Oleh: Muhammad Umar Sa'id
?? ????? ???????? ??? ????? ????? ?????? ??? ???? ?????
"Diantara ciri mengandalkan diri pada amal perbuatan adalah kurangnya pengharapan diri kepada rahmat Allah pada saat melakukan kesalahan". (Ibnu 'Athoillah As Sakandary).
Dalam upaya seseorang mendapatkan ridho Allah dan balasan kebaikan sebagaimana dijanjikan, ia tidak boleh mengandalkan diri pada amal perbuatannya, tetapi harus selalu berharap akan rahmat (kasih sayang) -Nya. Sebab dengan kasih sayang-Nya lah seseorang akan terbimbing pada jalan yang benar.
Namun, kesombongan seringkali muncul pada saat seseorang mendapatkan nikmat dan kelebihan. Ia lupa kepada Dzat Pemberi Nikmat. Akan tetapi, ia justru merasa bahwa nikmat yang ia peroleh semata-mata karena jerih payah dan prestasinya. Sebagai contoh, orang diberi segudang ilmu dengan menyandang sederetan gelar yang panjang, tetapi ia malah bertambah sombong dan semakin jauh dari Dzat Pemberi Ilmi (??????). Seperti Haaman yang diceritakan dalam Alquran, ia adalah seorang ilmuwan dan arsitek hebat yang diperintahkan oleh Fir'aun untuk membangun gedung pencakar langit untuk melihat Tuhannya Musa as.
Demikian juga ada yang mendapatkan nikmat berupa harta/kekayaan, ia tidak ingat dan bersyukur kepada Tuhan Pemberi Nikmat harta/kekayaan, tetapi justru ia menganggap seolah-olah nikmat itu diperoleh dari hasil kerja kerasnya. Ada pula seseorang yang jatuh ke dalam perbuatan maksiat, ia tidak sadar jika yang ia lakukan merupakan kesalahan besar, tetapi lagi-lagi ia tidak lekas berharap pada rahmat Allah dan segera bertaubat dari perbuatan dosa yang ia lakukan, tetapi hatinya semakin tertutup oleh raan (?????) dan semakin jauh dari hidayah Allah. Nauzubillah.
(Dikutip dari kitab Matan Hikam, Syeikh Muhammad Sholeh bin Umar, hal.4).