Oleh: Fahroji
Ketika istirahat di ruang transit Pelatihan Jurnalistik V yang diselenggarakan NU Kendal Online (NUKO), Ahad (6/8) di MA NU Al Ma'arif Boja, saya sempat ngobrol dengan sekretaris NUKO yang baru Siswanto. Saat itu saya tanya, "Apa hal baru setelah NUKO berubah menjadi Badan Khusus PCNU Kendal?" Secara spontan ia menjawab, "SK-nya yang baru".
Saya tidak tahu apakah itu jawaban berkelakar ataukah jawaban serius apa adanya. Sesaat kemudian, Mas Sis, demikian saya biasa menyapa, justru menyampaikan rasan-rasan dari sekretaris PC NU Kendal Abdul Said bahwa NUKO jarang-jarang memberitakan kegiatan PCNU Kendal.
Rasan-rasan sekretaris PCNU Kendal itu saya kira ada benarnya. Pada kesempatan lain ketika acara Kopdar Kontributor NU Jateng Online yang dibarengkan Muskerwil PWNU Jateng di Masjid Agung Jolotundo Semarang beberapa waktu lalu, Pimred NU Online Jateng sempat saya minta komentarnya tentang NUKO. Ia memberi penilaian bahwa NUKO belum kelihatan kalau itu media milik PCNU Kendal dalam arti belum banyak berita terkait informasi atau kebijakan PCNU Kendal yang bisa dibaca warganya. Berita masih didominasi kegiatan tingkat MWC dan Ranting.
Dua komentar di atas faktanya memang sering terjadi. Disaat media lain memberitakan kegiatan PCNU justru NUKO sering absen tidak menurunkan berita apa-apa. Jika itu terjadi pada media profesional, tentu wartawan akan mendapat "damprat" dari pimpinan redaksi.
Namun karena NUKO masih merupakan media komunitas dan amatir pemred belum bisa berbuat apa-apa atas absennya NUKO dalam memberitaan kegiatan PCNU Kendal. Sekedar informasi, sampai hari ini konten NUKO masih mengandalkan suplai artikel mupun berita dari para kontributor (penyumbang). Mereka tentu menulis sekedar hobi atau ingin berkhidmat dengan tulisan melalui NUKO atau bahkan sekedar media berlatih untuk yang baru mengikuti pelatihan jurnalistik.
Umumnya para kontributor dalam mencari bahan tulisan menggunakan peribahasa, "Sambil menyelam minum air" berdasarkan apa yang dilihat, dialami dan dirasakan saat mengikuti kegiatan organisasi. Jika ia aktif di Ansor, maka ia akan menulis tentang Ansor. Jika ia aktifis di Fatayat maka akan menulis Fatayat dan seterusnya.
Minimnya pemberitaan NUKO untuk kegiatan PCNU Kendal dan beberapa Banom maupun lembaga tingkat cabang yang terjadi sangat mungkin disebabkan tidak ada personil pengurus harian yang mau menyelam sambil minum air menulis berita atau artikel disela-sela mengikuti rapat pengurus harian atau hadir di sebuah kegiatan.
Oleh pengelola NUKO, melemahnya semangat menulis para kontributor itu sebenarnya sudah cukup disadari. Namun yang dilakukan baru bisa sebatas memberikan "teknis cara memancing untuk mendapat ikan" dengan memberi pelatihan bagaimana mencari cuan lewat medsos dengan mengundang seorang konten kreator medsos dalam Raker NUKO di Nusamba beberapa waktu lalu.
Untuk mengatasi minimnya pemberitaan PCNU Kendal, sebenarnya Pimred NUKO bisa saja memberikan penugasan peliputan kepada para kontributor. Hanya saja penugasan itu tentu membawa konsekuensi pada fasilitasi. Inilah persoalan yang belum teratasi selama ini. Perubahan NUKO menjadi badan khusus PCNU Kendal semestinya bisa mengurai benang ruwet tersebut. Semoga.
Penulis adalah Penasehat NU Kendal Online