Oleh: Muhammad Umar Sa'id
Ulama adalah pewaris para nabi yang bertugas melanjutkan tablig risalah nubuwwah kepada umat manusia. Ulama membimbing, mengayomi bahkan jika umat melakukan kesalahan ulama punya kewajiban untuk mengingatkan. Peran ulama dalam menjaga misi propetis ini harus tetap terpelihara dan terus dilanjutkan oleh generasi penerusnya hingga hari kiamat. Sebagaimana sabda Nabi Saw:
?? ???? ????? ?? ???? ?????? ??? ???? ??? ???? ??? ???? (???? ???????)
"Akan selalu ada suatu golongan di antara umatku yang menampakkan kebenaran sampai datangnya hari kiamat". (HR. Bukhari)
Menurut pendapat Imam Tajuddin As-Subkhi dalam kitab Jam'ul Jawami', yang dimaksud dengan "umatku" dalam hadis di atas tidak lain adalah ulama. Ulama-lah yang wajib mengingatkan jika ada orang atau sekelompok orang yang melakukan kesalahan atau kejahatan yang berakibat merugikan masyarakat. Dalam hal ini ulama wajib menyuarakan hukum Allah dan tidak boleh diam. Dalam hadis lain Nabi Saw bersabda:
??? ???? ????? ?? ???? ???? ?????? ?????? ?????? ???? ??? ?? ???? ??? ????? ???? ????
"Apabila bid’ah merajalela (bid’ah yang bertentangan dengan syariat) dan sahabatku dicaci, maka hendaklah bagi orang yang berilmu menampakkan ilmunya sehingga kalau tak menampakkan, maka Allah akan menimpakan laknat".
Dalam kitab Faidul al-Qadir juz 1, halaman 401 Imam Ghazali berpendapat, ulama bagaikan dokter sehingga apabila menjumpai orang yang sakit, baik sakit pemikiran atau perilaku, maka seorang ulama harus segera turun tangan untuk menyembuhkan.
Dalam konteks yang sesungguhnya ulama diperintah untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar (memerintahkan kebaikan dan melarang kejelekan) dengan penuh cinta dan kelembutan, bukan dengan cara mengumpat dan mencaci.
Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah dengan mengungkap kesalahan atau kejahatan orang lain itu tidak termasuk membuka aib sesama muslim? Tentu tidak. Membuka aib yang dilarang itu (menurut hemat penulis) adalah menyangkut kesalahan yang dilakukan oleh seseorang secara pribadi. Tetapi jika kesalahan itu dilakukan secara terorganisir (organized) dan dilakukan oleh orang banyak, maka ulama wajib berani mengingatkan dengan suara lantang. Memang tidak banyak yang berani mengingatkan, tetapi harus ada yang berani. Dengan cara ini, diharapkan orang yang berbuat salah akan menyadari kesalahannya dan ke depannya ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Allahu a'lam bis shawab.