Oleh: Muhammad Umar Said
Dikisahkan dalam kitab Iqadhul Himam (????? ?????) karya Syeikh Ibnu Ajibah, "Banyak cara yang dilakukan oleh para ahli tasawuf untuk berusaha tidak terkenal (khumul). Bahkan ia tidak ingin agar dikenal orang-orang di sekitarnya sebagai ahli ibadah, ahli ilmu dan ahli kebaikan. Sebagaimana dilakukan oleh Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali yang jadi tukang panggul kulit sapi, tukang sapu di pasar dan menyediakan air minum untuk minuman bagi orang yang memerlukan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Sayyid Abdurrahman Al-majdzub. Ia memakan buah tin di depan banyak orang, menyanyi di pasar-pasar sambil mengitari pasar berulangkali dan lain sebagainya".
Hal yang dapat diambil dari kisah di atas, agar seseorang bisa makrifat kepada Allah hingga Allah memberikan karamah. Ada beberapa syarat yang harus dilakukan oleh para ahli tasawuf. Di antaranya, nafsunya harus ditenggelamkan sedalam-dalamnya dan serendah-rendahnya, sehingga seseorang tidak memiliki kekuatan dan kemampuan apa pun kecuali seijin Allah.
Dan seseorang yang melakukan khumul berarti seseorang telah memiliki sifat tawadhu yang sebenar-benarnya. Hatinya benar-benar ikhlas mengabdi kepada Allah, tidak berharap pujian, ketenaran, apalagi kekuasaan. Jadi yang dimaksud "khumul" bukan orang yang berpakaian compang-camping, kumuh, miskin, tapi juga bukan mereka yang berpakaian jas, peci, sarung yang mahal. Akan tetapi bisa juga berpakaian seperti keduanya, namun hatinya terbalut rasa ikhlas dalam melakukan apapun.
Ngaji Tasawuf bareng KH. Mohammad Danial Royyan