Oleh : Fahroji*
Harlah NU ke - 96 tingkat MWC NU Sukorejo tahun ini yang digelar Sabtu-Minggu (6-7/4) terasa lebih istimewa sekaligus menegangkan. Istimewa karena beragam acara digelar mulai dari Saresehan Pengusaha NU, Pengajian Umum, Bazar, Pentas seni dan jalan sehat. Hal itu merupakan terobosan baru dibanding tahun sebelumnya yang hanya menggelar pengajian umum.
Menegangkan karena Peringatan Harlah NU digelar ditengah-tengah kampanye Pemilu 2019 yang kian memanas terutama, suasana kampanye Presiden dan Wakil Presiden.
Komunikasi intel Polsek Sukorejo dengan MWC NU via telpon sering terjadi dibanding kegiatan sebelumnya. Tanggal 2 April saya dikabari bahwa rute jalan sehat bersamaan dengan Kirab Merah Putih Padepokan Ki Bodo asuhan Abah Gigik Kusiaji. Saya jawab, tidak masalah, karena tidak akan terjadi bentrok, karena sama-sama warga NU.
Tanggal 5 April saya dikabari lagi petugas Polres Kendal akan ketemu ketua MWC NU terkait acara Pengajian umum di gedung MWC NU yang bersamaan kampanye terbuka konvoi sepeda motor salah satu calon pasangan Presiden yang rutenya melewati jalan raya depan gedung MWC NU Sukorejo. Tetapi karena posisi saya di Semarang, pihak Polsek akhirnya minta mempertemukan petugas Polres dengan Ahmad Saefudin wakil ketua MWC NU Sukorejo.
Petugas Polres nampaknya juga bertemu dengan Abah Gigik di padepokan Ki Bodo, itu saya ketahui dari foto pertemuan yang dikirim lewat WA. Intinya, petugas Polres berharap padepokan Ki Bodo maupun MWC NU Sukorejo sama-sama menjaga kundusifitas dan meningkatkan keamanan dan kewaspadaannya apalagi kegiatannya bersamaan dengan kampanye terbuka konvoi sepeda motor salah satu calon padangan Presiden.
Banyak pihak kelihatanya memang mengkhawatirkan bila terjadi pertemuan masa antara warga NU yang sedang Harlah NU di gedung MWC NU Sukorejo jl. Kartini Kebumen dengan peserta konvoi calon Presiden tertentu, yang rencana juga akan melewati jalan Kartini Kebumen.
Panglima Patriot Garuda Nusantara (PGN) Kabupaten Kendal Muhlisin merasa perlu untuk ikut mengamankan Harlah NU ke -96 di gedung MWC NU Sukorejo. Menurut mantan pengurus IPNU Sukorejo era 90-an itu, Sukorejo memiliki sejarah bentrok masa seperti kasus FPI dan khutbah provokatif anggota JAT di Dusun Banon Desa Purwosari sehingga perlu diantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Jangan sampai peristiwa FPI dan JAT terulang kembali di Sukorejo. Oleh karenanya PGN siap turun lapangan mengamankan Harlah NU di Sukorejo," tegas Muhlisin.
Melalui pesan WA, ketua PC GP Ansor Kendal Muhammad Ulil Amri juga mengaku ikut memonitor Harlah NU ke 96 di Gedung NU Sukorejo. Ia berpesan, jika dibutuhkan, MWC NU bisa koordinasi dengan PC GP Ansor Kendal untuk menurunkan Banser dari kecamatan terdekat seperti Plantungan, Pageruyung dan Patean.
Sabtu pagi (6/4) di sepanjang jalan Kartini Kebumen depan gedung MWC NU Sukorejo dalam radius 100 Meter pasukan Banser dibawah komando Komandan Satkoryon Sukorejo Subandrio dan Patriot Garuda Nusantara (PGN) Kendal dibawah pimpinan Panglima Muhlisin berbaur menjadi satu membuat pagar betis di kanan kiri jalan raya mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan jika konvoi kampanye terbuka benar-benar akan dilewatkan depan gedung MWC NU Sukorejo. Petugas Polsek Sukorejo juga tidak ketinggalan ikut berbaur dengan Banser dan PGN sambil mengatur lalulintas jalan raya.
Namun pihak keamanan nampaknya tak mau ambil resiko, konvoi kendaraan bermotor yang mengambil start lapangan Desa Saron Plantungan yang akan menuju Patean lewat Kebumen setelah sampai Pertigaan Selokaton akhirnya dialihkan ke utara lewat Pageruyung. Agak jauh, tapi lebih aman untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Meskipun akhirnya konvoi tidak jadi lewat depan gedung MWC NU Sukorejo, kumpulnya berbagai kekuatan NU baik struktural mau kultural telah menguatkan mental mengokohkan persatuan warga NU di Sukorejo. Semoga NU Sukorejo bertambah kuat dan barokah.
* Penulis adalah Ketua MWC NU Sukorrejo