Kaderisasi NU, Kebutuhan atau Kewajiban?


Oleh: Anis Hidayati

Kaderisasi di Nahdlatul Ulama (NU) adalah proses pendidikan dan pembinaan kader untuk menjadi penggerak dan pimpinan NU di berbagai tingkatan. Kader NU memiliki peran penting dalam mengimplementasikan nilai-nilai Islam Ahlusunnah wal Jamaah dan memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Namun, sistem kaderisasi belum bisa dipahami secara benar oleh semua warga NU. Bahkan, masih banyak warga NU yang berpedoman "sing penting NU". Andai saja semua sistem kaderisasi bisa dipahami secara benar, akan sangat mungkin kualitas sumber daya manusia NU akan terus berkembang sesuai harapan.

Kaderisasi adalah adalah proses pelatihan, pendidikan dan pengembangan kemampuan bagi individu atau kelompok untuk menjadi kader atau pemimpin yang berkualitas dan kompeten.

Dalam sebuah organisasi, kaderisasi adalah ruh. Dan ranganya adalah organisasi itu sendiri. Bisa dibayangkan bila raga tanpa ruh maka tak bisa hidup dan seperti mati.

Di NU sendiri, kaderisasi dilakukan baik oleh badan otonom maupun induk NU sendiri. Mulai dari Makesta, Lakmud dan Lakud di tingkat IPNU dan IPPNU, LKD, LKL, dan PKN Fatayat, PKD dan PKL GP Ansor, Diklatsar Banser, dan sejumlah kaderisasi lainnya.

Sebagai badan tertinggi yang mengatur organisasi di tingkat nasional, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga memiliki sistem kaderisasi yang tertuang dalam keputusan Konbes NU yang diatur dalam perkumpulan Nahdlatul Ulama (Perkum NU) Nomor 2 Tahun 2022 tentang Sistem Kaderisasi NU.

Lantas, kaderisasi menjadi sebuah kebutuhan atau merupakan kewajiban?

Kebutuhan adalah sesuatu yang diperlukan atau yang harus dipenuhi demi kelangsungan hidup dan tercapainya sebuah tujuan. Sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang harus dilaksanakan atau dipenuhi karena tanggung jawab dan aturan.

Dengan demikian, kita bisa menemukan jawaban pada diri masing-masing dalam mengartikan kaderisasi bagi seorang kader adalah sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi, atau kewajiban yang harus dilaksanakan.

Semoga seluruh kader memahami hal itu agar cita-cita melahirkan kader Perkumpulan Nahdlatul Ulama yang memiliki kompetensi, komitmen, militan dan bertanggungjawab terhadap jalannya perkumpulan, baik dari sisi fikrah, amaliyah dan harakah dapat tercapai.

Penulis adalah Koordinator Pemberitaan NU Kendal Online

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close