Tentang Taubat

...

Oleh: KH. Moh. Muzakka Mussaif

Taubat adalah permohonan ampunan seorang hamba kepada Allah Swt. Sebab, setiap hamba tak akan pernah luput dari perbuatan salah dan lupa, bahkan hamba itu sendiri menjadi tempat salah dan lupa.

Karena hamba atau orang itu tempat salah dan lupa maka sepanjang hidupnya mereka akan dipenuhi dosa. Padahal dosa-dosa itulah yang akan menjadikan manusia menerima siksa dan azab neraka.

Alhamdulillah, Allah yang Maha Pengampun ini akan mengampuni dosa-dosa hamba yang berbuat dosa baik besar maupun kecil bila hamba itu mau bertaubat.

Dalam QS. Surat At-Tahrim, ayat 8, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertaubat dengan sebenar-benarnya atau "taubatan nasuuha". Artinya, Allah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk kembali ke jalan yang benar.

?? ???? ????? ????? ????? ??? ???? ???? ???????

Dari ayat tersebut sangat jelas bahwa perintah Allah itu dikhususkan pada orang-orang yang beriman. Hal itu menunjukkan bahwa orang-orang beriman itu juga penuh dengan dosa sehingga diperintah untuk bertaubat.

Nabi Juga Bertaubat

Ada yang harus direnungkan secara mendalam terkait taubat ini. Rasulullah Saw sebagai kekasih Allah yang maksum, yakni terpelihara dari berbuatan maksiat pada Allah, dengan keagungan perilakunya ternyata beliau selalu bertaubat dalam setiap saat. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa Rasulullah bertaubat dalam sehari 70 kali dan ada yang menyebut 100 kali mohon ampun kepada Allah Swt. Dari sinilah kemudian Rasulullah Saw memerintahkan umatnya dan atau manusia untuk bertaubat.

Kalau Rasulullah Saw sebagai orang terpelihara saja bertaubat sampai 100 kali sehari, bagaimana dengan kita sebagai ummatnya dan manusia lainnya yang setiap hari melakukan perbuatan dosa. Bagaimana kita bisa berharap surga jika tidak diampuni oleh Allah Swt.

Terkait dengan pertaubatan dosa ini dijelaskan dalam Kitab Durrotun Nasihin bahwa orang yang masih melakukan perbuatan dosa itu pertanda orang itu berkurang imannya. Maka orang yang ingin berhasil dalam bertaubat, ia harus bisa sabar atau menahan diri dari berbuat maksiat. Sabar juga sangat sulit dilakukan kecuali dengan memunculkan rasa takut terhadap siksa Allah yang amat pedih.

Rasa takut terhadap siksa Allah, bisa tumbuh manakala kita tahu besarnya madharat atas dosa-dosa yang kita lakukan. Dan yang terakhir ini tidak akan berhasil jika kita tidak dapat membenarkan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Dari persoalan itulah, maka muncul persoalan bagi orang yang belum mampu meninggalkan perbuatan dosa atau maksiat. Orang itu dikhawatirkan akan meninggal dunia dalam su'ul khotimah. Naudzubillah min dzaalik.

Dari uraian singkat itu, sangat jelas bagi kita karena ajal manusia adalah rahasia Allah, maka sudah seharusnya dan menjadi kewajiban kita untuk senantiasa bertaubat pada Allah dan ber-istighfar sepanjang waktu. Berdoalah selalu, mudah-mudahan kelak kita meninggal dalam husnul khatimah.

Ngaji Sabtu Subuh di Masjid Baitun Nikmah.

Informasi Keislaman Lainnya

Ngaji Haid

Oleh: M. Adib Shofwan 1. Pengertian Haid Haid atau haidl yaitu darah yang dikeluarkan seorang wanita dari urat (otot) pangkal rahim secara...

Tafsir Surat An-Nasr

 Oleh: M. Adib Sofwan Surat An-Nasr termasuk golongan Madaniyah, atau Surat yang turun di kota Madinah. Jumlah ayatnya sebanyak tiga dan...

Kisah Nabi Ibrahim as, Perjumpaan Sang Kekasih...

Oleh: M. Adib Shofwan Sebuah kisah, ketika Nabi Ibrahim as duduk sendirian, datanglah seorang tamu serupa laki-laki. Usai berucap dan berjawab...

Keutamaan Air Zamzam

??? ?????? ?? ?????? ???? ?? ????? ????? ???? ??? ???? ?? ???????? ??? ???? ??? ?????? ?? ?????? Hendaklah ia memperbanyak salat di Al-Hijir,...

Tiga Cara Membangun Cinta pada Nabi Muhammad SAW

Oleh: M. Adib Shofwan Kecintaan kita pada Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu hal yang wajib kita pupuk dan kembangkan guna kesempurnaan...

Advertisement

Press ESC to close