Oleh: Anis
Hidayati
Perempuan itu duduk di pojokdi pojok paling depan majelis, kakinya diselonjorkan karena mungkin sudah tidak kuat jika harus bersimpuh, dengkulnya sudah tidak mau diajak kompromi lagi, maklum usia seperti beliau memang akrab dengan asam urat, kolesterol, darah tinggi, serta diabetes, entah mana yang mengikutinya.
Namanya Sajidah, biasa orang kampung memanggilnya dengan sebutan Mbah Idah, usianya kisaran 65 tahun. Beliau sangat sumringah mengikuti pengajian di majelis pimpinan Haji Suro, namun kali ini Mbah Idah mengikuti pengajian rutinan selapanan Muslimat NU, orang desa itu biasa menyebut dengan muslimatan.
Mbah Idah nampak memakai setelan baju batik hijau lengkap dengan kerudung, terlihat sangat bersemangat, meskipun tidak begitu roso saat berdiri mengumandangkan lagu Indonesia Raya dan Mars Syubbanul Wathon.
Bagaimana tidak membuat kagum, perjalanan Mbah Ida sampai bisa ikut dan bergabung dengan jamaah ini tidaklah mudah. Aku masih ingat betul waktu itu sekitar enam tahun saat aku masih ikut IPPNU.
"Nduk, boleh mbah ikut ngaji," tanya Mbah Idah.
"Boleh saja mbah, tapi ini anak-anak muda semua," kataku.
"Ya sudah nduk, mbah pergi dulu," katanya sambil membawa kecewa kemudian berlalu.
Namun aku kaget sekali ketika acara selesai, ternyata Mbah Idah sudah berada di tempat itu lagi sambil ikut beres-beres. Biasanya setelah kegiatan pasti ada saja aktivitas berbenah.
"Sudah mbah, biar kami saja," kataku diikuti teman-teman yang lain.
"Apa ikut beres-beres saja tidak boleh, nduk?" sahut perempuan yang kesehariannya tinggal sendiri ini.
Suami Mbah Idah sudah meninggal, tiga tahun lalu, sementara anak satu-satunya merantau ke luar pulau dan entah sudah berapa tahun tidak pernah pulang.
Akhirnya kami membiarkannya ikut berbenah.
"Terima kasih Mbah," ucapku sambil menyelipkan di tangan Mbah Idah beberapa lembar uang sepuluh ribuan sebagai tanda terima kasih.
"Nduk, tidak usah, saya hanya ingin ikut membantu saja. Nduk, boleh mbah minta tolong?" pintanya.
"Iya, mbah boleh, silakan," ucapku.
"Mbah seneng lagu Yalal Wathon. Bolehkah ajari mbah, nduk?" Pinta Mbah Idah.
Aku terperanjat, tidak mengira tujuan Mbah Idah hanya untuk bisa diajari menyanyi.
Meskipun masih terbatas dan suaranya parau, aku pelan-pelan mengajarinya. Sejak saat itu setiap ada acara kami, Mbah Idah selalu datang. Kedatangannya bukan untuk ikut acara, tetapi kepingin ikut beres-beres kemudian minta dilatih belajar menyanyi.
Ya lal wathon, ya lal wathon, ya lal wathon
Hubbul wathon minal iman.
Terdengar suara Mbah Idah, sedikit bergetar juga sedikit serak menghafalkan mars kebanggan kami tersebut.
"Nduk, Alhamdulillah mbah sudah hafal lagunya," ucap beliau ketika menghampiriku sambil menunjukkan kalau sudah hafal.
Maklumlah, usia Mbah Idah sudah kepala enam. Jangankan menghafal lagu, kadang untuk beberapa ucapan yang baru diucapkan saja beliau sudah kesulitan mengingat.
Kurang lebih dua tahun Mbah Idah mengikuti perjalanan kegiatan kami anak-anak IPPNU, ikut riweh mulai dari memasak, beres-beres di belakang setiap kami punya kegiatan.
Kami sengaja membiarkan ikut, sebab beberapa kali dilarang, beliau sedih dan kecewa bahkan pernah sampai menangis karena dikiranya tidak diperbolehkan membantu.
"Mbah, sampeyan ikut ngaji di majelis saya saja di Muslimat NU," ajak Kiai Suro saat Mbah Idah mengaji di majelis, saat beliau melihat Mbah Idah sedang membantu acara kami.
"Ngapunten, saya takut yai. Saya orang bodoh, ndak ngerti apa-apa," jawab Mbah Idah.
"Justru itu mbah, mari belajar di majelis bareng teman-teman usia sampeyan, bukan sama seumuran cucu-cucu," ujar Kiai Suro.
Kemudian Mbah Idah seperti sedang merenungkan dawuh Kiai Suro tadi.
"Airin, besok ajari Mbah Idah sedikit-sedikit ngaji biar tidak minder kalau nanti berkumpul dengan teman-teman di majelis ya," dawuh Kiai Suro waktu itu.
"Baik yai," jawabku pelan.
"Oh iya sekalian siapkan Mbah Idah baju seragam biar tambah semangat" ucap Kiai Suro sambil mengulurkan amplop untuk membelikan Mbah Idah seragam baru.
Tangis Mbah Idah terasa menyayat meski itu tangisan haru, bukan tentang tangisan haru Mbah Idah. Mataku berkaca-kaca melihat semangat beliau yang ingin ikut berkhidmat yang membuatku malu. Semangatnya mengalahkan anak-anak muda, semangat yang menjadi cambuk buat kita semua.
Hari ini adalah hari pertama Mbah Idah mengikuti pengajian di majelis pimpinan Haji Suro. Bukan tanpa alasan, katanya karena sekarang beliau sudah hafal lagu Ya lal Wathon, kesungguhannya adalah sebuah teguran bagi kemalasan kami generasi muda saat ini. Kegigihannya merupakan magnet untuk kami teladani, bukan sekadar karena beliau sudah sepuh, tapi seringnya terdengar di telinga sebuah cemoohan dan nada sindiran yang dilontarkan warga desa yang tidak menyukai Mbah Idah.
Salah satu lewat lontaran wes tuo kok kurang gawean. Namun, Mbah Idah nampak tidak menghiraukan lontaran itu, kadang hanya mengelus dada sambil sudut matanya terlihat basah.
"Saya cuma ingin di sisa hidup akan aku gunakan untuk mencari barokah di sini," jawab beliau saat aku tanya ketika beliau minta diajari menyanyi.
"Meskipun saya tidak berguna apa-apa untuk perkumpulan ini, meskipun saya hanya mencuci gelas setelah kegiatan selesai, jangan halangi saya ya," tambahnya.
Mendengar hal itu aku terhenyak dengan kesemangatan Mbah Idah. Kadang masih tersirat di benakku bahwa aku seolah sedang menjadi orang yang dibutuhkan perkumpulan ini. Setelah bertemu Mbah Idah, pikiranku mengatakan semangat juang seperti beliaulah sumber kekuatan perkumpulan ini. Sebuah pengingat agar kita menjadi belajar untuk tidak merasa menjadi orang yang "paling" dibutuhkan.
Di pojok majelis kulihat perempuan tua itu duduk sambil menyelonjorkan kakinya, entah mataku yang kurang jelas atau memang wajah Mbah Idah nampak berangsur pucat dan terlihat sangat lelah. Duduknya mulai lunglai, kepalanya disandarkan pada tembok ditopang pundak dan tak lama kekuatannya habis. Tubuh Mbah Idah roboh tak lagi kuat menahan tubuh rentanya. Jamaah bergegas menolong dengan memberikan pertolongan pertama. Wajah pucat pasi aliran darah, berhenti nafasnya perlahan, lalu menghilang.
"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un," ucap Haji Suro sambil menutupkan mata Mbah Idah.
Sungguh perjalanan yang menyesakkan dada. Tidak pernah kukira ini pertama dan terakhir beliau mengenakan baju yang diimpikannya, duduk bersama teman-teman sebayanya di majelis ilmu dan keinginannya berkhidmah di akhir hidupnya.
"Selamat jalan Mbah Idah, selamat berkhidmah di keabadian," lirihku mengenang beliau.
*)Penulis adalah Pengurus Nahdlatul Ulama Kendal Online (NUKO), tinggal di Singorojo.