Oleh: M. Umar Said
Riya, berasal dari Bahasa Arab yang berarti “memperlihatkan” (memperlihatkan diri kepada orang lain), atau dalam Bahasa Jawa disebut dengan ungkapan “Pamer”. Maksudnya beramal bukan karena Allah, melainkan karena manusia. Orang riya’ beramal bukan atas dasar ikhlas, melainkan agar mendapat sanjungan dan pujian dari orang lain. Karena itu orang riya’ rajin beramal, beribadah, dan bekerja apabila ada orang yang melihatnya dan mau memujinya. Apabila tidak ada yang melihatnya atau tidak ada orang yang memujinya, ia bersifat malas. Riya’ merupakan salah satu penyakit hati, yang pelakunya bisa dikategorikan telah melakukan syirk asghar (syirk kecil). Penyakit riya’ ini sangat berbahaya dan bisa menimpa siapa saja, baik kalangan orang berilmu (‘alim), ‘abid’ (ahli ibadah), aghniya’ (orang-orang kaya) maupun orang awam. Orang yang riya’ akan merugi dan kecewa besok di akherat, sebab yang selama ini ia menganggap dirinya sebagai orang yang alim, dermawan, ahli ibadah ternyata amal ibadahnya ditolak oleh Allah swt. lantaran apa yang ia lakukan selama hidup di dunia bukan karena mengharap ridha dari Allah swt. tetapi karena ingin dipuji oleh manusia.
Riya’ erat hubungannya dengan takabbur (sombong). Orang yang riya’ dapat menjadi takabbur dan dapat menjadi riya’. Kedua sifat sombong dan riya’ tersebut sama-sama bahayanya bagi manusia. Ada beberapa macam riya’ antara lain:
- Riya’ dalam niat, yaitu memberikan sesuatu pada orang lain bukan karena dengan niat yang ikhlas, tetapi ingin dipuji orang. Orang yang bersedekah karena riya tidak akan mendapat pahala. Sama dengan orang yang menyebut sedekahnya dan menyakiti perasaan orang yang menerimanya (Q.S. Al-Baqarah: 264). Orang yang memperlihatkan kepandaiannya atau ilmunya kepada orang lain, agar supaya dianggap orang yang paling hebat/pintar dibanding dengan orang lain juga termasuk riya’. Demikian juga orang yang menceritakan hal ihwal ibadahnya kepada orang lain. Contohnya ia menceritakan tentang shalat tahajjud-nya, bacaan qur’annya, puasanya, sedekahnya disertai perasaan dalam hati, “ah orang lain kok nggak bisa seperti saya”. Orang yang demikian itu dikategorikan sebagai orang yang tidak ikhlas alias pamer.
- Riya’ dalam Beribadah
Seseorang mau melaksanakan shalat, membaca al-Qur’an bila ada yang melihatnya, tetapi bila tidak ada yang melihat, maka ia enggan beribadah. Seorang santri mau shalat berjamaah bila dilihat kiainya, seseorang pergi haji /umroh agar dianggap orang kaya, seseorang mau pergi mengaji karena ada yang memperhatikannya, dan lain sebagainya. Riya’ dalam beribadah ini sering tidak dirasa oleh seseorang yang akan menjalankan ibadah, karena saking pandainya Iblis dalam menggoda seseorang, agar ibadahnya ditolak oleh Allah swt. dan menjadi temannya kelak di neraka.
- Riya’ dalam Perbuatan
Orang yang riya’ dalam perbuatan biasanya bersikap sombong dan angkuh, seolah-olah hanya ia sendiri yang paling cakap, penting dan dibutuhkan dalam masyarakat. (Q.S. Al-Anfaal:47). Kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh seseorang seringkali menjadikan seseorang khilaf dan lupa, akibatnya kesuksesan yang diperolehnya seolah-olah hasil dari kepandaian dan keringatnya sendiri.
Berdasarkan uraian di atas, hikmah yang bisa diambil adalah setiap ber-aktivitas hendaklah seseorang meng-itsbat-kan niatnya hanya karena Allah bukan untuk yang lain, aktivitas itu baik berupa hal yang menyangkut ibadah maupun aktivitas lain seperti pekerjaan atau pun yang berdimensi sosial. Sebab jika niat seseorang dalam ber-aktivitas lebih-lebih dalam beribadah niatnya bukan karena Allah, tetapi hanya ingin mendapat sanjungan dan pujian orang lain, maka jelas amal ibadah seseorang itu akan ditolak oleh Allah. Mari renungkan secara mendalam! Betapa banyak amal ibadah seseorang yang tidak diterima oleh Allah kelak besok di akherat, karena penyakit riya’. Meskipun seseorang mengaku di hadapan Allah sebagai ahli ibadah, ahli tahajjud, ahli puasa sunnah, ahli dakwah tetap saja amal ibadahnya ditolak oleh Allah, karena ternyata amal ibadah yang dilakukan selama hidup di dunia bukan karena-Nya tetapi karena makhluk. Persoalan amal ibadah memang urusan seorang makhluk dengan Sang Khaliq. Sudah sepantasnya persoalan amal ibadah tidak perlu di perlihatkan, perdengarkan apalagi diceritakan kepada orang lain, sebab pada hakekatnya orang lain tersebut tidak akan pernah memberikan manfaat apa-apa ketika berhadapan dengan Pengadilan Allah kelak di akherat. Biarlah amal ibadah seseorang dinilai sendiri oleh Allah tanpa harus diketahui orang lain. Di pendam dalam-dalam jangan sampai diketahui oleh siapa pun. Memang diakui betapa beratnya menjaga keihklasan niat, sebab bagaimana pun Iblis lebih pandai dalam menggoda dan menggelincirkan seseorang agar berpaling untuk beribadah kepada selain kepada Allah, dan itu dimulai dari niat yang paling dalam yang ada dalam hati. Iblis tidak segan-segan menggoda kepada siapa pun, apakah dia orang alim, orang ahli ibadah, ahli puasa, dan sedekah. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap tipu daya iblis yang menyesatkan. Bagi teman-teman yang suka posting anjuran untuk shalat malam, puasa sunnah dan lain-lain berhati-hatilah. Memang menganjurkan tentang kebaikan itu baik, tetapi jika ada perasaan dalam hati kecil, misalnya “ini lho… saya pandai ngaji, saya rajin shalat malam, rajin baca Qur’an, rajin berpuasa, wah teman-teman kok nggak bisa seperti saya”, maka sesungguhnya kita sudah termakan oleh tipu daya Iblis, dan kita telah kena penyakit “Riya’”(Pamer). Allahu a’lam bil -ashawab.