Oleh: M. Adib Shofwan
Sebuah kisah, ketika Nabi Ibrahim as duduk sendirian, datanglah seorang tamu serupa laki-laki. Usai berucap dan berjawab salam antara keduanya, Nabi Ibrahim as pun mempersilakannya duduk.
Setelah duduk dengan tenang, dihidangkanlah minuman dan makanan sebagai penghormatan pada tamu. Nabi Ibrahim as mempersilakannya untuk makan dan minum, namun tamunya tidak berkenan. Sang tamu kemudian menghaturkan maksudnya,
“Wahai Nabiyullah Ibrahim, Aku adalah Malaikat Izrail Sang Pencabut Nyawa. Aku diutus Tuhanmu untuk mencabut nyawamu. Maka berkenankah Engkau menerima titah ini,“ kata si lelaki.
Setelah mendengar maksud dan tujuan tamunya, Nabi Ibrahim kholilulloh terdiam sejenak, lalu beliau menjawab, “Wahai malaikat utusan Allah Dzat Sang Maha Pecinta, tolong matur pada Allah, Aku ini Ibrahim Kholilullah Sang Kekasih Allah, dan Allah adalah Dzat Yang mencintai pada kekasih-Nya, lalu adakah Sang Pecinta membunuh kekasihnya?“.
Mendengar jawaban Nabi Ibrahim as, Malaikat Izrail seketika terdiam, lalu berpamit pulang untuk mengadukannya pada Allah SWT. Mendapat laporan dari Malaikat Izrail, Allah berfirman, “Sampaiakan pada Kholilullah Nabi Ibrahim. Adakah seorang kekasih tidak ingin bertemu dengan Sang Pecintanya?”.
Malaikat Izrail lantas turun ke bumi menemui kembali Nabi Ibrahim as, lalu meyampaikan titah Allah, “Adakah seorang kekasih tidak ingin bertemu dengan Sang Pecintanya?”, tuturnya.
Setelah mendengar titah Allah tersebut, Nabi Ibrahim as kemudian menjawab, ”Wahai malaikat, silakan melaksanakan tugasmu mencabut nyawaku”.
Cinta Nabi Ibrahim as pada Allah Azza wa Jalla telah dimurnikan dengan mengorbankan semua demi Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika kematian adalah perjumpaan antara Sang Kekasih dengan Sang Pecinta, maka betapa indahnya perjumpaan itu.
Penulis adalah Pengasuh Pondok Al-Amin Kebonharjo Patebon dan Kabag Pemberitaan dan Artikel NUKO