Oleh: Muhammad Umar Said
Diceritakan dalam kitab Iqadhul Himam (????? ?????) syarah kitab Hikam, bahwa ada seorang murid yang belajar kepada Syaikh Abu Yazid al-Busthami selama 30 tahun.
Suatu ketika murid itu bertanya kepada Syaikh Abu Yazid, "Wahai guru, aku sudah 30 tahun bersamamu. Menjalankan puasa dan shalat malam tidak pernah aku lewatkan sedikit pun. Dan aku juga telah meninggalkan segala keinginan syahwat duniawi. Tetapi mengapa belum aku temukan dalam hatiku sedikitpun dari apa yang telah engkau ajarkan kepadaku?" .
Lalu Syaikh Abu Yazid berkata, "Meskipun kamu shalat selama tiga ratus tahunpun, kamu tidak akan menemukan sesuatu apapun dalam hatimu, selama masih ada hijab (nafsu) yang menghalangi hatimu untuk makrifat kepada Allah".
Murid itu bertanya lagi, "Wahai guru, lalu bagaimana cara aku menghilangkan hijab itu?"
Syaikh menjawab, "Pergilah kamu ke suatu tempat, hingga orang tidak mengenal lagi siapa dirimu!". Kemana itu wahai guru?, "Pergilah kamu ke suatu tempat, cukurlah rambutmu, jenggotmu, lepaslah baju kebesaranmu, dan kalungkan kantong berisi permen di lehermu, lalu berkumpullah dengan anak-anak kecil sambil menawarkan permen itu kepada mereka, dan lakukan itu beberapa kali hingga kamu merasa terhina dan tidak ada artinya di depan orang-orang yang melihatmu, dan kamu telah benar-benar bisa melepas baju kebesaran, pangkat, jabatan yang melekat pada dirimu, serta dirimu telah benar-benar jatuh pada tempat yang paling rendah. Maka setelah itu semua kamu lakukan, hijab yang menutupi hatimu akan terbuka, dan kamu akan benar-benar makrifat kepada Allah".
Berdasarkan kisah di atas, meskipun kita menyandang beberapa kenikmatan berupa harta, pangkat dan jabatan, kita tidak boleh sombong dan angkuh kepada siapapun. Rendahkan diri kita serendah-rendahnya hingga ujub dan kesombongan yang menempel pada diri kita sudah benar-benar hilang. Sebab membanggakan diri, kesombongan dan keangkuhan itulah yang membuat hati kita tertutup oleh hijab, sehingga hati kita semakin jauh dari hidayah dan Rahmat Allah.
(Ngaji bersama KH. Mohammad Danial Royyan)