
Oleh: Fahroji
Musim ibadah haji tahun 2024 terasa istimewa bagi Dusun Ngloyo, Desa Trimulyo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal. Betapa tidak, di dusun yang kecil itu ada 9 orang yang berangkat haji tahun ini. Sebuah angka yang identik dengan NU.
Jumlah awalnya sebenarnya 10 orang yang berangkat haji, tapi karena 1 orang meninggal dunia dan digantikan salah satu putrinya yang tinggal di Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung sehingga tinggal 9 orang. Yang unik, suasana keramaian kampung Ngloyo sudah terasa sejak seminggu terakhir ini, dimana saudara, tetangga maupun kolega mulai berdatangan untuk silaturahmi mendoakan keberangkatannya. Suasananya hampir mirip silaturahmi lebaran Idulfitri.
Dilihat dari letak geografisnya, Dusun Ngloyo merupakan bagian dari Desa Trimulyo yang berada di ujung timur. Penduduknya juga tidak banyak, hanya terdiri dari 3 Rukun Tetangga (RT). Wilayahnya memanjang dari ujung barat mulai dari MTs NU 13 Arrahmat sampai jembatan Kali Podang berbatasan dengan Desa Kali Pakis.
Pemukiman rumah penduduk terutama di RT 1 dan RT 2 juga sulit berkembang lantaran belakangnya merupakan sungai besar dan sungai kecil. Seperti rumah saya misalnya, meskipun depannya jalan raya Lingkar Selatan, namun belakangnya sungai besar yang mengalir sampai obyek wisata Curugsewu. Bagi saya, letak rumah itu menguntungkan karena depan rumah suasana kota, sedangkan belakangnya suasana desa yang bisa melihat dan mendengar gemericik air sungai mengalir sehingga sore hari sering saya habiskan waktu di belakang rumah. Satu-satunya pemukiman yang bisa berkembangan hanyalah RT 3 karena masih terlihat ada lahan untuk pendirian bangunan.
Menurut cerita, dulu Dusun Ngloyo jutru tertinggal dengan dusun lain atau agak terpencil dari dusun lain. Ini bisa dilihat dari terlambatnya listrik masuk ke Dusun Ngloyo dibanding dusun lain di sebelahnya.
Dusun Ngloyo mulai terbuka ketika dibangun jalan Lingkar Selatan Sukorejo satu paket dengan pindahnya terminal Sukorejo ke Kebumen dan dibangunnya Bunderan Sukorejo yang menjadi icon kebanggaan masyarakat Sukorejo pada era 80-an. Menurut cerita orang-orang tua, jalan Ngloyo yang sekarang menjadi jalan Lingkar Selatan dulunya merupakan “Jalan Kerbau”. Dapat kita bayangkan bagaimana kondisinya jalan waktu itu.
Sulit berkembangnya pemukiman penduduk di dusun ini mengakibatkan jumlah penduduknya relatif tidak banyak. Dari 3 RT yang ada di Ngloyo, jumlah rumah sekitar 100 lebih sedikit. Tentu dengan jumlah yang sedikit itu jika tahun ini warganya ada 9 orang yang berangkat haji merupakan keberkahan dan keistimewaan bagi Dusun Ngloyo.
Banyaknya warga Ngloyo yang berangkat haji tahun ini juga ikut membuat sibuk semua pihak terutama ibu-ibu yang ikut membantu tetangga yang juga sebagian besar masih bertalian saudara. Mereka membantu memasak di dapur untuk menghormati tamu yang datang. Tidak hanya itu, ibu-ibu juga dituntut untuk pandai mengatur budget keluarga. Karana bagi kaum hawa tidak elok rasanya bertandang ke saudara dengan hanya istilah Jawa “lambean tangan”.
Bagi bapak-bapak di Dusun Ngloyo, dalam seminggu terakhir merupakan “pekan keberkahan” karena malam hari banyak acara muwadda'ah pemberangkan haji dari masing-masing keluarga yang berangkat haji secara silih berganti.
Belum cukup itu, karena banyak yang berangkat haji masih perlu diadakan juga upacara pelepasan calon haji tingkat Dusun Ngloyo yang rencananya akan digelar Selasa 21 Mei mendatang di masjid Al Falah Ngloyo.
Itulah suasana meriahnya Dusun Ngloyo dalam sepekan ini dan mungkin dalam sepekan yang akan datang tidak mesti terulang lima atau sepuluh tahun mendatang. Karena biasanya pada tahun-tahun sebelumnya hanya satu, dua atau tiga atau kadang kosong. Selamat menunaikan ibadah haji bagi saudara-saudara muslim yang tahun ini berangkat. Semoga menjadi haji mabrur.

Penulis adalah Warga NU tinggal di Ngloyo, Trimulyo Sukorejo