
Oleh: M. Adib Shofwan
Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang tepat. Tanpa itu, khidmah mudah kehilangan daya hidup dan berujung pada rasa jenuh—atau dalam istilah yang akrab di kalangan aktivis, mutungan. Tantangan khidmah pun tidak tunggal; di setiap tingkatan kepengurusan NU, konteks dan problematikanya selalu berbeda, bergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi.
Di tingkat Pengurus Ranting, tantangan itu terasa paling nyata. Ranting bersentuhan langsung dengan masyarakat akar rumput. Setiap kebijakan yang diambil akan segera terlihat dampaknya di lingkungan sekitar. Karena itu, pengurus dituntut tidak hanya mampu menyusun program, tetapi juga cakap mencari dan mengelola sumber pendanaan agar roda organisasi terus berputar.
Pengalaman ini dirasakan di Ranting NU Kebonharjo 2, Kecamatan Patebon. Di ranting ini, pengurus mencoba merawat khidmah melalui sejumlah program unggulan di bidang pemberdayaan pendanaan, di antaranya Koin NU dan arwah jamak. Program Koin NU, alhamdulillah, telah berjalan secara istiqamah sejak 2016 atau sekitar sembilan tahun terakhir.
Sementara itu, arwah jamak barangkali bukan istilah baru di kalangan warga NU. Namun, yang menarik adalah bagaimana praktik ini diolah sesuai dengan kebutuhan dan kultur masyarakat setempat. Di Ranting Kebonharjo 2, arwah jamak dijalankan beriringan dengan kegiatan rutin Lailatul Ijtima’ NU ranting.
Pelaksanaan Lailatul Ijtima’ dilakukan secara bergilir, mengikuti urutan perkauman, musala, atau masjid. Setiap kali kegiatan dilaksanakan di sebuah musala, seluruh jamaah setempat dan warga di lingkungan tersebut diundang. Pada undangan itu, disertakan kolom khusus daftar arwah serta permohonan infak seikhlasnya.
Model sederhana ini, alhamdulillah, membawa dampak yang sangat terasa. Tingkat kehadiran warga NU di sekitar lokasi kegiatan meningkat signifikan. Demikian pula dengan perhatian dan partisipasi dana yang masuk. Ada ikatan emosional yang terbangun ketika warga berinfak dengan niat sedekah untuk arwah keluarga mereka. Infak terasa lebih ringan dan ikhlas karena diyakini pahalanya kembali kepada diri sendiri dan keluarga. Hal ini tentu berbeda ketika infak dilakukan tanpa menyentuh sisi emosional dan kepentingan batiniah pribadi.
Dalam satu putaran kegiatan Lailatul Ijtima’ di tingkat ranting, dana yang terkumpul berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp900 ribu. Jumlah tersebut sudah cukup untuk menopang kebutuhan dasar organisasi selama satu bulan. Nilainya mungkin tidak besar, tetapi dampaknya nyata. Inilah langkah kecil yang menjadi semacam bio-solar—energi penggerak—bagi organisasi NU di tingkat ranting agar tetap hidup, bergerak, dan istiqamah dalam khidmah.
Penulis adalah Redaktur NUKO dan Ketua Tanfidziyah Ranting NU Kebonharjo 2 Patebon