Bid'ah dan Penjelasannya

...

Oleh: H. Muhammad Umar Said Secara garis besar, para ulama membagi bid'ah menjadi dua. Yaitu bid'ah hasanah (bid'ah yang baik) dan bid'ah sayyi'ah (bid'ah yang buruk). Dalam Hal ini, Al-Imam al-Syafi'i ulama salaf dan pendiri madzhab Syafi'i yang diikuti oleh mayoritas umat Islam Ahlussunah Wal-Jamaah berkata:

???????? ?????: ?? ???? ????? ????? ?? ??? ?? ?????? ??? ???? ??????? ??? ???? ?? ????? ?? ????? ??? ?? ???? ??? ????? ??? ??????

"Perkara baru ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi Alquran dan al-Sunnah atau Ijma' dan itu disebut bid'ah dhalalah (sesat). Kedua, sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi Alquran , al-Sunnah dan Ijma' dan itu disebut bid'ah yang tidak tercela". Dalam riwayat lain, al-Imam al-Syafi'i RA berkata:

?????? ?????? ???? ?????? ????? ??????. ??? ???? ????? ??? ?????? ??? ???? ????? ??? ?????? "????? ???? ??? ?? ?????? ?? ???? ?????: ???? ?????? ??"

"Bid'ah itu ada dua macam. Bid'ah yang terpuji dan bid'ah yang tercela. Sesuatu yang sesuai dengan al-Sunnah, adalah terpuji. Sesuatu yang menyalahi al-Sunnah adalah tercela. Beliau ber-hujjah dengan perkataan Umar bin Khattab tentang Qiyam Ramadhan (salat tarawih), sebaik-baik bid'ah adalah (salat tarawih) ini". Dari pernyataan di atas, al-Imam al-Syafi'i RA membagi bid'ah menjadi dua; 1). bid'ah terpuji atau bid'ah mahmudah dan atau bid'ah hasanah; dan 2) bid'ah tercela, atau bid'ah madzmumah dan atau bid'ah sayyi'ah. Bahkan lebih rinci lagi al-Sulthan al-Ulama al-Imam Izzuddin bin Abdissalam di dalam kitabnya Qawaid al-Ahkam Fii Mashalih al-Anam membagi bid'ah menjadi lima bagian. Dalam pandangannya bid'ah itu terbagi menjadi lima bagian; bid'ah wajibah (wajib), bid'ah mandubah (sunnah), bid'ah mubahah (boleh), bid'ah makruhah dan bid'ah muharramah (haram). Berikut ini penjelasannya dan jika diterjemahkan sebagai berikut: "Bid'ah adalah mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikenal (terjadi) pada masa Rasulullah saw. Bid'ah terbagi menjadi lima; bid'ah wajibah, bid'ah muharramah, bid'ah mandubah, bid'ah makruhah dan bid'ah mubahah. Jalan untuk mengetahui hal itu adalah dengan membandingkan bid'ah pada kaidah-kaidah syari'at. Apabila bid'ah itu masuk pada kaidah wajib, maka menjadi bid'ah wajibah. Apabila masuk pada kaidah haram, maka bid'ah muharramah. Apabila masuk pada kaidah sunnah, maka bid'ah mandubah. Dan apabila masuk pada kaidah mubah, maka bid'ah mubahah. Bid'ah wajibah memiliki banyak contoh. Salah satunya adalah menekuni ilmu nahwu sebagai sarana memahami Alquran dan Sunnah Rasulullah Saw. Hal ini hukumnya wajib karena menjaga syariat itu wajib dan tidak mungkin dapat menjaganya tanpa mengetahui ilmu nahwu. Sedangkan sesuatu yang menjadi sebab terlaksananya perkara wajib, maka hukumnya wajib. Kedua, berbicara mengenai jarh dan ta'dil untuk membedakan hadis yang sahih dan yang lemah. Bid'ah muharramah memiliki banyak contoh di antaranya bid'ah ajaran Qadariyah, Jabariyah, Murji'ah dan Mujassimah. Sedangkan menolak terhadap bid'ah-bid'ah tersebut termasuk bid'ah yang wajib. Bid'ah mandubah memiliki banyak contoh, diantaranya mendirikan sekolah-sekolah, jembatan-jembatan dan setiap kebaikan yang belum pernah dikenal pada generasi pertama diantaranya adalah salat tarawih. Bid'ah makruhah memiliki banyak contoh, di antaranya memperindah bangunan masjid dan menghiasi mushaf Alquran. Dan bid'ah mubahah memiliki banyak contoh, di antaranya menjamah makanan dan minuman yang lezat-lezat, pakaian yang indah, tempat tinggal yang mewah, memakai baju kebesaran dan lain-lain. Pandangan al-Imam Izzuddin bin Abdissalam yang membagi bid'ah menjadi lima bagian ini dianggap sebagai pandangan yang final dan diikuti oleh mayoritas ulama terkemuka dari kalangan fuqaha dan ahli hadis seperti al-Imam Al-Nawawi dan al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani. Demikian penjelasan secara singkat mengenai bid'ah, semoga bermanfaat bagi umat Islam terkhusus para pengikut ajaran Ahlussunah Wal-Jamaah. Allahu a'lam bis shawab. Referensi: 1. Al-Imam Izzuddin bin Abdissalam, Qawaid al-Ahkam Fii Mashalih al-Anam. 2. Al Hafidz Abu Nu'aim, Hilyah al-Auliya. 3. Aswaja di Tengah Aliran-Aliran, Asep Saefuddin Chalim. 4. Muhammad Idrus Ramli, Bid'ah Hasanah.

Informasi Keislaman Lainnya

Ngaji Haid

Oleh: M. Adib Shofwan 1. Pengertian Haid Haid atau haidl yaitu darah yang dikeluarkan seorang wanita dari urat (otot) pangkal rahim secara...

Tafsir Surat An-Nasr

 Oleh: M. Adib Sofwan Surat An-Nasr termasuk golongan Madaniyah, atau Surat yang turun di kota Madinah. Jumlah ayatnya sebanyak tiga dan...

Kisah Nabi Ibrahim as, Perjumpaan Sang Kekasih...

Oleh: M. Adib Shofwan Sebuah kisah, ketika Nabi Ibrahim as duduk sendirian, datanglah seorang tamu serupa laki-laki. Usai berucap dan berjawab...

Keutamaan Air Zamzam

??? ?????? ?? ?????? ???? ?? ????? ????? ???? ??? ???? ?? ???????? ??? ???? ??? ?????? ?? ?????? Hendaklah ia memperbanyak salat di Al-Hijir,...

Tiga Cara Membangun Cinta pada Nabi Muhammad SAW

Oleh: M. Adib Shofwan Kecintaan kita pada Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu hal yang wajib kita pupuk dan kembangkan guna kesempurnaan...

Advertisement

Press ESC to close