Oleh: M. Adib Shofwan Perjalanan biduk rumah tangga tidak selamanya berjalan mulus. Pasti ada badai yang menerpa. Demikian pula terjadi pada keluarga agung Nabi Muhammad SAW. Diantaranya seperti sepenggal kisah ketika Rasulullah mendamaikan putri beliau Fatimah Al-Batul RA dengan sang istri Aisyah RA. Ketika istri tercinta Khadijah Al-Kurbo wafat, Rasulullah mengalami kesedihan yang luar biasa karena sang istri adalah tulang punggung dalam berdakwah. Ditahun kedua Hijriah, pada hari Jumat akhir bulan Syawal, Rasulullah menikah dengan Siti Aisyah putri sahabat beliau Abu Bakar RA. Dikisahkan, ketika Sayyidah Fatimah RA duduk dengan Ibunda Aisyah RA yang tidak lain adalah ibu tirinya, Sayyidah Aisyah berkata: “Hai Fatimah, kamu itu lahir dari seorang ibu yang janda, sedangkan bapakmu Rasulullah menikah denganku seorang dara perawan”. Mendengar kalimat itu, tangis Siti Fatimah pecah. Ia kemudian lari menghadap Ayahandanya Nabi Muhammad SAW. Dengan tenang Rasulullah menghampiri Siti Fatimah dan berkata: “Anakku, kenapa gerangan dirimu menangis?,“ tanya Nabi. Siti Fatimah menjawab: “Ayahanda, tadi Ibu Aisyah mengatakan bahwa saya lahir dari seorang janda dan beliau nikah masih anak perawan”. Sambil tersenyum, Rasulullah berkata: “Sampaikan pada ibundamu Aisyah, keren mana janda yang menikah dengan perjaka dengan perawan yang menikah mendapat duda”. Akhirnya dengan tersenyum Siti Fatimah sowan kepada Siti Aisyah dan menyampaikan pesan dari Ayahandanya itu. Demikianlah Rasulullah mendamaikan antara anak tiri dan ibu tiri yang rawan dengan perselisihan karena berebut kasih sayang dan perhatian dari Ayahandanya.
Penulis adalah Ketua Ranting NU Kebonharjo 2 Patebon Kendal dan Kabag Artikel dan Pemberitaan NUKO