
Oleh: Fina Mazida Husna
Bagi warga nahdliyin yang akrab dengan Maulid al-Diba’i, nama Ka‘ab bin al-Aḥbār tentu tak asing lagi. Dalam prosa al-Hadits ats-Tsani, namanya disebut dalam kisah yang menggugah: saat ia kecil, Ka‘ab heran karena ayahnya menyembunyikan satu lembar dari kitab Taurat. Ketika sang ayah wafat, ia pun membuka kotak rahasia itu—dan terkejut, karena lembaran tersebut berisi nubuat tentang seorang nabi akhir zaman yang lahir di Makkah dan akan berkuasa hingga negeri Syam.
Siapakah sebenarnya Ka‘ab bin al-Aḥbār hingga namanya terus disebut dalam karya agung Maulid ini?
Ka‘ab, yang bernama lengkap Abu Ishaq Ka‘ab bin Mani‘ al-Himyari, adalah seorang ulama Yahudi terkemuka dari Yaman. Keahliannya dalam Taurat membuatnya dikenal luas sebelum Islam datang. Ia bahkan beberapa kali menemui Rasulullah SAW karena penasaran dengan tanda-tanda kenabian. Namun, ia menahan diri untuk masuk Islam hingga ia benar-benar yakin bahwa Muhammad SAW adalah Nabi yang disebut dalam kitab sucinya.
Dalam al-Manba‘ li-Alfāẓ al-Dība‘ dikisahkan, Ka‘ab pernah berkata dalam hatinya, “Aku tak akan masuk agama ini sampai aku tahu bahwa merekalah kaum yang aku cari.” Ia ingin memastikan, bukan hanya ajarannya, tetapi juga akhlak umat Islam.
Menariknya, dalam tradisi Syiah, disebutkan bahwa Ka‘ab bahkan dapat memprediksi kematian Umar bin Khattab. Ia pernah memberi tahu sahabat Umar bahwa Umar akan wafat dalam tiga hari, dan menyebut sumbernya adalah Taurat. Umar tak langsung percaya, tetapi ramalan itu benar: tiga hari kemudian, Abu Lu’lu’ah menikam Umar saat shalat Subuh. Kisah ini menimbulkan berbagai tafsir dan polemik di kalangan para ulama dan sejarawan.
Namun, di balik semua itu, perjalanan spiritual Ka‘ab menuju Islam sangat menginspirasi. Ia baru memeluk Islam di tahun ke-17 Hijriah, pada masa kekhalifahan Umar. Konon, hatinya tersentuh saat mendengar lantunan ayat Al-Qur’an:
“Sebelum Kami menghapus wajah-wajah mereka lalu membalikkan ke belakang, atau melaknat mereka sebagaimana Kami melaknat orang-orang yang melanggar hari Sabtu.” (QS. An-Nisā’: 47)
Bagi Ka‘ab, ini bukan sekadar ancaman biasa. Ia sadar, ayat itu ditujukan untuk Bani Israil dan dirinya bagian dari mereka. Rasa takut dan hidayah menyatu, hingga ia mantap bersyahadat.
Sejak itu, Ka‘ab menjadi bagian penting umat Islam. Ia sering duduk bersama para sahabat, menyampaikan kisah-kisah Bani Israil dan tafsir ayat-ayat Al-Qur’an. Perannya pun meluas ke medan jihad. Ia ikut dalam ekspedisi militer melawan Romawi dan turut dalam pembebasan Baitul Maqdis di masa Umar. Hebatnya, semangat juangnya tak padam meski usianya lebih dari seratus tahun bahkan dalam kondisi sakit, ia tetap bersikeras berjihad.
Dalam satu kisah, seseorang bertanya mengapa Ka‘ab baru masuk Islam pada masa Umar, bukan di zaman Rasulullah atau Abu Bakar. Ia menjawab, ayahnya mewariskan Taurat dengan sumpah agar tidak dibuka sampai saatnya tiba. Setelah melihat Islam tersebar luas dan tak menemukan kecuali kebaikan di dalamnya, ia pun membuka lembaran itu dan di sanalah ia menemukan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW dan umatnya.
Dalam bidang ilmu, Ka‘ab memiliki kontribusi besar dalam tafsir dan hadis. Riwayatnya tergolong maqbul (diterima) atau maskūt ‘anhu (didiamkan), dengan hanya sedikit yang ditolak. Dalam menafsirkan Al-Qur’an, ia kadang memakai pendekatan batin (ta’wīl), menunjukkan kedalaman spiritual dan keilmuan yang unik.
Ka‘ab bin al-Aḥbār, meski berasal dari agama lain, adalah contoh pencari kebenaran sejati. Ketekunannya dalam ilmu, kejujuran dalam iman, dan semangat juangnya menjadikan ia sosok inspiratif. Tak heran, al-Diba’i mengabadikan namanya dalam Maulid sebagai pengingat bahwa hidayah bisa datang dari siapa pun yang bersungguh-sungguh mencarinya.
Penulis adalah Sekretaris Forum Daiyyah Fatayat (FORDAF) NU Kendal