Oleh: Rofika May Nuryantini Lahir KH. Anas Sholichin Noer lahir di Kersan, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal pada tahun 1936. Anak pertama dari 13 bersaudara ini lahir dari pasangan KH. Noer Fathoni dan Nyai Hj. Aisyah dan memiliki nama kecil Sholichin Noor. Ayahnya, KH. Noer Fathoni adalah pengasuh Pondok Pesantren An Nur Kersan, pondok pesantren tertua di Kendal yang didirikan oleh KH. Ahmad Noor pada tahun 1884. Setelah Sang Pendiri wafat, Pondok Pesantren An Nur Kersan kemudian diasuh oleh menantu beliau KH. Ahmad Jalal dan KH. Abdullah. Selang beberapa tahun, pengasuhan pondok pesantren An Nur kemudian diserahkan kepada menantu KH. Ahmad Jalal yang berasal dari Bugangan, Tamangede yakni KH. Noer Fathoni. Riwayat Pendidikan KH. Anas Solichin Noer menempuh pendidikan pertamanya di Sekolah Rakyat (SR) Kendal. Setelah lulus, beliau mengaji di bawah bimbingan ayahandanya KH. Noer Fathoni di pondok pesantren An Nur Kersan. Beliau kemudian melanjutkan pendidikan agamanya ke pondok pesantren Roudhotut Tolibin Rembang pimpinan KH Bisyri Mustofa. Saat mondok di Rembang, sosok yang akrab disapa Abah Anas ini kemudian diketahui bahwa dirinya adalah putra dari tokoh ulama kharismatik KH. Noer Fathoni. Hal ini kemudian menjadi alasan Abah Anas untuk boyong dan pindah pondok karena tidak ingin mendapat perlakuan khusus dari pengasuh pondok. Selepas menempuh pendidikan agama di Rembang, KH. Anas Solichin Noor melanjutkan mondok di Jawa Timur, tepatnya di Ploso, Kediri. Kehidupan Pribadi Pada tahun 1958 KH. Anas Solichin Noer bertemu dengan belahan jiwanya, Nyai Hj. Aminah putri KH. Nurhadi dan Nyai Hj. Khotijah. Pertemuan keduanya berawal saat ayahanda beliau KH. Noer Fathoni dan ayahanda Nyai Hj. Aminah yaitu KH. Nurhadi menunaikan ibadah haji bersama pada tahun 1953. Waktu itu perjalanan ibadah haji dilakukan dengan menggunakan kapal laut sehingga membutuhkan waktu yang lama. Dalam keadaan inilah kemudian timbul rasa persaudaraan dan persahabatan yang erat di antara Kyai Noer Fathoni dan Kyai Nurhadi. Bahkan mereka sepakat untuk menjodohkan putra-putri mereka yang akhirya pada tahun 1958 KH. Noer Fathoni mengutus Kyai Muhsin dari Galih untuk melamar Hj. Aminah. Pasangan KH. Anas Solichin Noer dan Nyai Hj. Aminah pun resmi menikah. Setelah menikah, mulai tahun 1960 keduanya bermukim di Pamriyan tepatnya di kediaman KH. Nurhadi yang merupakan ayahanda Umi Hj. Aminah dan sekaligus ayah mertua dari Abah Kyai Anas. Selama di Pamriyan Abah Kyai Anas mengajar ngaji di pondok pesantren An Nur Kersan. Setiap hari beliau pulang pergi dari Pamriyan ke Kersan untuk mengajar ngaji dengan menaiki sepeda ontel kesayangan beliau. Mendirikan Pesantren Tanggal 1 Juni 1969 KH. Anas Solichin Noer mendirikan pondok pesantren Roudhotul Muta’allimin. Pondok yang namanya diambil dari nama salah satu gedung di kompleks pondok pesantren An Nur Kersan ini berdiri di atas tanah pemberian KH. Nurhadi. Pada tahun yang sama Abah Anas menunaikan ibadah haji yang pertama bersama Hj. Khotijah ibunda Umi Hj. Aminah dan Ibu Hj. Aisyah ibunda beliau. Sepulang dari ibadah haji Abah Anas semakin bersemangat dalam mensyiarkan Islam. Setiap harinya beliau bolak-balik Kersan dan Pamriyan untuk memberikan pengetahuan agama kepada santri-santri pondok pesantren Roudhotul Muta’alimin dan pondok pesantren An Nur. Pukul 09.00 pagi beliau sudah sampai di Kersan untuk mengajar kitab Alfiyah, Riyadhus Sholihin serta tafsir Qur’an. Setelah haji, beliau tak lagi memakai ontel untuk aktivitas mengajinya, namun beliau telah memiliki sepeda motor yang cukup elegan pada zaman itu yaitu “Lambretta”. Sifat KH. Anas Solichin Noer yang Patut Diteladani Abah KH. Anas Sholihin Noer adalah seorang Kyai, pemimpin serta panutan bagi masyarakat. Walaupun beliau seorang kyai yang sangat dihormati oleh berbagai kalangan tetapi beliau tetap membaur dengan masyarakat kelas bawah. Menurut penuturan dari putra beliau yang ketiga, ketika Abah Anas membeli baju baru, seringkali teman-teman beliau disuruh memakai baju itu terlebih dahulu. Setelah teman-teman beliau memakainya baru Abah Anas kerso memakai baju itu. Mbah Leman yang mempunyai nama lengkap Mbah Sulaeman, teman Abah Anas yang masih sugeng yang saat ini bertempat tinggal di desa Gebanganom, menuturkan bahwa Abah Anas adalah sosok yang supel (ramah), gampang bergaul serta mempunyai hati yang welas asih. Mbah Leman bercerita bahwa Abah Anas sering mengajak beliau jalan-jalan ke Semarang ketika waktu senggang untuk sekedar membeli kopi, duduk-duduk di taman kota atau membeli batu permata kesukaan beliau. Abah Anas menurut mbah Leman mempunyai banyak koleksi batu permata untuk batu akik. Ketika ada orang yang menyukai dan meminta batu permata itu, Abah Anas dengan suka rela memberikannya tanpa meminta imbalan. Ruang lingkup pergaulan Abah Anas sangat luas, karena beliau dalam bergaul tidak pernah membeda-bedakan suku, agama, ras atau antar golongan (SARA). Teman dan sahabat beliau banyak yang berasal dari golongan non-muslim serta dari etnis Tionghoa dan Arab. Beliau berprinsip bahwa Islam adalah agama Rahmatal lil Alamin yang mengayomi semuanya termasuk non-muslim. Menurut penuturan Haji Muhyidin, S.E yang merupakan keponakan dari Ibu Nyai Hj. Aminah, orang-orang pinggiran dan orang-orang jalanan di daerah Kendal dan Semarang sangat menghormati Abah Anas. Pada kaum santri, Abah Kyai Anas Noor sangat peduli kepada santri-santri yang ingin menuntut ilmu di pondok tapi tidak mempunyai biaya. Beliau memberikan solusi dengan memberdayakan santri-santri tersebut bertani di sawah. Sehingga selain dapat ngaji di pondok, mereka tetap berkhidmat kepada kyai dengan mengerjakan pekerjaan yang diperintah sang kyai. Santri-snatri tersebut biasa disebut Santri Ngenger. Keturunan Abah KH Anas Sholihin Noor dikarunia 5 orang putra-putri. Yaitu :
- Bapak KH. Muhamad Adib Anas Noer,
- Bapak Kyai Marfuin Anas Noer
- Bapak KH. Misbakhul Fuad Anas Noer, M.Pd.
- Ibu Nyai Hj. Afidatun Nisa’, AH
- Ibu Nyai Hj.Tin Warotul Fatinah, SH., AH
Penulis adalah pengajar di MTs NU 08 Gemuh Kendal