Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa Sekat Perbedaan


Oleh: Anis Hidayati

Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) yang bergerak di bidang kepemudaan. Dalam perjalanan khidmahnya, Banser kerap menjadi sorotan publik—baik karena peran strategisnya di lapangan maupun akibat stigma negatif yang kerap digiring sebagian pihak melalui media massa.

Sebagai satuan pengamanan dan kerelawanan, Banser tidak berdiri sebagai satu entitas tunggal. Di dalamnya terdapat sejumlah satuan khusus yang dibentuk sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Di antaranya adalah Banser Tanggap Bencana (Bagana), Banser Husada (Basada) yang bergerak di bidang kesehatan, serta Banser Lalu Lintas (Balantas) yang membantu pengaturan dan pengamanan arus lalu lintas dalam berbagai kegiatan.

Terkait standar dan syarat menjadi anggota Banser, Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Kasatkorcab) Banser Kabupaten Kendal, Primardiyanto, menegaskan bahwa Banser memang memiliki kriteria tertentu. Namun, ia menekankan bahwa Banser pada hakikatnya adalah wadah khidmah organisasi.

“Tentu saja ada standar atau syarat menjadi anggota Banser. Namun karena Banser adalah bentuk khidmah, maka latar belakang anggotanya beragam. Karena itu, syarat yang kami tekankan bersifat lebih fleksibel, yakni sehat jasmani dan rohani serta memiliki komitmen kuat terhadap organisasi,” ujarnya.

Kasatkorcab juga menegaskan bahwa Banser mengutamakan pergerakan, proses memperbaiki diri, dan semangat merangkul seluruh anggota yang berasal dari latar belakang berbeda. Semua itu disatukan dalam satu komando jihad khidmah untuk organisasi dan umat.

Dalam praktiknya, Banser tidak hanya bertugas mengamankan kegiatan internal NU dan menjaga para kiai, tetapi juga kerap terlibat dalam pengamanan ibadah umat agama lain. Salah satu contoh yang sering menjadi perbincangan publik adalah keterlibatan Banser dalam menjaga keamanan gereja saat perayaan Natal. Peran ini tak jarang memunculkan sentimen negatif, nyinyiran, bahkan kekhawatiran—tak hanya dari luar NU, tetapi juga dari sebagian warga Nahdliyin sendiri.

Fenomena tersebut dibahas oleh Guru Besar Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof. Dr. Mudjahirin Thohir, dalam bukunya Paradoks Keberagamaan (Pelataran Sastra Kaliwungu, 2023). Pada halaman 208, ia mengulas apa yang populer disebut sebagai “Banser Natalan” dalam bingkai sosiologi dan keadaban beragama.

Terlepas dari berbagai nyinyiran dan kekhawatiran yang berkembang, Banser sejatinya memahami dan memegang teguh tiga lapis akidah keagamaan: akidah diniyah, akidah wathaniyah, dan akidah bashariyah. Ketiganya diikat oleh satu fondasi utama, yakni keadaban.

Akidah diniyah mengajarkan bahwa setiap pemeluk agama memiliki Tuhan dan ajaran masing-masing. Dalam Islam, umat meyakini Allah sebagai Tuhan, sementara agama lain memiliki sebutan dan konsepsi ketuhanan yang berbeda. Kedewasaan beragama ditandai dengan keyakinan yang kokoh terhadap ajaran sendiri, tanpa perlu memperdebatkan kebenaran agama lain, sebab setiap agama diyakini benar oleh pemeluknya.

Sementara itu, akidah wathaniyah menegaskan adab kebangsaan sebagai sesama warga negara Indonesia. Adapun akidah bashariyah mengajarkan penghormatan terhadap sesama manusia, apa pun latar belakangnya.

Berangkat dari pemahaman itulah, keberadaan Banser—yang oleh penulis disebut sebagai Barisan Ansor Serba Bisa—menjadi sangat penting. Selain menjalankan tugas pokok sebagai garda terdepan penjaga para kiai dan marwah organisasi, Banser juga memikul peran strategis sebagai pengendali potensi gesekan, baik di internal organisasi maupun benturan dari luar.

Slogan dan yel-yel semangat juang Banser bukan sekadar simbol. Di baliknya, terdapat jiwa kerelawanan dan keikhlasan yang tak perlu diragukan. Khidmah dijalankan tanpa pamrih, melampaui sekat identitas dan kepentingan.

Teruslah berkhidmah tanpa batas. Jayalah Banser NU.

Penulis adalah Koordinator Jurnalis NU Kendal Online

Informasi Lainnya

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close