Oleh: Fahroji
Salah persepsi sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Informasi yang kita sampaikan sering diterima beda dengan apa yang kita maksud.
Senin siang (14/1/19) saya pulang dari Kendal bersama istri. Sampai bunderan Sukorejo istri mengajak makan mie ayam. Saya paham, ia pasti cari yang juga jual bakso. Karena ia tahu saya tidak suka mie ayam. Ya, selera suami istri kadang memang beda. Itu baru soal makan lho, belum lainnya hehe..
Sampai di Bunderan Sukorejo kami segera cari warung mie ayam. Istripun segera pesan "Mbak, mie ayam kalih bakso setunggal nggih" (mie ayam 1 dan bakso 1) “Nggih mbak," jawab si penjual.mie ayam
Tak lama kemudian hidanganpun datang. Tapi, betapa kagetnya, ternyata yang dihidangkan dua mangkok mie ayam dan satu mangkok bakso. "Lho mbak kok tiga, yang satu untuk siapa?,” tanya istri.
Tak mau disalahkan, si penjual mie ayam menjawab "Lho, katanya tadi mie ayam kalih bakso setunggal". Saya dan istripun saling berpandangan tanda ada salah persepsi dari si penjual mie ayam. "Kalih" yang dimaksud istri adalah "dan". Artinya mie ayam dan bakso masing-masing satu mangkok. Sedangkan "kalih" yang dipahami si penjual adalah dua mangkok mie ayam dan satu mangkok bakso. Kalau dalam bahasa Indonesia istilah ini sering disebut homofon, satu kata punya dua makna.
Untuk menetralisir keadaan saya pun ikut komentar dengan nada guyonan " sudahlah mbak dibungkus saja, biar untuk tambah istri di rumah. Istri saya pengemar berat mie ayam lho".
Suasanapun cair, walaupun saya tahu bagaimana rasanya mie ayam kalau sudah dingin, tentu menghilangkan selera makan.
Saya tidak tahu apakah penjual mie ayam itu benar - benar salah persepsi atau tidak. Pasalnya dilihat dari raut mukanya tidak menampakkan sedikitpun perasaan bersalah. Permohonan maaf atas kesalahan service kepada konsumen yang dilakukannya sama sekali tidak terucap sampai saya bayar apa yang dihidangkan dan kemudian pulang.
Aah... jangan-jangan itu trik bisnis gaya baru agar jualannya laris ya?, gumamku. Jika dia salah persepsi, tentunya segera minta kejelasan karena kami datang berdua masak pesen tiga?.
Yah.... benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu sering dilakukan orang sepanjang dinilai menguntungkan dirinya. Demikian juga dalam dunia politik. Dalam tahun politik ini kadang orang bersikap seperti peribahasa "Kura-kura dalam perahu". Pura-pura tidak tahu.
Sudah tahu aturan main, tapi tetap dilanggar dengan pura-pura tidak tahu aturan. Setelah itu ia minta fatwa ke tokoh atau sesepuh. Repotnya orang yang ditokohkan justru benar-benar tidak tahu aturan main yang dimaksud dan kemudian berpendapat seperti yang diharapkan penanya.
Dengan demikian salah persepsi bisa saja benar-benar terjadi dalam kehidupan sehari -hari. Atau lawan bicara kita bersikap "kura-kura dalam perahu", sambil memanfaatkan situasi. Oleh karenanya kita perlu berhati - hati dalam berkomunikasi.