
Oleh: Muhammad Ataka
Shalat merupakan ibadah wajib yang harus di lakukan bagi siapa saja yang memeluk agama Islam. Dalam mengerjakan shalat terdapat beberapa hal yang wajib dipenuhi, yakni rukun shalat, baik rukun qouli (rukun yang bersifat ucapan) atau rukun fi’li (rukun yang bersifat gerakan).
Dalam ilmu Fiqh sudah disepakati jumhur ulama bahwa shalat tidak sempurna bahkan tidak dianggap sah apabila tidak memenuhi syarat dan rukunnya. Maka, apabila seseorang sengaja meninggalkan rukun shalat, seketika itu pula shalatnya batal.
Lantas, bagaimana hukumnya kertika seseorang lupa mengerjakan salah satu rukun shalat? Dalam hal ini ada bebeberapa perincian, apabila seseorang tersebut teringat sebelum melakukan pekerjaan sejenis pada rakaat berikutnya, maka ia wajib kembali kepada rukun yang ia tinggal/rukun yang dilupakan.
Seperti contoh, apabila orang tersebut lupa tidak membaca surah Al Fatihah pada rakaat kedua shalat Zuhur, lalu dia teringat di saat sedang melakukan sujud, maka secepatnya ia kembali ke posisi seperti yang dia tinggal. Apabila tidak segera dikerjakan maka seketika shalatnya dianggap batal.
Hal ini selaras dengan apa yang di tuliskan oleh Imam Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al Haitami dalam kitab تحفة المحتاج في شرح المنهاج bab sifat shalat, juz 2 hal. 96
(فَإِنْ تَذَكَّرَ) غَيْرُ الْمَأْمُومِ الْمَتْرُوكَ (قَبْلَ بُلُوغِ) فِعْلِ (مِثْلِهِ) مِنْ رَكْعَةٍ أُخْرَى (فَعَلَهُ) بِمُجَرَّدِ التَّذَكُّرِ وَإِلَّا بَطَلَتْ صَلَاتُه
Artinya: “Bila ia (selain makmum) ingat rukun yang ia tinggalkan sebelum mencapai pekerjaan sejenis pada rakaat lain, Maka wajib mengerjakannya lagi setelah ia ingat, dengan bersegera. Bila ia tidak segera melakukannya maka shalatnya batal”
Dalam keterangan di atas bisa kita ambil kesimpulan bahwa apabila seseorang lupa melakukan salah satu rukun shalat, akan tetapi dia teringat sebelum sampai pada gerakan yang sejenisnya, maka hendaknya segera kembali kepada posisi rukun yang ia tinggal. Apabila tidak segera melakukan maka batal shalatnya.
Lalu, apabila orang tersebut ragu dalam jumlah rakaat, maka hendaknya ia mengambil keputusan yang sedikit dari jumlah rakaat yang ia ragukan. Seperti apabila seseorang ragu dalam jumlah rakaat, apakah ia berada di rakaat ketiga atau keempat, maka hendaknya ia memilih yang sedikit yaitu rakaat ketiga.
Hal ini sudah diterangkan oleh imam أبو زكريا محيي الدين يحيى بن شرف النووي dalam Kitab Al Majmu Syarah Muhadzab, bab Sujud sahwi juz 1 hal. 106.
وَإِنْ شَكَّ فِي تَرْكِهَا بِأَنْ شَكَّ هَلْ صَلَّى رَكْعَةً أَوْ رَكْعَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا أَوْ أربعا لزمه أن يأخذ بالاقل
Atinya:“Apabila seseorang ragu dalam jumlah rakaat shalat apakah dia telah shalat satu rakaat, dua rakaat, tiga rakaat, atau empat rakaat, maka hendaknya ia ambil yang sedikit”
Dalam keterangan di atas bisa kita pahami apabila ada seseorang ragu dalam jumlah rakaat shalat, maka hendaknya ia mengambil keraguan yang lebih sedikit, seperti yang sudah diterangkan di atas. Para ulama madzhab sudah sepakat apabila ada seseorang lupa atau ragu dalam shalat, maka harus menggantinya dengan Sujud Sahwi, sujud ini dilakukan sesudah tasayahud dan sebelum salam. Hal ini seperti yang ada di dalam hadis dari Abu Sa'id Al Khudri, Rasulullah S.A.W bersabda:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ»
Artinya: "Apabila kalian ragu dalam (jumlah bilangan rakaat) shalat, maka tinggalkan keraguan dan ambilah yang yakin. Kemudian sujudlah dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia shalat lima rakaat, maka sujudnya telah menggenapkan shalatnya. Lalu jika ternyata shalatnya memang empat rakaat, maka sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan." (HR Muslim).
Wallahu a’lam.