Oleh: Moh. Muzakka Mussaif
Ada seorang jamaah bertanya saat mengikuti taklim bakda shubuh bahwa manusia hidup itu semata-mata mencari ridho Allah. Lalu, apa yang dimaksud ridho Allah, bagaimana caranya, lalu indikator apa kalau perbuatan kita itu diridhoi oleh Allah? Pertanyaan itu perlu dikaji lebih dalam lagi sebab apa yang saya sampaikan dan tulis ini baru sepotong garis besar saja.
Ridho secara sederhana dapat dimaknai sebagaimana kata ikhlas, tulus menerima, sekaligus memurnikan Allah. Di sinilah lalu dalam setiap berdoa kita selalu ucapkan
????? ???????? ???? ??????
Pada kesempatan lain dalam mengawali sebuah acara, kita juga sering mendengar ucapan seorang pembawa acara sebelum membuka acara atau kiai sebelum memimpin doa dengan pembacaan ummul kitab, diucapkan ungkapan li ibtighoi mardhotillah, dan seterusnya. Doa dan tujuan ungkapan itu diucapkan tidak ada tujuan lain kecuali untuk mendapat izin dan kebaikan dari Allah sehingga apa yang dilakukan itu diterima oleh Allah sebagai amal shalih.
Di sini muncul pertanyaan lagi, bagaimana cara untuk menggapai ridho Allah itu?
Secara global caranya dapat kita lihat pada banyak ayat dalam Alquran di antaranya tampak dalam potongan ayat yang sering kita dengar
?? ???? ?????? ?????? ????????
yakni Allah memerintahkan kita untuk berbuat adil dan berbuat baik.
Dari ayat itu sangat jelas bahwa semua ucapan dan tindakan yang dilakukan dengan adil (benar, lurus) dan baik (menambah manfaat, menumbuhkan kebaikan) maka hal itu diridhoi oleh Allah. Adapun ucapan dan tindakan yang bertentangan dengan hal itu masuk kategori yang dilarang atau tidak diridhoi oleh Allah karena termasuk perbuatan aniaya (zalim).
Dalam sebuah hadits qudsy yang terdapat dalam kitab Durrotun Nasihin majlis 43, halaman 158, dijelaskan hal-hal yang sangat penting bagi kita agar kita menjadi orang-orang terbaik dan diridhoi oleh Allah SWT. Mengapa ini penting buat kita? Sebab, kebanyakan kita tidak mampu menjalaninya karena ego kita, gengsi kita, dan hawa nafsu kita lebih menguasai kita.
Jika sifat-sifat yang dianggap manusiawi itu dibiarkan berkembang, maka cahaya qolbu kita kian redup.
Padahal dalam hadits qudsy itu, Allah mempertanyakan pada kita hal-hal penting berikut ini. Mengapa demikian? Sebab, hal-hal itu termasuk hal yang berat dilakukan hamba Allah.
Apakah hal-hal itu?
Pertama, apakah saat kita berbuat maksiat pada Allah itu kita ingat murka-Nya kemudian kita meninggalkan perbuatan maksiat itu? Kedua, apakah kita telah menunaikan amanat dengan baik pada orang-orang yang telah memberikan kepercayaan pada kita? Ketiga, apakah kita bisa berbuat baik pada orang yang berbuat buruk pada kita? Keempat, apakah kita bisa memberi maaf pada orang yang berbuat zalim pada kita? Kelima, Apakah kita mau menyapa pada orang-orang yang mendiamkan kita? Keenam, apakah kita bisa menyambung tali silaturrahim pada orang yang telah memutus tali itu? Ketujuh, apakah kita bisa menginsafi atau berbuat adil pada orang yang menghianati kita? Kedelapan, apakah kita telah menanyakan pada ulama terkait urusan agama dan dunia kita?
Pertanyaan-pertanyaan yang bermuatan perintah itu tampaknya sangat sulit dilakukan bagi kebanyakan orang.
Barangkali untuk persoalan yang pertama, kedua, dan kedelapan kita bisa mengupayakannya? Bagaimana dengan yang ketiga hingga ketujuh? Sebab dengan egonya, kebanyakan orang tidak mau berbuat baik pada orang yang berbuat buruk, memaafkan orang yang menzaliminya, mengajak bicara orang yang mendiamkannya, menyambung tali yang sudah diputuskan saudaranya, serta menginsafi orang yang menghianatinya. Nah, di sinilah kita harus belajar dan melaksanakan perintah Allah yang berat itu. Sebab, dalam penutup hadits qudsy ini Allah menegaskan, "Dan sesungguhnya Aku tidak melihat pada bentuk tampangmu, tetapi Aku melihat pada hatimu dan niatmu serta Aku meridhoi hal-hal seperti itu pada dirimu".
Dari penutup hadits qudsy ini sangat jelas kalau kita ingin mendapat ridho Allah maka harus dapat melawan ego dan gengsi kita serta hawa nafsu kita. Hidupkan cahaya hati kita, luruskan niat sebab Allah menilai kita dari hati dan niat kita, bukan dari badan kita.
Adapun terkait dengan indikator bahwa perbuatan kita diridhoi oleh Allah atau tidak, menurut KH M. Lukman, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Caringin Bogor, ada tiga indikator.
Pertama, lewat ucapan dan tindakan, lahir dan batin. Artinya jika ucapan dan tindakan itu baik, tidak bertentangan kehendaknya maka insyaallah, Allah ridho. Indikator kedua adalah hati kecil terdalam (suara qolbu) yang sangat jujur. Bisikan qolbu ini akan mengekspresikan tentang Allah ridho atau tidak. Jika kita mengingkari bisikan kalbu itu berarti Allah tidak ridho. Adapun indikator yang ketiga adalah tumbuhnya rasa yakin yang menghapus kegalauan, keraguan, dan rasa takut.
Mari kita cari ridho Allah. Karena hanya dengan Ridho-Nya kita bisa hidup bahagia di dunia dan akhirat nanti.

Penulis Adalah Pengasuh Majlis Taklim Al Muslihun Kendal