Duduk Lesehan


Oleh: Fahroji

Seorang teman di facebook membuat status, “Bagi yang tidak mendapat kursi dipersilakan kembali duduk lesehan bersama rakyat. Duduk lesehan lebih rileks, penuh cinta dan harmoni.....!!!”.

Konteks status itu nampaknya membaca situasi terbaru pasca melihat hasil Pemilu 2024 baik Pileg dan terlebih lagi Pilpres yang menyita perhatian publik sedemikian besar.

Tentu saja “kursi” yang dimaksud mengandung makna konotatif jabatan atau kedudukan. Pemilu adalah wahana untuk memperebutkan jabatan politik baik legislatif maupun eksekutif. Kursi politik adalah barang langka yang diperebutkan peserta Pemilu, sehingga untuk mendapatkannya perlu perjuangan keras, pengorbanan disertai biaya tinggi.

Bagi yang beruntung dapat menduduki kursi politik, tentu menjadi kesempatan baginya untuk menyumbangkan segala potensi yang dimiliki untuk kemajuan Indonesia. Bagaimana dengan yang tidak mendapat kursi?

Sebagaimana status teman saya, ia menyarankan duduk lesehan bersama rakyat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lesehan adalah duduk di lantai dengan beralas tikar atau lainya untuk pertemuan makan minum dan sebagainya. Dengan demikian, duduk lesehan tidak membutuhkan “kursi yang harganya mahal”. Dengan modal tikar atau karpet, duduk dengan lesehan sudah bisa menampung banyak orang.

Duduk lesehan, masih menurut teman saya yang juga mantan Pimred sebuah media lokal di Tegal terasa lebih rileks, penuh cinta dan harmoni. Obrolan yang muncul saat duduk lesehan memang kadang lebih mengalir apa adanya karena muncul dari spontanitas merespon keadaan, tanpa tekanan dan beban. Ini tentu berbeda dengan saat berbicara di forum politik yang kadang apa yang diucapkan tidak sesuai dengan hati nurani karena adanya tekanan dari pihak lain.

Duduk lesehan dengan rakyat juga memungkinkan bisa mendengar apa yang dirasakan rakyat tanpa harus mengadakan acara serap aspirasi yang beranggaran tinggi dan belum tentu ketemu solusi. Dalam duduk lesehan, rakyat biasanya akan ngomong dengan sendirinya persoalan. Misalnya sulit dan mahalnya gas LPG 3 kg pada saat menjelang lebaran, harga beras yang merangkak naik dan seterusnya.

Seringkali dalam obrolan duduk lesehan kita juga menemukan gagasan dan pemikiran yang out of the box dan lebih aplikatif dari persoalan yang dihadapi sehari-sehari. Tentu ini didasari adanya cinta dan rasa welas asih kepada sesama rakyat.

Alhasil, apa yang ditulis teman saya dalam status facebook-nya itu tidak menjadikan pihak yang tidak mendapatkan “kursi” menjadi berkecil hati. Karena hidup tidak sekedar bicara tentang berebut kursi. Kita bisa tetap duduk lesehan tanpa kursi namun tetap bisa berkontribusi.

Penulis adalah warga NU dan tinggal di Sukorejo

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close