Tersibak

...

Hujan yang senantiasa meruang
Sejak kebangunanku hingga entah kapan
Jenggeret, sejenis serangga, malas belajar paduan suara
Burung-burungpun sembunyi
Menunda ocehannya untuk esok hari
Disini ...
Dari celah dinding rumah
Aku melihat perempuan tua bertaruh nasib hari ini
Dengan langkah gontai
Ikhlas menjajakan dagangan
Tak sedikitpun nampak kemurungannya
Sementara ...
Demi sebungkus rokok
Aku harus menggerutu kepada Tuhan
Lantaran terhalang hujan dari warung sebelah
Bahkan ...
Ke masjidpun mulutku mengumpat, hatiku menggugat
Hujan yang senantiasa meruang.
Kini ….
Kau sibak kemunafikan

Wong Gunung

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close