
Oleh: Fina Mazida Husna
Perubahan merupakan sunnatullah dan sebuah keniscayaan. Segala sesuatu akan mengalami perubahan kecuali perubahan itu sendiri. Lantas apa itu perubahan dalam diri? dan bagaimana agar diri kita berubah menjadi pribadi yang lebih baik?
Kitab Thawwir Nafsaka bi Nafsik menjelaskan bahwa perubahan adalah proses transformasi dari realitas yang dijalani saat ini menuju sesuatu yang diinginkan. Dalam Alquran juga disebutkan sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum hingga kaum itu sendiri merubahnya. Tidak ada yang mampu merubah diri kita selain diri kita sendiri. Rasulullah Muhammad saw bahkan tidak mampu merubah kedua pamannya, yaitu Abu Thalib dan Abu Lahab sehingga meninggal dalam keadaan kafir. Padahal jelas sekali bahwa keduanya adalah paman nabi, lebih-lebih Abu Thalib yang mempunyai jasa besar terhadap kehidupan nabi Muhammad saw. Hal ini menyadarkan kita bahwa perubahan tidak bisa datang dari faktor orang lain. Semua kembali kepada pribadi masing-masing.
Disisi lain, perlu kita sadari bahwa A-ttagyir Al madi asro'u min at-tagyir Al fikri (perubahan fisik lebih cepat daripada perubahan pemikiran). Fisik manusia bisa cepat tumbuh dan berkembang, tetapi tidak pada nalar berpikir. Nalar berpikir perlu proses panjang yang terus menerus. Maka sudah sepantasnya bila keadaan kita ingin lebih baik, tidak hanya fisik kita yang meningkat (berubah), tetapi juga pemikiran kita. Tak heran bila kita melihat anak yang masih usia belia tetapi mempunyai pribadi yang mulia dan sebaliknya. Maka kita perlu membenahi diri dan mawas diri, apakah selama ini hanya fisik kita saja yang tumbuh dewasa tetapi kepribadian kita justru semakin kekanak-kanakan.
Berikut beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa kita termasuk pribadi yang "darurat" untuk berubah, yaitu:
1. Frustasi.
Bila kita sedang terjangkiti penyakit yang satu ini, maka kita termasuk pribadi yang sangat membutuhkan perubahan. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, kita frustasi dalam mendidik anak karena anak kerap kali tidak menampakkan perubahan sikap yang kita inginkan. Karena berulang-ulang mendapat perlakuan yang sama, maka sikap frustasi ini kemudian muncul dalam benak. Jika ini terjadi berarti kita harus segera berubah.
2. Bosan.
Tidak sedikit orang-orang di sekitar kita kerap mengutarakan kebosanan mulai pekerjaan, makanan, hubungan suami istri, tempat tinggal, dan lain-lain. Orang-orang yang demikian tidak menyadari ketika rasa bosan hinggap dan menyelimuti perasaan, maka satu satunya jalan adalah berbenah atau berubah.
3. Didera berbagai persoalan.
Dalam menjalani hidup kita pasti didera berbagai persoalan, terus menerus, bahkan seperti tidak ada habisnya. Hal ini menjadi salah satu indikator bahwa kita memerlukan suatu perubahan.
4. Tidak ada hasil.
Tak jarang kita melakukan sesuatu dengan intensitas tinggi dan berulang-ulang tetapi hasilnya sama, bahkan tidak ada hasilnya. Bodohnya, kita tetap berusaha melakukan hal itu karena menganggap rezeki belum berpihak pada kita. Lalu kita mencoba lagi, lagi dan lagi dengan jalan atau metode yang sama. Menurut kitab Thawwir Nafsaka bi Nafsik hal ini termasuk kebodohan, sebagaimana disebutkan inna minal khamaqati an nasna’a nafsa al-asy’ya’ binafsil thariqah wa tantadhiru nataij mukhtalifah (sebagian kebodohan adalah membuat sesuatu yang sama dengan jalan yang sama tetapi menunggu hasil yang berbeda).
Lalu bagaimana langkah kita untuk merubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik?. Berikut langkah-langkahnya:
1. Menjadikan rasa sedih sebagai kekuatan
Perasaan sedih akan menjadi kekuatan paling dominan dalam berubah. Kita dapat melihat contoh nyata di sekitar kita. Misalnya, seseorang yang mengalami obesitas tersakiti dengan bullian justru bertransformasi menjadi seseorang yang memiliki tubuh ideal. Orang-orang sukses adalah pribadi yang berkekurangan di masa kecil, dikucilkan karena kehidupan nyatanya seperti tidak adil pada mereka. Tetapi kemudian mereka mampu merubah rasa sakit menjadi kekuatan yang tersembunyi sehingga terjadi perubahan yang bahkan cukup ekstrim. Maka ketika kita dalam keadaan sulit, terjepit, tertekan rasa sakit yang mendalam, tak perlu sedih berlarut-larut. Sebaliknya, hal ini adalah langkah praktis untuk melakukan perubahan.
2. Menentukan tujuan
Perubahan harus disertai target atau capaian. Misalnya, kita mempunya target bahwa puasa tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin baik dari segi mental, fisik, maupun semangat dalam beribadah. Ketika kita tidak punya target yang hendak kita capai maka perjalanan kita lamban dan tidak terarah. Bahkan bisa jadi puasa kita selama bertahun-tahun masih sama tanpa peningkatan.
3. Meminta dukungan
Dukungan bisa berupa support system dari orang-orang di sekitar kita. Tak perlu malu untuk menyampaikan target-target perubahan dalam hidup kita kepada orang-orang di sekitar kita. Sampaikan secara baik-baik bahwa kita benar-benar ingin berubah dan memerlukan dukungan.
4. Mulai melakukan perubahan
Ribuan kata bijak tak akan bermanfaat bila tidak dilaksanakan. Memulai sesuatu memang tak mudah. Tetapi ada kata bijak bahwa kita sangat perlu menata pemikiran dan kegiatan kita sehari-hari. Karena hari ini adalah fondasi hari depan.
5. Berdoa
Kita kerap kali melupakan doa ketika ingin melakukan suatu perubahan. Contoh doa tersebut misalnya, Ya Allah berilah kekuatan kepada Saya untuk berubah menjadi pribadi yang baik menurut Engkau.
6. Tawakkal
Sebaik dan sekeras apapun kita melakukan perubahan, kunci utamanya adalah tawakkal, pasrah bongko’an kepada Yang Maha Membolak balikkan Hati. Tugas kita hanyalah berbuat sekuat tenaga untuk merubah, hasilnya kita serahkan kepada Tuhan. Perubahan adalah keniscayaan. Tanpa kita sadari, umur kita tak lagi muda, kulit kita tak lagi kencang, tubuh kita tak lagi kuat, bahkan kita tak selamanya hidup.
Diambil dari hasil diskusi ngaji online kitab Thawwir Nafsaka bi Nafsik bersama mahasiswa Sekolah Tinggi Islam Kendal (STIK).