Mengharap Sirr Para Ulama

Oleh: Muhamad Zubair Hasan*

Damai adalah salah satu tujuan dari adanya agama Islam di dunia ini. Seperti namanya, Islam yang berarti menyelamatkan, mengajarkan umatnya untuk mencari keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Dan selamat akan lebih mudah didapatkan ketika adanya perdamaian.

Maka tak heran, Rasulullah di beberapa kesempatan lebih memenangkan aspek kemanusiaan daripada aspek keagamaan, demi terwujudnya perdamaian. Sangat masyhur sekali peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, di mana Rasulullah mengalah dalam banyak hal keagamaan. Rasulullah rela menunda umrahnya, meski telah telah menempuh ratusan kilometer  dengan berjalan kaki bersama ribuan sahabat. Rasulullah rela menghapus lafal basmalah dan mengganti kata “Muhammad Rasulullah” dengan “Muhammad bin Abdillah” dalam draf Perjanjian Hudaibiyah. Beliau juga rela menandatangani draf perjanjian yang isinya merugikan Islam, semua itu demi menghindari pertumpahan darah antara Muslim dan kufar Makah. Demi mewujudkan perdamaian.

Itulah yang ditiru, di antaranya oleh para ulama yang ikut dalam perumusan Piagam Jakarta. Mereka rela menghapus 7 kata "dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Meski Islam adalah mayoritas di Indonesia, para ulama mau mengalah dan menghapus 7 kata itu, semua demi mewujudkan perdamaian di bumi NKRI. Mereka memilih jalan damai.

Jalan sendiri dalam Al-Qur'an disebutkan dalam tiga bentuk lafal, yang apabila tiga lafal itu diartikan dalam Bahasa Indonesia mempunyai arti yang sama,yaitu jalan. Meski begitu, sebenarnya ketiganya mempunyai arti yang berbeda. Tiga kata itu adalah Sabil, Thoriq, dan Shirot.

Sabil adalah jalan yang kecil. Jalan yang bisa jadi sudah beraspal atau belum. Bisa jalan yang baik, bisa juga jalan yang jelek. Maka tak heran Al-Qur'an dalam salah satu ayat mengingatkan, bahwa manusia dilarang mengikuti as-subul, dilarang mengikuti jalan-jalan yang bisa mencerai-beraikan manusia dari jalan-Nya.

Adapun thoriq bisa dikatakan jalan raya. Jalan bagus yang sudah beraspal. Jalan yang pernah dilalui banyak orang. Maka tak heran, dalam ilmu tasawuf menggunakan kata Thoriqah, bukan Sabilah, karena Thoriqah adalah jalan yang sudah dilalui oleh orang terdahulu, sudah pernah dilakukan oleh generasi sebelumnya, dan pelaku Thoriqah sekarang tinggal manut mengikuti apa yang sudah pernah dilakukan mursyidnya.

Adapun Shirat itu ibarat jalan tol. Jalan yang sangat lebar dan mudah dilalui. Jalan yang paling mulus. Dalam Al-Qur’an, shirat disebutkan 39 kali dan semuanya mempunyai makna yang baik, kecuali satu ayat pada QS Al-A’raf ayat 86 yang mengandung makna jalan yang biasa dialui kaum Madyan ketika menganggu kaum Nabi Syu’aib yang hendak beribadah. Itu menunjukkan, shirat secara umum mempunyai makna yang bagus. Dan orang yang bisa menuju shirat mustaqim, akan mudah baginya mendapatkan taufiq.

Taufiq mempunyai arti kecocokan antara dua orang atau dua pihak. Dalam Bahasa Indonesia, sepakat atau mufakat yang diserap dari Bahasa Arab, mempunyai akar kata yang sama dengan taufiq. Dalam QS. Huda ayat 88, diajarkan bahwa taufiq atau kesepakatan antara dua pihak yang paling penting adalah terwujudnya taufiq antara hamba dan Tuhannya. Maka,  Nabi Syu'aib ketika berdakwah kepada penduduk Madyan, beliau menegaskan bahwa beliau sama sekali tidak bermaksud untuk berselisih dengan kaumnya. Yang diharapkan Nabi Syu'aib dari kaumnya hanyalah islah. Munculnya kebaikan dari kaumnya. Karena bagi Nabi Syu'aib, taufiq beliau hanya dengan Allah.

Dan ketika seseorang telah mendapatkan taufiq Allah, ketika ada kecocokan antara Allah dan hamba-Nya itu, maka bisa dikatakan selesai baginya urusan dunia. Dunia sudah tak menarik lagi karena yang ada hanyalah Allah.

Derajat taufiq itulah yang telah dicapai oleh para ulama. Maka, hendaknya kita selalu dekat dengan ulama. Ulama yang sebenar-benarnya ulama. Kalau mereka telah berpulang ke Rahmatullah, hendaknya kita mengenang jasanya dan mendoakannya. Karena sesungguhnya, meskipun sama-sama manusia, para ulama mempunyai sirr tersendiri.

Ibarat ada dua orang yang memasak dengan bahan dan bumbu yang sama persis, atau dua penjahit yang menggarap kain yang sama dengan ukuran yang sama persis, tetap akan menghasilkan masakan yang rasanya beda dan baju yang berbeda pula. Itulah yang dinamakan Sirrul mihnah, rahasia profesi, yang dimiliki oleh para ulama dan tak dimiliki orang biasa.

Maka dengan mendoakan para ulama disertai doa:

???????? ?????? ????????????? ???????????? ????????????? ????????????? ???????????????? ??????????????? ??? ????????? ???????????? ?????????????

Maka sesungguhnya kita mendapatkan sesuatu yang lebih banyak dari apa yang kita berikan. Apalah yang bisa kita berikan, sebagai hamba yang hina, kepada para ulama? Tapi, berapa banyak yang akan kita dapatkan dari sirr yang dimiliki para ulama yang dekat dengan-Nya?

  • Tulisan ini terinspirasi dari tausiyah Prof. Dr. KH Quraish Shihab pada Haul Mbah Wildan dan Mbah Chamid pada Rabu, 10 April 2019. Penulis adalah santri asal Desa Pidodowetan Kec. Patebon Kab. Kendal.

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close