Oleh: Fahroji
Mendengar Konferensi Anak Cabang (Konferancab) XIII IPNU-IPPNU Sukorejo akan digelar, sebagai orang yang pernah dibesarkan di PAC IPNU Sukorejo saya tentu ikut senang. Namun dibalik kegembiraan itu kadang terselip rasa khawatir dan gelisah manakala melihat gelaran diberbagai konferensi yang mestinya merupakan ajang muhasabah untuk menatap organisasi ke depan berubah menjadi ajang perebutan kesempatan untuk "berkhidmat" dengan mengadopsi model Parpol.
Padahal, almaghfurlah KH. Ahmad Sidiq Rois Aam PBNU diera Orde Baru, terkait amanat pernah memberikan natijah "Amanat jangan diminta tapi kalau diberi jangan ditolak".
Namun tampaknya sebagian kalangan ada yang menafsirkan secara nakal, "Jika amanat tidak boleh diminta bagaimana kalau dibeli?". Fenomena ini tentu menjadikan kegelisahan jika sampai merambah anak-anak IPNU dan IPPNU yang masih belajar berorganisasi. Apalagi menjelang tahun politik 2024 kegelisahan itu cukup beralasan.
Dua hari sebelum Konferancab digelar, Ketua Demisioner Feri Aji Aprilian dan Ketua IPNU terpilih Muhammad Rofi'I bersilaturahmi ke rumah penulis dengan maksud minta doa restu sukses pelaksanaan Konferancab sekaligus ingin melacak sejarah IPNU-IPPNU Sukorejo. Niatan itu tentu saya dukung penuh. Setelah tanya jawab seperlunya, saya juga meminjamkan dokumen porto folio 2007 yang dulu menjadi syarat mendapat tunjangan sertifikasi guru. Di dalamnya ada tulisan Dinamika IPNU-IPPNU Sukorejo sejak berdiri sampai 5 periode pertama.
Dengan dokumen itu, saya tidak banyak menjawab pertanyaan Fery, karena didalamnya sudah tertulis sejarah yang didukung data valid. Obrolan kemudian dialihkan pada persiapan Konferancab XIII.
“Fer, usiamu berapa?," tanyaku
"Dua puluh tahun, pak," jawab Fery
"Boleh dua periode?"
"Boleh," jawabnya.
"Maksimal berapa usianya?"
"Dua puluh dua tahun, pak"
"Lah, maju lagi ya," pintaku.
"Nggak pak, memberi kesempatan pada yang lain," elaknya.
"Lantas siapa?"
"Biar diteruskan Rofi'i pak, ia masih 22 tahun, masih memenuhi syarat," kata Fery sambil melirik ke Rofi'i yang duduk di sampingnya.
Saya tidak berkomentar, bukannya tidak setuju. Bahkan sangat setuju. Namun itu tidak saya ucapkan. Pikiran saya menerawang membayangkan setiap kegiatan konferensi baik NU maupun Banomnya diberbagai tingkatan yang banyak diwarnai bermacam istilah. Ada istilah "uang rokok", "uang bisyaroh ziarah”, “bingkisan sarung", "sedekah" dan seterusnya. Tentu saja saya tidak ingin mendengar ada istilah baru "uang jajan" di konferensi IPNU-IPPNU.
"Ya, terserah kamu Fer, kepada siapa estafet itu kamu harapkan. Kita lihat saja nanti," sahutku.
Saya kembali membayangkan bagaimana Fery akan mengawal calon penggantinya di Konferancab XIII nanti jika ada pihak luar yang ikut bermain dalam Konferancab XIII nanti. Tentu bisa tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Minggu sore, 30 Juli 2023 lewat grup WhatsApp NU Sukorejo saya dapat info Rofi'i dan Fara terpilih memimpin PAC IPNU-IPPNU Sukorejo periode 2023-2025. Alhamdulillah kekhawatiran saya tidak terjadi dan kegelisahanpun terobati. Terpilihnya Rofi'i bagi saya sebenarnya merupakan harapan yang tertunda. Karena pada konferensi sebelumnya saya melihat Rofi'i yang baru lulus MA NU 10 Sukorejo itu juga sudah punya potensi untuk menjadi ketua. Namun kala itu Fery yang masih sekolah di SMK Muhammadiyah 4 (Mupat) yang 2 tahun lebih muda ternyata justru terpilih menjadi ketua PAC IPNU.
Disisi lain, saya juga memberikan apresiasi kepada Fery yang tidak ingin maju lagi dan memilih memberikan kesempatan untuk yang lain disaat ia punya kesempatan untuk itu.
Saya jadi ingat kata bijak, "Barang siapa memberi kesempatan pada orang lain, maka dia akan diberi kesempatan lebih besar". Fery nampaknya sedang mengamalkan kata bijak itu semoga kelak kesempatan lebih besar akan menghampirinya.
Saya tidak tahu apakah keberhasilan Fery mengawal Rofi'i menjadi penerusnya karena tidak ada campur tangan pihak luar atau justru ada pihak luar yang ikut nimbrung dan sama-sama menghendaki Rofi'i sehingga semakin memuluskan langkah Rofi'i karena saya memang tidak hadir di konferensi.
Atas kemungkinan itu, sehari setelah konferensi, Rofi'i menyampaikan bahwa tidak ada pihak luar yang bermain di Konferancab XIII.
"Nggak ada pak, mungkin sudah nasib dan takdir saya harus menjadi ketua IPNU Sukorejo," jawab Rofi'i saat ketemu di tempat kerjanya, sebuah jasa roasting kopi di Sukorejo.
Melihat kondusifnya Konferancab XIII IPNU-IPPNU Sukorejo yang demikian mengingatkan saya pada situasi Konferancab IPNU-IPPNU Sukorejo era 90-an dimana diantara rekan-rekanita saling berebut untuk mundur karena memang beratnya medan juang yang harus dilalui kala itu.
Alangkah indahnya Konferensi baik NU maupun Banom yang lain diberbagai tingkatan jika Konferensi bisa mandiri dalam mengambil keputusan-keputusan penting tanpa harus diintervensi pihak luar.
Penulis adalah Ketua PAC IPNU Sukorejo periode 2 (1993-1995)