaan yang  menghadirkan kesenangan. Jadi, jika manusia itu melihat dan menikmati keindahan dunia, maka dia akan sangat senang, terhibur, mabuk, bahkan lupa daratan.

Manusia mana yang tidak suka harta yang banyak?. Manusia mana yang tidak suka aneka perhiasan indah dan mahal?. Manusia mana yang tidak suka pada rumah mewah, sawah dan tanah yang luas, dan mobil yang mewah?. Manusia mana yang tidak suka pada pangkat dan jabatan tinggi?. Manusia mana yang tidak suka pada perempuan-perempuan cantik dan anak-anak yang tampan dan cerdas?. Pada umumnya manusia akan menjawab tidak ada. Mengapa demikian, karena manusia diciptakan oleh Allah dihiasi dengan syahwat. Hal ini tentu berbeda dengan malaikat. Karena Malaikat tidak dilengkapi syahwat, maka mereka tidak tertarik sedikitpun terhadap keindahan dunia ini. Mereka hanya bersujud dan menyembah saja kepada Allah.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Allah memang menghiasi manusia dengan rasa suka terhadap hal-hal yang bersifat materi untuk dinikmati dan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya di dunia. Namun, Allah juga mengingatkan kepada manusia agar tidak tertipu oleh keindahan material dunia ini, sebab mereka tidak akan kekal di dunia ini. Dalam waktu yang singkat manusia pun harus kembali pada Allah untuk dimintai pertanggungjawabannya. Hal demikian ini dijelaskan Allah dalam Alquran Surat Ali Imron, 14:

??????? ????????? ????? ???????????? ???? ?????????? ???????????? ??????????????? ??????????????? ???? ????????? ???????????? ??????????? ?????????????? ?????????????? ??????????? ? ??????? ??????? ?????????? ?????????? ? ????????? ???????? ?????? ????????

Artinya: Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, dan harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).

Dari ayat tadi sangat jelas para hadirin, bahwa kesenangan duniawi adalah kesenangan semu, kesenangan yang terbatas. Begitu juga keindahan dunia juga keindahan semu dan terbatas. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini dan  menikmati fasilitas dunia yang disediakan oleh Allah. Jangan sampai tertipu oleh dunia fana ini sehingga melupakan Allah. Sebab Allah mengingatkan kita bahwa keindahan dunia ini tidak lain adalah kesenangan yang penuh tipu daya. Allah berfirman dalam Alquran surat Al-Hadid 20,

????? ?????????? ?????????? ?????? ??????? ??????????

Artinya: Dan kehidupan di dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Lantas bagaimana, cara kita untuk menikmati fasilitas dunia yang menyenangkan ini agar kita tidak tertipu oleh indahnya dunia serta tidak terjerumus oleh syahwat kita. Kuncinya kita harus dzikrullah, ingat kepada Allah kapanpun dan dimanapun kita berada. Dengan cara begitu kita pasti akan ingat pula akan jati diri kita dan tugas kita yang sebenarnya. Di samping itu, kita juga harus mampu menjadikan hal-hal yang semu dan sementara itu menjadi barang-barang kekal. Harta dan anak-anak yang kita miliki dan kita kuasai di dunia ini adalah bernilai semu; pangkat, jabatan, dan kedudukan juga bernilai semu. Hal yang semu ini akan mudah menipu dan menjerumuskan pemiliknya di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, jika kita tidak mampu menjadikan yang semu itu bernilai kekal, maka kita akan rugi besar, bahkan malah bisa celaka karenanya.

Hadirin, untuk menjadikan harta kita bernilai kekal syarat utamanya adalah harta itu diperoleh dengan cara yang halal. Kemudian harta itu digunakan untuk hal-hal yang diridhoi Allah seperti menafkahi keluarga, membiayai pendidikan anak-anak, dan fasilitas lainnya. Sebagian yang lain diprioritaskan untuk beribadah wajib yakni untuk pergi haji dan berzakat. Dan sisanya, dapat digunakan untuk amal jariah, bersedekah, membantu sesama, menyantuni fakir-miskin, dan sebagainya. Anak-anak kita juga semu dan sementara. Oleh karena itu, kita harus dapat menjadikan mereka menjadi kekal. Mereka harus kita didik sebaik-baiknya, kita bekali mereka dengan ilmu agama yang cukup di samping kita bekali ilmu-ilmu dunia. Dari usaha yang demikian ini, insya Allah mereka akan menjadi anak yang sholih. Dan anak sholih ini termasuk  hal-hal yang bernilai kekal.

Hadirin rahimakumullah,

Pangkat, jabatan, dan kedudukan adalah sementara. Bila tidak berhati-hati hal itu akan mencelakakan pemiliknya baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, bagi yang memiliki pangkat, jabatan, dan kedudukan serendah dan setinggi apapun, hal itu adalah amanah yang harus dijalankan untuk kepentingan masyarakat bukan untuk diri sendiri. Bila kita amanah dalam mengemban jabatan itu, yakni bekerja dengan benar, adil, dan jujur untuk melayani masyarakat, insya Allah akan bernilai kekal. Namun, jika kita tidak dapat bekerja dengan benar, adil, dan jujur,  tidak mengedepan kepentingan umum, terlebih menzalimi masyarakat maka semua itu akan mencelakakan sang pemiliknya.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Dari uraian singkat tadi, saya mengajak diri saya sendiri juga hadirin untuk berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini sebab kehidupan dunia ini adalah kehidupan semu yang menipu. Oleh karena itu agar kita tidak tertipu, kita harus menjadikan apa-apa yang kita miliki di dunia ini menjadi hal atau benda-benda yang bernilai kekal dan berorientasi akhirat. Allah berfirman dalam Alquran surat Alkahfi, ayat 46

???????? ???????????? ??????? ?????????? ?????????? ? ??????????????? ????????????? ?????? ?????? ??????? ???????? ???????? ???????

Artinya: Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi sholih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik menjadi harapan.

Demikian khotbah singkat ini saya sampaikan semoga ada manfaatnnya.

???? ???? ?? ???? ?? ?????? ??????? ?????? ?????? ??? ??? ?? ?????? ?????? ??????. ??? ?? ???? ?????? ?????? ??????. ???? ????? ?? ?????? ??????? ??? ???? ?????? ??????? ??????????? (?) ????? ???????????? ????? ?????? (?) ?????? ????????? ??????? ?????????? ????????????? ???????????? ?????????? ???????????? ??????????? (?) ?

??? ?? ???? ????? ???? ???? ????????

Khutbah II

????? ???? ????? ??????????? ??????????? ???? ????? ???????????? ???????????????. ?????????? ???? ??? ?????? ?????? ????? ??????? ???????? ??? ???????? ???? ?????????? ???? ?????????? ?????????? ???????? ???????????? ????????? ???? ???????????. ???????? ????? ????? ?????????? ????????? ??????? ?????? ????????????? ????????? ??????????? ????????

?????? ?????? ????? ???????? ???????? ????????? ????? ??????? ?????? ???????????? ?????? ????? ???????????? ????? ????? ?????????? ???????? ?????? ?????? ?????????? ???????? ?????? ???????? ?????????? ??????? ???????? ????? ????? ?????????????? ??????????? ????? ???????? ?? ???????? ?????????? ???????? ???????? ???????? ???????????? ???????????. ???????? ????? ????? ?????????? ????????? ?????? ????? ???????? ????????? ??????? ??? ?????????? ????????? ??????? ???????????? ?????????? ???????????? ???????????????? ??????? ????????? ???? ???????????? ?????????????? ????? ?????? ??????? ?????????? ??????? ?????? ????????? ???????????? ???????????????? ?????????? ?????????????? ?????? ??????????? ??????????? ????????? ??????? ?????? ???????? ???????????? ??? ???????? ??????????????

????????? ??????? ???????????????? ???????????????? ????????????????? ???????????????? ??????????? ???????? ?????????????? ???????? ??????? ???????????? ????????????????? ????????? ????????? ????????????????? ????????? ????????? ????????????????? ????????? ???? ?????? ????????? ????????? ???? ?????? ??????????????? ?? ??????? ????????? ????????? ??????? ??????????? ????? ?????? ?????????. ???????? ??????? ?????? ?????????? ???????????? ?????????????? ??????????? ???????? ??????????? ??????????? ??? ?????? ??????? ????? ?????? ???? ????????? ????????????????? ??????? ????????? ???????????? ??????????????? ??????? ??? ????? ??????????????. ???????? ?????? ???? ?????????? ???????? ?????? ?????????? ???????? ??????? ??????? ????????. ???????? ????????? ??????????? ?????? ???? ???????? ????? ????????????? ????????????? ???? ??????????????. ???????????? ! ????? ????? ??????????? ??????????? ?????????????? ?????????? ??? ?????????? ????????? ???? ??????????? ????????????? ?????????? ?????????? ??????????? ????????????? ??????????? ????? ??????????? ???????????? ????????????? ????? ???????? ?????????? ?????????? ????? ????????

Informasi Keislaman Lainnya

Ngaji Haid

Oleh: M. Adib Shofwan 1. Pengertian Haid Haid atau haidl yaitu darah yang dikeluarkan seorang wanita dari urat (otot) pangkal rahim secara...

Tafsir Surat An-Nasr

 Oleh: M. Adib Sofwan Surat An-Nasr termasuk golongan Madaniyah, atau Surat yang turun di kota Madinah. Jumlah ayatnya sebanyak tiga dan...

Kisah Nabi Ibrahim as, Perjumpaan Sang Kekasih...

Oleh: M. Adib Shofwan Sebuah kisah, ketika Nabi Ibrahim as duduk sendirian, datanglah seorang tamu serupa laki-laki. Usai berucap dan berjawab...

Keutamaan Air Zamzam

??? ?????? ?? ?????? ???? ?? ????? ????? ???? ??? ???? ?? ???????? ??? ???? ??? ?????? ?? ?????? Hendaklah ia memperbanyak salat di Al-Hijir,...

Tiga Cara Membangun Cinta pada Nabi Muhammad SAW

Oleh: M. Adib Shofwan Kecintaan kita pada Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu hal yang wajib kita pupuk dan kembangkan guna kesempurnaan...

Advertisement

Press ESC to close