Oleh: KH. Mas'ud Abdul Qodir Hari ini adalah hari terakhir dari 10 hari terbaik di bulan yang mulia, Dzulhijjah. Kaum muslimin menyebutnya dengan Hari Raya Kurban. Firman Allah SWT dalam surat Al-Kautsar ayat 2:
??????? ????????? ?????????
“Maka kerjakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)”. Iduladha merupakan momentum tepat meneladani kisah kenabian. Utamanya untuk melacak ulang kisah Nabi Ibrahim dan melakukan refleksi diri terhadap kisah tersebut. Selain Nabi Muhammad SAW, hanya Nabi Ibrahim yang namanya selalu disebut dalam salat. Bahkan doa yang dibaca untuk Nabi Muhammad SAW ketika tasyahud selalu disetarakan dengan doa kepada Nabi Ibrahim. Nama Ibrahim disebut sebanyak 69 kali pada 24 surat dalam Alquran. Nama Ibrahim juga diabadikan menjadi nama sebuah surat dalam Alquran, yaitu surat ke-14. Iduladha bukan hari raya biasa. Untuk merayakannya tidak cukup sekedar bertakbir, bertahmid dan bertahlil, akan tetapi momen hari raya Iduladha adalah sebagai sarana introspeksi diri dan renungan serta meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim atas kesabaran dan ketakwaannya. Pada saat Hari Raya Kurban, sesungguhnya kita dituntut agar mampu mengambil peran sebagai Nabi Ibrahim Alaihisalam. Dahulu Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putranya di Mina sebagai wujud kepatuhan yang sempurna kepada perintah Allah SWT. Maka kemudian kita renungkan siapakah sosok Ismail saat ini. Contoh sosok adalah simbol dari kecenderungan dan kecintaan manusia pada dunia. Ismail saat ini bisa jadi kedudukan, status sosial, kemewahan hidup, prestasi, harta dan lain-lain. Masing-masing individu yang lebih tahu siapa Ismail dan apa Ismail yang sebenarnya. Ada beberapa kriteria yang dapat dijadikan indikator untuk memahami Ismail-Ismail pada saat ini. Yaitu setiap sesuatu yang melemahkan iman yang menghalangi perjalanan takwa, sesuatu yang membuat manusia enggan menerima amanah, sesuatu yang menghalalkan segala cara dan sesuatu yang mementingkan diri sendiri dan melupakan penderitaan sesama. Dari perintah berkurban, banyak hikmah yang bisa kita ambil dan amalkan. Pertama, menegakkan agama Allah SWT dengan merayakan Iduladha secara bersamaan dan saling tolong menolong kepada sesama. Kedua, bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat-nikmatnya, ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketiga, menggugah kesadaran manusia khususnya orang beriman agar menjadi pribadi seperti Nabi Ibrahim As, karena kemuliaan beliau terletak pada pengorbanannya terhadap milik yang dicintainya yaitu kecintaan kepada Nabi Ismail As. Sehingga kesadaran ini juga menggugah kita khususnya kerelaan pengorbanan harta yang kita cintai untuk hal-hal yang bermanfaat dan mendatangkan rido Allah SWT. Dengan semangat kurban, marilah kita sadari bahwa harta dan kedudukan adalah hak relatif kita dengan iman yang menjadi hak mutlak manusia di hadapan Allah SWT. Bukan membawa benda-benda yang kita cintai di dunia ini yang pasti akan musnah, akan tetapi kita membawa iman dan amal saleh.
Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Darul Amanah Ngadiwarno Sukorejo, Kendal