Pergunu Harus Menarik Bagi Guru NU

...

Oleh Fahroji

Baru sebulan saya "kembali ke habitat" mengajar sehingga belum pas rasanya jika ikut-ikutan menulis terkait guru NU. Namun, Konfercab Pergunu Kabupaten Kendal, Ahad (10/2) serasa telah mengusik memori otak saya tentang persoalan yang dihadapi guru NU. Karena bagaimanapun, saya pernah menjadi guru di MTs NU Arrahmat Sukorejo sejak 1994 sampai 2008.

Secara kuantitas, jumlah guru NU di Kabupaten Kendal cukup banyak. Terutama yang mengajar di sekolah Ma'arif NU baik tingkat SLTA seperti MANU, SMK NU, SMA NU, dan tingkat SLTP (MTs NU/SMP NU), atau tingkat dasar (MI NU/SD NU). Selebihnya adalah guru NU yang mengajar di sekolah negeri maupun swasta di luar LP Ma'arif NU.

Jika dilihat hakekat guru NU secara lebih luas, tentu jumlah guru NU jumlahnya bisa membengkak, karena ada guru Madin, TPQ dan ustadz-ustadzah pondok pesantren. Namun dilihat dari aktifis dan pengurus Pergunu Kendal yang mau berkecimpung dan mengorgonisir diri cenderung mereka adalah teman-teman guru yang ada di sekolah formal.

Pergunu mempunyai problem sama dengan organisasi induknya NU, besar dalam kuantitas dan terbatas dari sisi kualitas.  Anggota Pergunu didominasi oleh guru-guru swasta yang honornya dipatok "sesuai kemampuan madrasah atau sekolah". Memang ada guru atau dosen NU yang PNS, atau era sekarang bersertifikasi dan impassing. Namun demikian, prosentasenya tetap saja kecil dibanding guru NU yang menjadi GT (guru tetap) dan GTT (guru tidak tetap) LP Ma'arif NU.

Untuk dapat bertahan menjadi guru,  guru- guru NU yang swasta itu rata-rata mempunyai profesi lain seperti petani, pedagang,  makelar,  dai  dan seterusnya.  Mereka menyebutnya sebagai profesi sampingan, meskipun pendapataanya kadang lebih besar dari profesi guru swasta. Tetapi, mereka lebih "enjoy" disebut guru. Tentu saja hal itu dibangun dari kesadaran kemuliaan profesi sebagai guru dan niatan mengamalkan ilmu yang diyakini tidak akan putus setelah mati.

Disamping problem kesejahteraan, para guru NU mayoritas juga menjadi pengurus organisasi induknya, NU, di masing-masing kecamatan. Ditambah lagi tuntutan peningkatan kualitas pembelajaran disertai administrasi pendidikan yang ketat.  Jam kerja sampai sore.

Semua tugas dan beban di atas tentu menjadi beban tersendiri bagi guru NU yang swasta yang dari sisi pendapatan memang "jomplang" dibanding beban yang dipikulnya. Kondisi ini sering menjadikan guru menjadi tertekan sehingga terbawa emosi saat mengajar murid. Oleh karena kita sering mendengar guru dilaporkan polisi karena dianggap menganiaya muridnya.

Dari persoalan-persoalan itulah menurut saya Pergunu Kendal harus mulai mungambil peran. Karena hakekat orang berkumpul dan mengorganisir diri dalam sebuah komunitas adalah kebutuhan menyelesaikan persoalan bersama secara terorganisir.

Oleh karenanya, Pergunu Kendal harus bisa merumuskan program kerja yang menarik dan "seksi" bagi guru NU. Jika itu berhasil, insya Allah Pergunu Kendal akan menjadi besar.  Akhirnya saya ucapkan selamat Berkonfercab.  Jayalah Pergunu Kendal.

  • Penulis adalah Guru MANU 10 Sukorejo

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close