
Oleh: Fahroji
Membuat website itu mudah, yang sulit itu mengisi dengan konten yang berkualitas dan bisa update dengan istiqamah. Oleh karena itu, sebelum menerbitkan website perlu adanya perencanaan yang matang. Butuh ketersediaan sumber daya yang cukup. Tidak sekadar mengikuti tren hingga banyak website yang la yamutu wala yahya.
Membuat website diibaratkan seperti membuat kandang ayam. Seorang peternak ayam petelur endingnya pasti berharap tiap hari ayamnya bisa memproduksi telur secara rutin. Analogi itu, saya sampaikan saat acara Pertemuan Triwulan NU Kendal Online (NUKO) di Gedung MWC NU Sukorejo (28/9/2025) lalu. Mungkin karena acara digelar di Sukorejo, dengan icon patung ayam dan telur di Bunderan Sukorejo, kemudian menginspirasi perumpamaan itu.
Kandang ayam tidak akan bermanfaat kalau tidak diisi dengan ayam. Ayampun tidak akan memproduksi telur kalau tidak dikasih pakan yang cukup.
Bagi peternak ayam, pembuatan kandang adalah tahap awal yang harus diselesaikan. Langkah selanjut mengisi kandang dengan ayam yang berkualitas. Setelah ayam terisi tentu tidak langsung bertelur, peternak harus menyediakan stok pakan yang cukup untuk beberapa saat sampai tiba waktunya ayam- ayam mulai bertelur. Sampai di sini tentu butuh modal besar untuk itu. Jika stok pakan tidak tercukupi baik secara kuantitas maupun kualitas biasanya akan berpengaruh terhadap penurunan produktifitas telur.
Membuat media online semestinya juga demikian. Penerbitan website, baru merupakan tahap awal. Untuk yang memiliki kemampuan IT maka biasanya akan membuat sendiri. Namun bagi yang tidak memiliki kemampuan IT memadai biasanya minta jasa pada pihak lain untuk membuatkan. Banyak penyedia jasa yang menawarkan pembuatan website sehingga tidak perlu khawatir. Yang penting tersedia dana. Ibaratnya seperti membeli kandang ayam.
Namun hal yang paling penting sebenarnya adalah kesiapan siapa dan berapa penulis yang akan mengisi konten baik berita maupun artikel lain secara kontinu. Banyaknya kasus website yang la yamutu wa la yahya sangat mungkin karena tidak tersedia satu atau dua orang yang memadai dalam keterampilan jusnalistik maupun penulisan artikel.
Jika tidak tersedia SDM yang siap mengisi website, semestinya memang tidak perlu membikin website, karena bisa diibaratkan kandang ayam kosong. Oleh karenanya, PCNU Kendal pada era Allahu yaham KH. Mohammad Danial Rayyan pernah melarang Badan Otonom dan Lembaga menerbitkan website sendiri-sendiri dan bergabung melebur menjadi satu dalam NUKO.
Kondisi saat ini, NUKO sebenarnya sudah cukup memiliki ketersediaan SDM baik penulis pemula ataupun senior. Karena memang sudah berkali-kali menggelar pelatihan jurnalistik. Ditambah kebijakan menggabungkan website di atas sebenarnya bertujuan mendongkrak produktifitas NUKO dalam menyediakan artikel maupun konten lain yang berkualitas.
Namun dua ikhtiar di atas nampaknya juga belum sepenuhnya sesuai harapan. Update konten masih belum stabil. Pada waktu tertentu banyak berita diposting, pada waktu lain kadang kosong. Banyaknya kontributor ternyata belum berbanding lurus dengan produktifitas yang diharapkan, sehingga kondisi tersebut masih menjadi pekerjaan rumah(PR) hingga saat ini.
Bagaimana memotivasi para kontributor dan penulis untuk produktif menulis itu menjadi persoalan tersendiri, karena motif mereka menulispun beragam. Sebagian besar mereka memanfaatkan NUKO untuk ajang belajar menulis berita atau artikel karena seleksi editor memang belum begitu ketat. Kasus ini sering terjadi pasca pelatihan jurnalistik.
Sebagian lagi mereka menulis bermotif dakwah. Sehingga mereka tidak berharap apa-apa. Bisa dikatakan mereka menulis dengan niat suci. Oleh karenanya, NUKO pernah bernaung di PC LDNU Kendal. Ada lagi yang sekadar hobi dan menyalurkan gagasan pemikirannya. Untuk yang sudah mulai berumur seperti saya misalnya, menulis untuk sekadar mengaktifkan pikiran agar tidak pikun sebagaimana yang sering ditulis para ahli dalam berbagai buku.
Tentu dari sekian banyak para kontributor ada yang berharap NUKO bisa meningkat dari media amatiran menjadi sedikit profesional. Mereka yang berpandangan semacam ini sah-sah saja. Jika tidak ada titik temu biasanya memilih keluar dari kandang dan 'ceker' di luar. Dan ternyata di luar mereka bisa bertelur, karena memang tersedia nutrisi yang cukup.
Idealnya website memang seperti kandang ayam yang berisi ayam- ayam yang berkualitas dan tersedia pakan dan vitamin yang cukup. Sehingga produktifitas telur bisa rutin setiap hari.

Penulis adalah Penasehat NUKO