MANU 10 Sukorejo: Menegaskan Komitmen Sebagai Madrasah Kader

...

oleh: Fikri*

Perhelatan Konferencab XI IPNU-IPPNU Sukorejo sudah berlalu. Peserta telah kembali ke komisariat dan ranting masing-masing. Mereka baru saja bermusyawarah untuk menentukan nasib PAC IPNU-IPPNU Sukorejo untuk dua tahun ke depan. Salah satu keputusan pentingnya adalah menetapkan rekan Lukman Hakim dan rekanita Mardliyah untuk menahkodai PAC IPNU-IPPNU Sukorejo masa khidmat 2018-2020.

Terpilihnya kedua alumni MANU 10 Sukorejo itu tentu membuat gembira kepala madrasah, Ahmad Saefudin, dan segenap keluarga besar madrasah tersebut. Kegembiraan itu bukannya tanpa alasan, lantaran selama dua periode berturut-turut, ketua PAC IPNU-IPPNU Sukorejo dipegang oleh jebolan MANU 10 Sukorejo. Ketua PAC IPNU-IPPNU periode sebelumnya, Ahmad Isro'i dan Ma'rifatun Maghfiroh keduanya juga alumni MANU 10 Sukorejo. Tepatnya, mereka adalah angkatan kedua.

Tidak hanya itu, Konferancab XI kemarin juga berasa MANU 10 Sukorejo. Saat acara opening ceremony, petugas didominasi oleh kader MANU 10 Sukorejo. Sebut saja tim paduan suara yang membawakan lagu Indonesia Raya,  Subhanul Wathon dan mars IPNU IPPNU. Mereka dari MANU 10. Petugas qori' juga diambil dari MANU 10 Sukorejo, yakni Fatin Annisa Afrikhah yang beberapa waktu lalu juara II MTQ putri pada PORSEMA XI Kendal 2019. Belum lagi sambutan ketua MWC NU Sukorejo, Fahroji,  yang kebetulan juga pengajar di MANU 10. Hal itu semakin memperlihatkan kentalnya dominasi MANU 10 Sukorejo dalam gelaran Konferancab tersebut.

Tampilnya alumni MANU 10 Sukorejo selama dua periode berturut-turut dalam tampuk pimpinan PAC IPNU-IPPNU Sukorejo tentu bukan hasil kerja instan, tapi merupakan proses panjang kerja keras keluarga besar MANU 10 Sukorejo dengan segala keterbatasannya. Keberhasilan alumni MANU 10 Sukorejo menduduki pimpinan IPNU IPPNU Sukorejo secara tidak langsung juga menegaskan komitmennya sebagai "Madrasah Kader".

Ibarat mengerjakan meubelir, SLTA adalah tahap finishing atau pemelituran. Perumpamaan itu pernah disampaikan ketua PCNU Kendal yang waktu itu dijabat KH.  Asro' i Thohir dalam sebuah acara di MI NU 45 Trimulyo Sukorejo. Waktu itu,  MANU 10 Sukorejo belum berdiri.

Apa yang dikatakan kyai Asro'i, tentu saja untuk menggugah MWC NU Sukorejo yang baru memiliki MTs NU 13 Arrahmat. "Kalau hanya punya tingkat MTs, nanti yang 'memoles' orang lain," tutur Kyai Asro'i yang saat ini menjabat ketua MUI Kendal.

Nampaknya, apa yang disampaikan Kyai Asro'i bukan isapan jempol. Banyak anak-anak alumni MTs NU 13 Arrahmat Sukorejo yang saat belajar diajari sholat subuh dengan doa Qunut melanjutkan di sekolah "milik tetangga", maka amaliyah ke-NU-an mulai luntur.

Disinilah pentingnya NU di tingkat kecamatan untuk memiliki sekolah setingkat SLTA.  Mengingat, sekolah NU tidak sekadar bentuk peran NU dalam ikut mencerdaskan anak bangsa. Lebih dari itu, lembaga pendidikan NU berfungsi sebagai lembaga pengkaderan Nahdlatul Ulama.

Berdirinya MA NU 10 Sukorejo dilatarbelakangi oleh kebutuhan warga NU Sukorejo untuk mengenyam wajib belajar 12 tahun. Proses berdirinya dilakukan oleh Tim Sembilan selaku panitia pendirian yang rata-rata aktifis muda NU Sukorejo pada 14 Juni 2006. Sebelum mendapat ijin operasional dari Kementrian Agama Kendal, madrasah ini merupakan kelas jauh dari MANU 09 Darussa'adah Rowosari Kendal.  Dua tahun kemudian, tepatnya tanggal 8 Mei 2008, MANU 10 Sukorejo mendapatkan SK Pendirian dari Kantor Kementrian Agama Propinsi Jawa Tengah.

Dengan "melakukan pengkaderan sejak dini", yang menjadi salah satu tujuan didirikanya MANU 10 Sukorejo, madrasah ini disamping konsen dalam bidang akademik juga fokus pada pengkaderan organisasi dari tingkat bawah (IPNU-IPPNU).

Untuk mewujudkan tekadnya menyiapkan kader  pemimpin IPNU-IPPNU Sukorejo, MANU 10 Sukorejo kemudian banyak melakukan pelatihan kepemimpinan dan organisasi, baik melalui Osis maupun komisariat IPNU-IPPNU. Background kepala MANU 10 Sukorejo, selaku mantan ketua PAC Sukorejo, juga ikut mendukung komitmen MANU 10 sebagai madrasah kader IPNU IPPNU.

Untuk menyiapkan kader IPNU IPPNU, Saefudin tidak sendirian. Ahmad Jupri, mantan ketua PAC IPNU pertama sekaligus pendiri IPNU Sukorejo juga terlibat sebagai tenaga pengajar.  Terakhir kembalinya Fahroji  ikut kembali mengajar di MANU 10 setelah sepuluh tahun non aktif mengajar semakin menegaskan komitmen MANU 10 Sukorejo dalam mempersiapkan kader-kader pemimpin IPNU-IPPNU Sukorejo.

Meskipun unggul dalam pengkaderan, bukan berarti MANU 10 Sukorejo tidak berprestasi dalam bidang lain.  Banyak prestasi MANU Sukorejo yang telah diukir. Yang paling baru, siswanya meraih juara II MTQ kategori putri dan juara pertama lari marathon putri pada ajang Porsema XI Kendal 2019. Output MANU 10 Juga banyak diterima di perguruan tinggi. Diantaranya Unnes Semarang melalui berbagai jalur, seperti jalur bidik misi.

Diusianya yang genap 12 tahun diharapkan MANU 10 Sukorejo akan semakin berbenar diri dan banyak mengukir prestasi.  Semoga.

  • Penulis adalah Warga NU Sukorejo.

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close