
Oleh: M. Adib Shofwan
Tiang agama adalah shalat. Barang siapa mendirikannya maka dia menegakkan agama dan barangsiapa meninggalkannya maka sungguh dia telah merobohkan agama. Shalat menjadi sarana kita munajat kepada Allah. Dalam pelaksanaanya, ada unsur dhahir dan batin yang harus kita penuhi agar shalat kita hidup tidak sekedar hanya rutinitas belaka.
Ruh dari shalat adalah khusyu’ dan khudhurul qolbi. Dalam konteks shalat ada beberapa unsur batin yang harus kita hadirkan dalam jiwa kita agar shalat kita menjadi hidup.
Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin meringkas unsur tersebut dalam 6 perkara, yakni:
1. Hudhurul qolbi
Hudhurul qolbi merupakan kondisi hati yang dikosongkan dari selain apa yang kita hadapi. Dalam konteks shalat, hati kita sadar bahwa kita sedang shalat, hati dan pikiran konsen, sadar dan tahu dengan apa yang kita ucapkan dan kita lakukan serta melupakan yang lainnya. Hati yang seperti ini sudah hadir dalam shalat. Ketika pikiran kita keluar dari kondisi shalat, maka tariklah untuk kembali dalam posisi kesadaran shalat.
2. Tafahhum
Tafahhum adalah memahami makna dari ucapan dan gerakan shalat, hati memahami makna dari apa yang kita ucapkan. Pada maqom ini tingkatan manusia akan berbeda-beda tergantung seberapa paham dan meresapi bacaan dan dzikir yang diucapkan dalam shalat. Hati terkadang hadir dengan lafadh bacaan shalat, tapi terkadang tidak hadir dengan maknanya. Jadi, Tafahhum adalah kondisi hati yang mengandung makna bacaan dan dzikir dalam shalat. Dalam kondisi ini sering kali muncul makna–makna lembut dalam hati kita yang tidak muncul sebelumnya. Kesadaran ini yang akan menggerakkan kita untuk menjauhi perbuatan keji dan munkar.
3. Ta’dhim
Ta’dhim merupakan perasaan menghormat kepada Allah SWT. Ketika kita matur kepada Allah di mana hati kita hadir dan memahami atas makna dari apa yang kita haturkan, maka kita tahu posisi diri ini yang harus senantiasa ta’dhim dan hormat kepada Penguasa alam semesta ini. Kita hanya mahluk kecil dan lemah yang hidup di atas bumi yang hanya merupakan butiran debu di cakrawala alam semesta. Allah pencipta alam ini dan kita sowan di hadapan-Nya.
4. Haibah
Ha’ibah adalah perasaan takut yang muncul karena pengagungan pada Allah yang memiliki sifat agung.
5. Raja’
Raja’ merupakan perasaan hamba yang senantiasa berharap pahala pada Dzat Yang Agung sebagaimana dia takut atas siksa Allah ketika melakukan dosa.
6. Haya’
Haya’ merupakan perasaan malu karena merasa bersalah dan berdosa. Ketika kita selesai shalat, yang pertama kita lakaukan adalah istighfar memohon ampunan kepada Allah SWT atas kekurangan kita dalam menjalankan shalat seperti kurang khusyu’, kurang tumakninah dan sebagainya.
Bersambung…
Disarikan dari pengajian Jumat pertama di bulan Ramadan 1445 Hijriah
Penulis adalah Pengasuh PPTQ Al-Amin Patebon, Ketua Tanfidziyah Ranting NU Kebonharjo 2