Politikus NU Kumpul, Sisi Lain Harlah NU ke-93 Kendal

...

Oleh: Fahroji

Setiap NU punya hajat besar biasanya para kader NU yang tersebar diberbagai profesi berkumpul baik diundang ataupun tidak. Begitu juga dengan gelaran Harlah NU Ke- 93 tingkat Cabang Kendal, Minggu-Senin (3-4/2) banyak kader-kader NU yang sudah malang melintang di Jakarta berkumpul di Gedung NU Kendal.

Salah satu yang menarik dan menjadi perhatian publik adalah jika kader NU yang berprofesi sebagai politikus yang tersebar diberbagai partai politik itu kumpul bareng. Perhatian publik  mengarah ke sana lantaran Harlah NU tahun ini dihelat mendekati pesta demokrasi Pemilu 2019, sebuah pesta demokrasi yang terumit sepanjang sejarah Pemilu di Indonesia karena menggabungkan Pileg,  Pemilihan DPD dan Pilpres sekaligus dalam satu waktu.

Siang itu tampak hadir Arifin Junaedi caleg PKB  yang juga ketua PP LP Ma'arif NU,  Mujib Rahmat caleg Golkar, Fadholi caleg Nasdem, Muqowwam caleg PPP. Semuannya adalah caleg DPR RI.

Mustamsikim ketua DPC PPP Kendal juga kelihatan. Hadir pula Beni Karnadi caleg PKB Jateng. Sudah tentu kehadiran Beni Karnadi disertai istrinya Niken Larasati caleg PKB Dapil 4 Kendal yang juga ketua DPAC PKB sukorejo.  Namun saya sangat menyayangkan mbak Niken,  kesediaanya dipilih menjadi ketua DPAC PKB Sukorejo tidak dibarengi dengan keikhlasannya melepas Ketua PAC Muslimat Sukorejo.

Melihat banyaknya politikus NU yang datang dan kelihatan akrab bercengkrama,   ngobrol ngalor ngidul sambil tertawa "renyah", entah apa yang diobrolkan,  setidaknya secara lahir mereka tidak ada masalah. Kedewasaan berpolitik dan menempatkan masalah pada tempatnya seakan sudah teruji. 

Kumpulnya mereka di Gedung NU Kendal setidaknya menunjukan bahwa mereka tidak lupa  dengan NU yang pernah membesarkan namanya. Ibarat pepatah "kacang tidak lupa kulitnya".

Fenomena kader NU sering lupa NU ketika mendapat jabatan publik ini juga sempat disentil oleh ketua PC NU Kendal KH. Muhammad Danial Royyan saat sambutan pelantikan Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN). "Penyakit kader NU adalah sering lupa kepada NU ketika mendapat jabatan di Pemerintahan atau jabatan publik".

Kumpulnya para politikus NU dengan suasana keakraban dan kehangatan setidaknya juga diharapkan bisa mengendorkan ketegangan, meredam konflik ditingkat akar rumput.  Saya agak miris juga melihat warga NU di desa yang berselisih sampai mau "jotosan" hanya karena beda pilihan. Bahkan ada mertua dan menantu yang tidak akur karena beda partai.

Padahal, seperti yang saya lihat di gedung NU saat itu mereka "jaduman cipika -cipiki" tertawa "cekaka'an" duduk dilantai gedung NU tingkat bawah tanpa mengingat-ingat "kursi empuknya di Senayan. Sudah barang tentu suasana itu lahir karena mereka merasa sesama kader NU sehingga "Baju Partai" mereka tanggalkan untuk sesaat.

Semoga saja kehadiran mereka benar-benar panggilan jiwa bahwa mereka adalah kader NU sejati yang sedang "disewa partai" untuk kemudian sesekali "mudik ke rumahbesarnya NU" sambil membawa "buah tangan".

Kita tidak berharap kehadirannya hanya "pamer kesuksesan" tetapi tidak membawa keberkahan bagi NU. Kita juga mafhum kehadiran politikus di ranah publik sering dicurigai sebagai membawa "berjuta-juta kepentingan"

Ada yang menilai kehadiran seorang politikus sekedar "setor muka", mencari dukungan. lebih parang lagi ada yang "mengadu domba".

KH. Ma'ruf Amin, Mustasyar PBNU, saat berceremah di alun-alun Kendal bahkan menyindir para politikus sering memanfaatkan NU sebagai "Daun Salam" dan NU sering diminta "mendorong mobil mogok".

Semoga kehadiran para politikus NU dalam Harlah NU ke-93 kali ini tidak dalam rangka mencari "Daun salam" dan mencari temannya untuk "mendorong mobilnya yang mogok". Yang lebih penting lagi para kyai,  tokoh dan warga NU jangan mau dijadikan " Daun Salam" dan "mendorong mobil mogok".

Sejauh ini kita masih khusnudzon kehadirannya membawa berkah bagi NU. Semoga.

Penulis adalah Ketua MWC NU Sukorejo 

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close