Oleh: Muhammad Umar Sa'id
?? ?? ????? ????: ?? ???? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ???? ?? ??? ?? ????? ??? ?? ????: ????? ???? ????? ???? ?? ???????? ?????? ???? ????? ?? ?????? ?????? ???? ?????? ??????? ???? ????? (???? ????)
Dari Ummu Kulsum, ia berkata, "Aku tidak mendengar Rasulullah saw memberikan toleransi terhadap perkataan bohong dalam segala hal kecuali 3 hal:
- Seseorang berkata bohong yang bertujuan mendamaikan kedua pihak atau lebih yang sedang mengalami konflik. Ucapan bohong dilakukan dalam upaya membujuk kedua belah pihak agar mau berdamai;
- Ucapan bohong yang dikatakan seseorang dalam situasi peperangan. Ucapan bohong merupakan taktik agar selamat dari serangan musuh dan meraih kemenangan;
- Ucapan dari seorang suami kepada isterinya atau sebaliknya. Jika seorang suami sedang bercanda kepada isterinya atau sebaliknya. Berkata bohong diperbolehkan, dengan tujuan agar keduanya merasa senang dan tersanjung. Sebagai contoh: meskipun isteri kurang cantik, sang suami harus mengatakan, "Dik kamu cantik sekali, cintaku 100 persen padamu, dan sebagainya". Atau isteri mengatakan kepada suaminya, "Mas, diriku merasa tenang jika disampingmu". Ucapan seperti ini disebut ucapan hiperbola (mubalaghah) atau dalam ilmu Bayan disebut ta'ridh, yaitu mengucapkan suatu perkataan, dimana yang dimaksud bukan makna sebenarnya.