Oleh: H. Moh Mahrus Ali
Seringkali kita mendengar istilah struktural dan kultural terutama dalam kajian berkenaan dengan organisasi. Terkhusus lagi organisasi terbesar di Indonesia bahkan dunia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU). NU didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari, kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Istilah struktural dan kultural kerap muncul di media massa. Untuk istilah kultural disandingkan dengan kiai yang tidak duduk di kepengurusan NU, yaitu kiai kultural atau kiai kampung. Kiai kampung suatu predikat seorang kiai yang berkiprah di masyarakat tanpa mempedulikan dirinya duduk di kepengurusan organisasi atau tidak. Kiai tersebut sangat peduli (concern) untuk mencerdaskan, mengayomi, dan titik tujuannya menuju kepada civil society atau masyarakat madani dan masyarakat modern.
Istilah struktural sendiri sering kali digandengkan dengan jabatan. Jabatan struktural adalah jabatan yang terdapat dalam struktur organisasi (komunitas) secara formal sehingga tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak pejabat atau pegawai yang bersangkutan sudah diatur. (KKBI)
Kalau ada seseorang menempati posisi di organisasi apakah itu di tingkat kecamatan atau kabupaten, tapi “denyut” kehidupan masyarakat di mana seseorang itu bertempat tinggal tidak peduli sama sekali terhadap “napas” masyarakat tersebut, yang demikian menurut penulis adalah jabatan struktural. Orang tersebut bertindak sesuai dengan struktur yang disandangnya.
Misal ada calon DPR yang posisinya di partai sebagai elite. Tapi di TPS termasuk Dapil dan juga dimana dia tinggal tidak mendapat suara mayoritas. Ini namanya pejabat struktural. Sebaliknya ada elite politik, jelas punya posisi struktur tinggi di partai politik tersebut, tapi dalam keseharian dia menyatu dengan irama kehidupan masyarakat dimana dia tinggal dan termasuk Dapil, maka pada waktu pemilu dia akan mendapat suara yang cukup signifikan. Inilah yang dinamakan dia punya dua predikat yang disandangnya yaitu struktural dan kultural.
Ada juga, pemimpin organisasi, beliau menempati struktur di kabupaten, dia masih peduli dengan masalah di masyarakat dimana mereka tinggal, ikut kumpulan RT, ikut ronda malam, ikut rulisan (gotong royong) dan sebagainya, itu namanya kultural. Dia juga punya struktur, punya posisi di organisasi.
Jadi struktur itu hanya sekedar perangkat. Tentu saja ya sangat diperlukan dalam kancah kehidupan. Dalam struktur ada yang namanya piramida struktur/kekuasaan. Sebuah organisasi ada pemimpin puncak, ke bawah lebih besar, ini ditempati oleh wakil-wakil, dan seterusnya, semakin ke bawah semakin luas. Sementara kultural itu fungsi atau peran. Jadi struktur itu wadah, sedangkan kultur adalah peran itu sendiri.
Menurut penulis, idealisme kehidupan seseorang adalah keterpaduan antara struktur dengan kultur, tapi ini sulit untuk diraihnya, tidak semua orang bisa menempati posisi ideal. Minimal peran seseorang dalam masyarakat. Daripada hanya bertenggger di struktur, sementara masyarakat tidak pernah mencium “bau” dari struktur itu sendiri. Wassalam.
Penulis adalah Wakil Ketua Lazisnu Kendal