Sambutan Ketua MWC NU Sukorejo dalam Sarasehan Pengusaha NU

...

Oleh: Fahroji

Alhamdulillah pada siang hari ini kita bisa bersilaturrahim dalam acara Sarasehan Pengusaha NU Sukorejo yang mengangkat tema " Menguatkan Basis Ekonomi Kerakyatan". Saresehan ini digelar merupakan kegiatan awal dari serangkaian jadwal yang sudah dibuat panitia untuk memperingati Harlah NU ke-96 berdasarkan penghitungan penanggalan tahun Hijriyah yang akan jatuh pada tanggal 16 Rajab 1440 H.

Sebagaimana kita ketahui Nahdlatul Ulama lahir di kota Surabaya. Surabaya diera 1900 sampai 1940-an merupakan kota dagang dan industri yang sangat besar melebihi Batavia (Jakarta), lebih maju dari pusat industri di Kyoto Jepang ataupun Kalkuta dan Bombay India. Saat itu Singapura, Hongkong dan Tokyo masih berada di belakang Surabaya. Surabaya selain merupakan pusat perdagangan dan industri juga merupakan kota minyak yang kaya, sehingga merupakan pusat perdagangan dunia yang telah menetapkan teknologi paling canggih produk revolusi industri. Maka tidak aneh jika para kyai pesantren di kota Surabaya banyak terlibat dalam berbagai bisnis baik antar kota, pulau, bahkan antar benua. Pusat perdagangan dan industri saat itu berada di Pabean dekat Ampel. Walaupun NU lahir di kota metropolitan Surabaya yang berwatak metropolis, tetapi tetap bersifat populis giat membangun masyarakat desa dan masyarakat terbelakang pada umumnya. (Abdul Mun'im DZ, 2011, dalam Piagam Perjuangan Kebangsaan)

Melihat potensi itu para ulama memandang tidak ada cara lain untuk memperkuat gerakan Islam kecuali dengan mendirikan lembaga dagang yang dikelola kyai pesantren sehingga berdiri Nahdlatut Tujjar (1918) dengan badan usahanya bernama 'Al Inan'. Kelompok inilah yang kemudian berhasil mengumpulkan dana untuk membiayai Komite Hijaz menyampaikan aspirasi warga NU menghadap raja Arab Saudi. Muktamar NU awal-awal saat itu juga banyak ditopang pendanaannya dari para saudagar itu.

Melihat fakta sejarah itu, maka MWC NU Sukorejo memandang perlu untuk menggugah para pedagang dan pengusaha di Sukorejo yang secara kultur banyak mengamalkan tradisi keagamaan seperti tahlil, yasin, sholawat dan seterusnya, namun belum terorganisir sesuai dengan komunitasnya sehingga potensi dan kekuatannya belum menjadi satu menjadi kekuatan yang dahsyat untuk kemaslahatan umat.

Sukorejo sebagai salah satu penyangga perekonomian Kabupaten Kendal yang berada pada dataran tinggi memiliki potensi berkembang menjadi kota dagang lantaran letak strategisnya. Jalur tranportasi Sukorejo-Semarang, Sukorejo-Magelang dan Sukorejo-Pekalongan memungkinkan Sukorejo menjadi pusat perdagangan yang maju. Parameter ini bisa dilihat dengan panjangnya pasar Sukorejo dari Bunderan sampai Terminal, banyaknya Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang tumbuh subur di Sukorejo juga mengisyaratkan Sukorejo akan tumbuh menjadi kota dagang yang maju.

Dari sisi topografis Sukorejo dengan ketinggian sekitar 700 meter diatas permukaan laut (dpl) dengan suhu udara yang sejuk, cocok untuk hidup berbagai jenis flora dan fauna termasuk jenis unggas seperti ayam. Berbagai jenis hasil bumi dan peternakanpun kemudian banyak berkembang di Sukorejo.

Potensi di atas tentu saja menjadi daya tarik orang untuk datang dan menetap di Sukorejo. Konsekuensi dari itu, di Sukorejo banyak dijumpai warga pendatang dengan beragam latar belakang etnis, suku, agama dan ideologi. Sehingga pergumulan, percaturan dan dinamika masyarakat Sukorejo menjadi sebuah keniscayaan.

Ditengah-tengah percaturan kehidupan masyarakat Sukorejo itulah MWC NU Sukorejo merasa perlu terus menerus melakukan pembenahan konsolidasi organisasi, mengambil peluang, menambal kekurangan dan memanfaatkan potensi agar Nahdatul Ulama di Sukorejo tidak termarginalkan tetapi berada ditengah-tengah percaturan dinamika masyarakat Sukorejo sebagaimana paham tawasuth yang dikembangkan NU.

Banyaknya warga NU yang mulai sukses dalam perdagangan dan pengusaha adalah salah satu potensi yang ada di MWC NU Sukorejo yang perlu diwadahi, diorganisir dan diberdayakan serta dikembangkan untuk kemaslahatan umat melalui jam'iyyah Nahdlatul Ulama. Akhirnya dengan spirit Nahdlatut Tujjar semoga sarahan Pengusaha NU Sukorejo ini akan membawa kemanfaatan dan keberkahan. Aamiin

Sukorejo, 16 Maret 2019

MWC NU Sukorejo

Ketua,

Fahroji

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close