Nyatanya

...

Aku paksa perutku keroncongan

Aku tinggalkan sarapan pagi beserta kopi manisnya

Aku singkirkan makanan siang beserta minuman segarnya

Untuk apa?

"Puasa," kataku.

Aku terjang buta malam,

Aku lawan dingin pagi,

Aku timpuk muka dengan kebekuan air

Tangan terangkat sembari mengucap kebesaran Tuhan

Tubuh merukuk mengucap kesucian Tuhan

Jidat tersungkur mentasbihkan Tuhan

Untuk apa?

" Shalat " kataku.

Namun ...

Perutku belum juga mual menerima yang tidak halal

Mataku masih terus saja mencari cari aib sesama

Telingaku nyaman mendengar gosip-gosip tetangga

Sementara ...

Mulutku tetap saja culas

Yang nyata ...

Dan senyata nyatanya

Aku hanyalah seonggok daging yang ikut hadir di mayapada.

Wong Gunung

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close