
Oleh: M. Adib Shofwan
Hasud adalah sifat buruk dalam diri manusia, yaitu ketika seseorang tidak suka melihat saudaranya mendapatkan nikmat, bahkan berharap agar nikmat itu hilang. Singkatnya, hasud adalah ketidakrelaan atas rahmat dan karunia Allah SWT yang diberikan kepada orang lain.
Sifat hasud bagaikan bara api yang menyala dalam hati. Jika dibiarkan, api tersebut akan terus membakar hingga akhirnya menghancurkan jiwa kita sendiri. Karena itu, penting bagi kita untuk menyadari bahayanya dan segera mengendalikannya.
Bahaya Hasud
Hasud yang hanya tersimpan dalam hati “baru” termasuk maksiat kepada Allah SWT. Namun, ketika hasud diwujudkan dalam ucapan atau perbuatan, ia menjadi dosa yang lebih besar, karena tidak hanya maksiat kepada Allah, tetapi juga merugikan sesama manusia (haqqul adami).
Contohnya, ketika ada seseorang yang berbuat buruk kepada kita, secara naluri kita akan membencinya. Kemudian, saat orang itu mendapat nikmat dari Allah, hati kita ikut merasa tidak senang, bahkan terlintas keinginan agar nikmat itu hilang. Inilah hasud yang nyata, dan jelas hukumnya haram.
Bagaimana Cara Mengendalikannya?
Setiap manusia diberi akal dan hati oleh Allah untuk mengontrol diri. Ketika rasa tidak suka atas nikmat orang lain muncul, tahanlah! Jangan turuti, jangan ikuti. Tekan perasaan itu dan bencilah keberadaannya dalam hati, karena kita paham bahwa itu adalah dosa.
Gunakan akal untuk menasihati diri sendiri: nikmat yang dimiliki orang lain adalah pemberian Allah, dan Allah bebas menganugerahkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dengan kesadaran ini, kita melaksanakan kewajiban untuk menahan sifat hasud. Jika kita mampu meredamnya, maka bara itu akan padam, dan jiwa kita akan selamat.