Oleh: Anomadi Beberapa bulan yang lalu tepatnya pada Kamis (8/6/2023) malam, sebuah insiden kecelakaan mengguncang Jalan Pantura Karangsuno Cepiring, Kendal. Sebuah becak yang ditumpangi seorang ibu dan dua anak mengalami kecelakaan dan tercebur ke saluran sungai irigasi. Kejadian itu menghadirkan kesedihan mendalam karena satu dari kedua anak yang menjadi penumpang adalah bayi yang baru berusia satu bulan. Ia hanyut dan terbawa arus sungai yang kemudian ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Minimnya tanggul yang melindungi pinggir sungai di tepi jalan raya menjadi sumber kekhawatiran dan bahaya bagi para pengguna jalan. Kejadian-kejadian kecelakaan tragis terjadi ketika kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba terjun ke dalam sungai. Pemandangan sepanjang jalan raya berubah menjadi tempat mengerikan yang merenggut nyawa bila pengendara kehilangan kontrol atau perhatian teralihkan meski hanya sekejap karena kurang konsentrasi, maka nasib tragis menanti di dasar sungai yang dalam. Bila melihat kecelakaan yang terjadi di tempat tersebut, setidaknya kita akan menemukan 2 faktor utama penyebab kecelakaan. Pertama, kondisi jalan yang kurang aman dan tidak memadai untuk mencegah kendaraan tercebur ke sungai. Kedua, kesadaran pengemudi tentang bahaya dan tindakan pencegahan yang perlu diambil saat melintas di dekat sungai. Oleh sebab itu, diperlukan kerja sama yang kuat antara pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi masalah ini. Situasi ini membutuhkan perhatian serius dan tindakan kolektif dari pemerintah, lembaga terkait, serta masyarakat. Dengan kerja sama yang erat, kita berharap ada tindakan nyata dalam mengatasi kondisi jalan raya dan kesadaran keselamatan di sekitar sungai Karangsuno Cepiring. Keselamatan adalah hak setiap individu dan minimnya tanggul di pinggir sungai harus segera diatasi untuk mencegah lebih banyak korban.
Penulis adalah Guru Produktif Kuliner SMK NU 01 Kendal