
Oleh: Muhammad Ataka
Ilmu adalah anugerah besar yang hanya dapat diraih dengan kesadaran. Berkat ilmu, manusia mampu menyingkap hal-hal baru yang sebelumnya tidak ia ketahui. Dengan ilmu pula manusia bisa bertahan hidup, memperbaiki peradaban, bahkan mengangkat derajatnya menuju kemuliaan.
Meski begitu, ilmu bersifat abstrak—tak bisa disentuh, tetapi dapat dirasakan manfaatnya. Karena itu, ia membutuhkan wadah agar tetap hidup dan terus diwariskan. Wadah itu tak lain adalah akal manusia, tempat ilmu bersemayam dan berkembang.
Di antara manusia, ulama adalah sosok paling tepat menjadi penjaga ilmu, khususnya ilmu agama. Mereka bukan hanya menyimpan, tetapi juga dengan ikhlas menyebarkan ilmu kepada siapa pun tanpa pamrih. Namun, bagaimana jadinya bila ulama—sebagai tempat bersandar ilmu—hilang satu per satu?
Peringatan Nabi tentang Hilangnya Ilmu
Sejak berabad-abad silam, Rasulullah saw telah mengingatkan umatnya tentang fenomena ini. Dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari beliau bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِنَّ الله لا يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعَاً يَنْتَزِعُهُ من العِبادِ ولَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ حتَّى إذا لَمْ يُبْقِ عَالِمٌ اتَّخَذَ الناس رؤسَاً جُهَّالاً ، فَسُئِلوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا-البخاري
Artinya : Rasulullah saw berkata “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulamapun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.“ (HR Bukhari)
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud “ilmu” dalam hadis ini adalah ilmu agama: Al-Qur’an, hadis, dan segala hal yang terkait dengannya. Imam Nuruddin al-Mulla al-Harawi al-Qari menegaskan dalam Mirqat al-Mafatih bahwa yang dimaksud bukanlah ilmu duniawi, melainkan ilmu wahyu yang menjadi cahaya kehidupan.
الْمُرَادُ بِهِ عِلْمُ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهَا
Dari hadis di atas Nabi Muhammad saw menjelaskan, Allah swt tidak akan mengangkat ilmu secara langsung. Akan tetapi Allah akan mengambil ilmu beserta dengan pemiliknya yakni para ulama. Lalu disisakan orang-orang yang kurang menguasai ilmu agama sehingga dijadikan rujukan. Akibatnya, mereka memberi jawaban tanpa dasar ilmu yang benar, sehingga bukan hanya sesat tetapi juga menyesatkan.
Ilmu, Ulama, dan Tanda-Tanda Akhir Zaman
Rasulullah saw juga mengaitkan hilangnya ilmu dengan tanda-tanda hari kiamat. Dalam riwayat Anas bin Malik, beliau bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : لَأُحَدِّثَنَّكُمْ حَدِيثًا لاَ يُحَدِّثُكُمْ أَحَدٌ بَعْدِي ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ : أَنْ يَقِلَّ العِلْمُ ، وَيَظْهَرَ الجَهْلُ ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا ، وَتَكْثُرَ النِّسَاءُ ، وَيَقِلَّ الرِّجَالُ ، حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً القَيِّمُ الوَاحِد
Artinya: dari Anas bin Malik berkata: Aku tidak akan menyampaikan kepada kalian hadis yang tidak akan ada lagi yang menyampaikan hadis ini kepada kalian oleh seseorang setelahku. Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah sedikitnya ilmu dan merebaknya kebodohan, perzinahan secara terang terangan, jumlah perempuan yang lebih banyak dan sedikitnya laki-laki, sampai-sampai (perbandingannya) lima puluh perempuan hanya diurus oleh satu orang laki-laki.”
Menjaga Ilmu, Menjaga Peradaban
Ilmu tidak akan bermanfaat bila tidak ada manusia yang menampung dan menghidupkannya. Karena itu, kita sebagai insan berakal memiliki tanggung jawab untuk mempelajari, menjaga, dan menyebarkan ilmu dengan cara yang baik, menarik, dan penuh hikmah.