Aku paksa perutku keroncongan
Aku tinggalkan sarapan pagi beserta kopi manisnya
Aku singkirkan makanan siang beserta minuman segarnya
Untuk apa?
"Puasa," kataku.
Aku terjang buta malam,
Aku lawan dingin pagi,
Aku timpuk muka dengan kebekuan air
Tangan terangkat sembari mengucap kebesaran Tuhan
Tubuh merukuk mengucap kesucian Tuhan
Jidat tersungkur mentasbihkan Tuhan
Untuk apa?
" Shalat " kataku.
Namun ...
Perutku belum juga mual menerima yang tidak halal
Mataku masih terus saja mencari cari aib sesama
Telingaku nyaman mendengar gosip-gosip tetangga
Sementara ...
Mulutku tetap saja culas
Yang nyata ...
Dan senyata nyatanya
Aku hanyalah seonggok daging yang ikut hadir di mayapada.
Wong Gunung