K.H. Fahrur Qosidi Weleri, Sang Rois Syuriyah NU Termuda

...

Oleh: Sisma Zulianti

Pada lazimnya image masyarakat, terutama masyakat NU (Nahdliyin), begitu mendengar kata Rois Syuriah (Jabatan tertinggi yang ada di NU), umumnya dijabat oleh orang yang menguasai berbagai kitab kuning, sebagai rujukan keilmuannya. Dan orangnya sudah berusia lanjut. Image yang terakhir ini, tak berlaku untuk K.H. Fahrur Qosidi, karena ia pernah dinobatkan sebagai Rois Syuriyah termuda di Indonesia. Penghargaan sebagai Rois Syuriah termuda itu diberikan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kendal. Pada saat itu, PCNU Kendal dinahkodai oleh Drs. H. Ali Chasan Umar, M.Si. dan usia K.H. Fahrur Qosidi baru 35 tahun.

Perawakannya cukup tambun. Ketambunannya bukan berarti membuat kelambanan dalam beraktifitas. Hal itu ditengarai dengan berbagai macam aktifitas diberbagai organisasi. Selain sebagai Rois Syuriyah Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Weleri, ia juga anggota Dewan Syuro PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) Cabang Kendal. Selain itu, K.H. Fahrur Qosidi adalah da’i yang cukup terkenal di wilayah Kecamatan Weleri dan mulai merambah ke wilayah kecamatan sekitar, seperti Rowosari, Kangkung, Ringinarum, Cepiring, Pageruyung dan sebagainya. Di tengah kesibukannya, ia masih menyempatkan khidmah sebagai pengajar di MDA Tratemulyo dan mengajar Alquran pada malam harinya.

Berasal dari keluarga kiai, Fahrur Qosidi terlahir dari pasangan Kiai Abu Nashori dan Suwati pada 7 Mei 1977 di Desa Tratemulyo. Ia adalah anak ke 3 dari 4 saudara, Siti Azizah, Zumrotun, Fahrur Qosidi dan Ahmad Sohuron. Ayahnya, Kiai Abu Nashori adalah seorang petani yang ulet, dan imam masjid di Desa Tratemulyo. Sedangkan ibunya, Suwati hanya sebagai ibu rumah tangga. Keduanya sangat gigih dalam menempa pendidikan putra-putrinya. Terbukti, saat ini 2 putranya menjadi tokoh masyarakat. Fahrur Qosidi menjadi Rois Syuriah MWC NU Weleri, dan Ahmad Sohiron, S.Pd.I menjadi pengajar di MI NU Karanganom.

Riwayat pendidikan K.H. Fahrur Qosidi dimulai di SD N 2 Tratemulyo Weleri. Sore harinya ia belajar di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Desa Tratemulyo. Pada malam harinya, ia belajar Alquran pada ayahnya sendiri, Kiai Abu Nashori. Setelah lulus SD pada tahun 1989, ia melanjutkan pendidikannya di MTs NU 04 Muallimin Weleri dan lulus pada tahun 1992. Tahun berikutnya, ia melanjutkan studi di Jawa Timur tepatnya di MA Alhusna Pondok Pesantren Mahir Arriyadl Ringinagung, Kediri. Tak sampai di situ, ia pun melanjutkan belajarnya di Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo, Magelang hingga tahun 1999. Kedahagaannya akan ilmu membuatnya tak puas diri. Setelah selesai menimba ilmu di Tegalrejo, ia hijrah ke Jakarta menempuh kuliah di Pondok Pesantren Al-Mahbubiah. Namun ketiadaan biaya memaksa studinya tak sampai sarjana. Ia drop out dan hanya menempuh kuliah selama 3 tahun.

Serentetan pengalaman organisasi pernah ia jalani. Berawal dari menjadi Wakil Ketua IPNU Ranting Tratemulyo (1990-1991) namun setelah itu ia meninggalkan kegiatan organisasi karena menempuh studi di beberapa Pondok Pesantren. Sepulang dari pesantren, jiwa pengabdiannya pada organisasi NU tumbuh kembali. Ia pun didaulat menjadi Ketua Tanfidziyah Ranting NU Tratemulyo. Katib Syuriyah MWC NU Weleri-pun ia jabat di tahun 2003. Pada konferensi MWC NU Weleri tahun 2012, ia terpilih menjadi Rois Syuriah MWC NU Weleri sampai sekarang.

Pada tahun 2003 K.H. Fahrur menemukan pasangan hidupnya. Ia menikahi seorang gadis bernama Rumiyatun. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai 2 orang anak, Farid Faqih Abdillah dan Hana Fahrunnisa’. Mereka tinggal di Desa Tratemulyo, tepatnya di sebelah barat Masjid Desa Tratemulyo, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal.

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close