Oleh: Muhammad Umar Sa'idAllah SWT memiliki beberapa cara untuk memberikan hidayah-Nya kepada manusia, yaitu dengan cara memberikan banyak perumpamaan-perumpaman (???????) dari makhluk ciptaan-Nya, agar manusia mengambil pelajaran ( ibroh) dan mau berpikir kritis terhadap ciptaan-Nya itu agar bertambah keimanan dan rasa syukurnya kepada Al-Khaliq. Di dalam Al-Quran ada tiga binatang kecil yang diabadikan oleh Allah swt. menjadi nama surah, yaitu Al-Naml (semut), Al-Ankabut (laba-laba), dan Al-Nahl (lebah). Ketiga binatang ini masing-masing memiliki karakter dan sifat yang berbeda sebagaimana digambarkan oleh Al-Quran. Dan hal tersebut patut dijadikan pelajaran oleh manusia. Semut memiliki sifat suka menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa henti-hentinya. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun, sedangkan usianya tidak lebih dari satu tahun. Ambisinya sedemikian besar sehingga ia berusaha memikul sesuatu yang lebih besar dari badannya, meskipun sesuatu itu tidak berguna baginya. Lain halnya dengan laba-laba, seperti digambarkan dalam Al-Quran bahwa sarang laba-laba adalah merupakan tempat yang paling rapuh. Sebagaimana firman-Nya :
??? ????? ?????? ?? ??? ???? ?????? ???? ???????? ????? ???? ??? ???? ?????? ???? ???????? ?? ????? ??????
” Perumpamaan orang-orang yang menjadikan selain Allah para pemimpin, yang demikian itu adalah seperti seekor laba-laba yang membuat rumah, dan sesungguhnya selemah-lemah rumah adalah rumah laba- laba, meskipun mereka mengetahui. (Al-Ankabut : 41). Rumah laba-laba bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana pasti akan disergapnya hingga tewas. Jangankan serangga yang tidak sejenis, jantannyapun setelah selesai berhubungan disergapnya untuk dimusnahkan oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Ayat di atas memberikan gambaran bahwa di dalam masyarakat, rumah tangga, ataupun organisasi yang keadaannya seperti laba-laba, maka kondisinya lemah, rapuh, anggotanya saling tindih-menindih, sikut menyikut, saling menyakiti satu sama lain laksana anak laba-laba yang baru lahir. Kehidupan ayah, ibu dan anak-anak tidak harmonis, antara pimpinan dan bawahan saling curiga, sehingga mengakibatkan perasaan tidak tenang. Dalam kondisi yang seperti itu, rumah tangga maupun perkumpulan apa pun namanya tidak akan mencapai tujuan yang ingin dicapai, sehingga ibarat sebuah kapal yang berlabuh di samudera luas akan karam ketika tertimpa badai. Berbeda lagi dengan lebah, ia memiliki insting sangat tinggi. Allah menggambarkan seekor lebah sebagaimana firman-Nya :????? ??? ??? ????? ?? ????? ?? ?????? ????? ??? ????? ???? ??????. ?? ??? ?? ?? ??????? ?????? ??? ??? ???? ???? ?? ?????? ???? ????? ?????? ??? ???? ????? ?? ?? ???? ???? ???? ???????
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan tempat-tempat yang dibuat manusia”. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuh jalan Tuhanmu yang dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir. (An-Nahl: 68-69). Sarang lebah dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar tidak terjadi pemborosan dalam lokasi. Yang dimakan adalah kembang-kembang, tidak seperti semut yang menumpuk- menumpuk makanannya, lebah mengolah makanannya dan hasil olahannya itulah menjadi lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi manusia untuk dijadikan sebagai penerang dan obat. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja dan segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Ia tidak menggangu yang lainnya kecuali yang mengganggunya, bahkan kalaupun menyakiti (menyengat) sengatannya dapat menjadi obat. Oleh karenanya, wajar saja jika nabi Muhammad SAW mengibaratkan orang mukmin yang baik seperti lebah, sebagaimana dalam sabdanya :??? ???? ???? ??? ???? ???? ???? : ??? ?????? ??? ?????? ?? ???? ??? ???? ??? ??? ??? ???? ??? ???? ?? ?? ?? ???? (???? ??? ????)
“Rasulullah saw bersabda : Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti lebah, ia tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang baik, dan bila di tempatkan pada suatu tempat tidak merusak”. Kesimpulan :- Hendaknya setiap mukmin tidak meniru sifat semut : suka mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, meskipun harta tersebut tidak bermanfaat apa-apa, tidak pernah merasa cukup dan berambisi menumpuk pundi-pundi tanpa memperhatikan kondisi kekuatan dan umurnya;
- Hendaklah juga tidak meniru sifat laba-laba, bekerja keras mencari rejeki. Setelah rejeki dia dapatkan, ia tidak suka berbagi, rejeki hanya untuk dirinya sendiri. Bahkan jika ada teman yang akan mendekati, tidak segan-segan ia menyakiti/membunuh. Orang yang memiliki sifat seperti laba-laba ini tidak baik menjadi seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang memiliki sifat laba-laba, ia akan berbuat semena-mena guna mewujudkan keinginannya yang akan dicapai;
- Hendaknya jadi seperti lebah. Sifat lebah : bekerja untuk kebaikan, yaitu membuat madu, lilin, dan royal jelly yang bermanfaat untuk kesehatan, saling tolong- menolong, lebah makan hanya makanan yang baik, bersih dan halal, dan memiliki solidaritasi tinggi dan senang jika menolong serta membela teman yang teraniaya, bahkan sengatannyapun jadi obat. Apapun yang dilakukan oleh lebah dapat memberikan manfaat bagi sesama.