
Oleh: Fahroji
Seratus hari sudah KH Mohammad Danial Royyan wafat. Acara "Nyatus" atas kewafatannya diperingati di beberapa tempat. Selain di ndalem Tamangede Gemuh, doa bersama juga digelar di Ballroom BPR Nusamba Cepiring, Kamis (30/01/2025).
Sehari berikutnya, Lesbumi Kendal juga menggelar acara serupa di Nusanda Kitchen, Jumat (31/01/2025). Yang menarik, Lesbumi Kendal memanfaatkan momen "Nyatus" tersebut dengan meluncurkan buku "Mengenang KH Mohammad Danial Royyan" dan mendiskusikan kiprah, perjuangan dan pemikiran semasa hidupnya.
Kiprah dan perjuangan para kiai dan ulama termasuk Kiai Danial memang tidak boleh dilupakan meskipun jasadnya sudah dikubur. Spirit atau ruh perjuangan dan pemikiranya harus tetap dijaga, dihidupkan dan diteruskan melalui jasad-jasad kader penerusnya yang masih hidup. Tak hanya itu, perlu juga diwariskan kepada generasi kader-kader NU pada masa yang akan datang.
Kita sering mendengar para kiai maupun mubaligh diberbagai ceramah pengajian menyampaikan kisah bahwa seorang ulama atau kiai yang wafat hakekatya masih hidup. Bahkan masih bisa menghidupi orang-orang yang masih hidup.
Wafatnya Gus Dur misalnya, bisa menjadi magnet ramainya orang berziarah ke Tebuireng Jombang. Banyak pedagang kaki lima dan seterusnya yang kemudian mendapatkan keberkahan atas wafatnya Gus Dur. Mereka bisa menghidupi diri dan keluarganya dari hasil berjualan di sekitar lokasi makam Gus Dur.
Tak hanya itu, wafatnya Gus Dur juga telah memberkahi para penulis buku yang hingga kini seakan tidak pernah habis digali dan ditulis sepak terjang dan pemikirannya baik menyangkut agama, politik, budaya, humanisme maupun humor-humornya.
Lantas bagaimana dengan wafatnya Kiai Danial? Meski maqomnya beda dengan Gus Dur, wafatnya KH Mohammad Danial setidaknya telah ada pihak yang terinspirasi dan kemudian menginisiasi untuk mencoba mendokumentasikan kiprah perjuangan dan pemikiran dalam bentuk buku cetak.
Adalah Lesbumi PCNU Kendal yang merasa perlu menerbitkan buku dimaksud. Hal itu sebagaimana diungkapkan Ketua Lesbumi Kendal, Muslichin saat Peluncuran dan Diskusi Buku Mengenang KH Mohammad Danial Royyan.
Lesbumi Kendal, ungkap Muslichin, selama ini punya tradisi rutin kumpul-kumpul sambil mendiskusikan suatu permasalahan dan kemudian mendokumentasikan hasil diskusinya dalam bentuk buku.
Kerja-kerja senyap Lesbumi Kendal ini bisa dilacak lewat buku-buku yang berhasil diterbitkannya, semisal Ramadhan di Kampung Halaman, Aku dan Guru Madrasah dan beberapa buku yang mungkin belum saya ketahui serta tentu saja yang terakhir buku yang kita bicarakan ini.
Ide menulìs sebuah buku untuk mengenang wafatnya seorang tokoh biasanya memang muncul secara spontanitas, karena kematian memang tidak bisa direncanakan, sehingga tidak ada planning khusus untuk menulis buku dari tokoh-tokoh tertentu. Dari orang-orang yang punya kebiasaan atau hobi menulis itulah dimungkinkan ide spontanitas akan muncul.
Buku yang ditulis secara ramai-ramai oleh banyak penulis atau sering disebut antologi memungkinkan untuk menerbitkan sebuat buku dalam waktu singkat. Apalagi Lesbumi mematok deadline buku harus dilaunching bersamaan memperingati seratus hari wafatnya Kiai Danial.
Buku yang memuat 12 judul itu dirasa memang belum cukup untuk memotret siapa Kiai Danial sesungguhnya. Figur Kiai Danial yang oleh banyak pihak dikenal multi talenta sesunguhnya banyak membutuhkan kesaksian dari beragam kalangan baik dari politisi, kiai, pendidik maupun birokrasi.
Namun karena mungkin keterbatasan waktu dan lain hal, hanya itu tulisan yang bisa dikodifikasi. Umumya para penulis yang terlibat adalah para aktifis muda NU di Kendal yang sacara spontanitas pula tergerak untuk menulis sebuah kesaksian dan pengakuan terhadapan Kiai Danial selama berinteraksi dan bergumul pemikiran dengannya saat mulai menjabat ketua PCNU Kendal periode pertama 2012-2017 hingga akhir hayatnya.
Padahal, sebagaimana kesaksian banyak pihak, Kiai Danial adalah figur multi talenta. Sebelum menakhodai PCNU Kendal, pernah lama malang melintang di dunia politik praktis. Bagaimana kisah-kisahnya sebagai seorang mu'allif, bagaimana pengembaraan mencari ilmunya serta masa kecilnya belum ada yang mengangkatnya dalam tulisan.
Jika hal tersebut terpenuhi, buku ini tentu menarik menjadi semacam biografi Kiai Danial. Kita berharap cetakan pertama buku ini tidak menjadi yang terakhir. Akan muncul cetakan kedua dan seterusnya. Tentu saja dengan tambahan tulisan dengan tema yang belum ada dan revisi seperlunya. Haul Kiai Danial pada tahun-tahun mendatang menjadi momen yang pas untuk meluncurkan buku cetakan berikutnya.

Penulis adalah salah satu kontributor buku Mengenang KH Mohammad Danial Royyan