Nestapa Si Penggembira


Oleh: Yus SB

Rasa cinta adalah karunia Sang Maha Kuasa. Cinta pada pasangan, keluarga, teman, guru, organisasi sampai Sang Idola. Rasa cinta mendorong kita untuk mencurahkan segala potensi dan sumber daya yang kita miliki. Mulai dari pemikiran, waktu, harta bahkan nyawa siap dipertaruhkan untuk sesuatu yang kita cintai.

Akan tetapi, cinta yang tidak didasari keilmuan hanya akan menggiring kita pada jurang nestapa. Cinta buta menjerumuskan kita dalam kerugian mendalam hingga terjerat belantara kegelapan.

Oh cintaaa,

Hal ini jugalah yang terjadi pada seseorang yang menghadap pengurus PCNU Kendal di Gedung Aswaja PCNU Kendal, Minggu (21/07/2024) lalu. Ia menuliskan ujaran kebencian terhadap Ketua Umum PBNU dalam chat grup WhatsApp. Dirinya secara totalitas telah cinta kepada sebuah majelis selawat. Saking cintanya, ia rela mengorbankan apapun untuk membantu majelis itu agar berjalan dengan lancar.

“Saya tidak bermaksud mengungkit, tapi semua sudah saya lakukan secara maksimal di majelis. Mobil saya telah saya jual untuk urunan membeli elf. Bahkan ketika ada kegiatan atau keperluan pendukung, Ndoro bilang, minta saya penuhi, selalu saya penuhi, hingga saat ini motor trail anak saya gadaikan untuk membantu majelis tersebut,” ungkapnya kepada pengurus PCNU Kendal.

Sayang, ketika pihak PCNU Kendal mencoba menghubungi pengasuh majelis tersebut untuk menjadi saksi, bukan pembelaan yang dia dapatkan, akan tetapi sebuah kalimat yang sangat menyakitkan hati hingga dia menangis seakan tidak percaya dengan kalimat yang dikeluarkan oleh sosok yang selama ini sangat ia cintai. Kurang lebihnya seperti ini,

“Sepertinya saya tidak bisa hadir, karena yang bersangkutan bukan bagian dari pengurus majelis ini. Mbah Bram hanya penggembira atau penggemar atau jamaah biasa,” ujar pengasuh majelis.

Pada kesempatan lain, ketika mengisi sebuah pengajian di Kabupaten Batang, Sang Pengasuh Majelis yang disebut sebagai “Ndoro” oleh Mbah Bram juga menuturkan,

“Ini adalah oknum, atas nama pribadi, bukan atas nama tim majelis. Mungkin itu yang bisa menjadi klarifikasi,” tuturnya dalam ceramah.

Bagai disambar petir, Mbah Bram berkali-kali ber-istighfar. Wajahnya memerah dan beberapa kali berhenti berkata-kata. Dia yang selama ini sudah habis-habisan dalam membantu keberlangsungan majelis itu, namun ketika ada masalah hanya dianggap penggembira layaknya pengibar bendera.

Wakil Rois Syuriah PCNU Kendal, KH Sholahuddin Humaidulloh turut menanggapi hal itu dalam sambutannya. Ia mengatakan,

“Ini belum selesai, karena menyangkut organisasi besar. Terbukti pihak yang seharusnya bertanggung jawab hanya melempar dan cuci tangan,” tuturnya.

Insyaallah NU dijaga Allah, yang menghina NU, Allah akan membalasnya.

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close