Oleh: M. Adib Shofwan Pernahkan Anda berdoa? Barangkali jawabannya bukan lagi pernah, tetapi sering dan sangat sering. Doa barangkali sudah menjadi tradisi. Setiap selesai salat, akan makan, akan tidur, bangun tidur dan setiap akan melakukan pekerjaan kita seringkali berdoa. Dalam berdoa kadang kita sendirian, kadang berjamaah bahkan dengan jumlah jamaah yang besar seperti demo dengan istighotsah akbar. Terkadang pula seperti laporan upacara, semua kebutuhan kita sebutkan. Berdoa adalah ritual ibadah yang diperintahkan Allah SWT. Allah telah memerintahkan untuk meminta kepada-Nya dalam Alquran Surah Gaafir ayat 60:
??????? ????????? ???????????? ?????????? ??????
Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Berdoa merupakan sebuah pengakuan seorang hamba akan kelemahan dirinya dan penyandaran hamba akan segala kebutuhan setelah lelah berusaha. Dengan segala bentuk doa yang kita lakukan, berapa persen doa yang dikabulkan? dan berapa juta doa yang telah kita panjatkan menguap ke udara? Barangkali kita harus introspeksi diri, mengaca dan melihat diri, tidak hanya menuntut pada Allah terus menerus untuk mengabulkan doa kita. Selain itu, apakah ketika kita berdoa sudah melaksanakan syarat dan rukun berdoa?. Syarat dan rukun doa yang pantas dikabulkan oleh Allah SWT. Lalu, apakah kita sudah bersyukur atas kenikmatan yang Allah berikan?. Zahid agung asal Bashrah Irak, Ibrahim bin Adham pernah menjawab masalah ini. Menurutnya, diantara sebab tertolaknya doa adalah hati yang mati. Ciri-ciri hati yang mati tersebut adalah:- Mengenal Allah tetapi tidak menunaikan hak-hak-Nya.
- Membaca kitab Allah, tetapi tidak mengamalkannya.
- Mengaku mencintai Rasul Allah SAW, tetapi tidak mengikuti sunahnya.
- Mengaku membenci setan, tetapi selalu menyetujuinya.
- Meyakini bahwa mati itu pasti, tetapi tidak pernah mempersiapkannya.
- Mengatakan takut pada neraka, tetapi terus membiarkan diri terjerumus ke sana.
- Mendambakan surga, tetapi tidak pernah beramal untuknya.
- Selalu sibuk dengan aib-aib orang lain dan mengabaikan aib-aib diri sendiri.
- Menikmati anugerah-anugerah Allah, tetapi tidak mensyukurinya.
- Setiap kali mengubur jenazah-jenazah, tetapi tak pernah mengambil pelajaran darinya.
Penulis adalah Kabag Artikel dan Penulisan NU Kendal Online