PKPNU Jadi Kebutuhan Mendesak Tertibkan Tata Kelola Organisasi

...

Oleh: Ahmad Mulazim, S.Ag

 

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kendal akan mengadakan Pendidikan Dasar- Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU) Angkatan Pertama mulai tanggal 22-24 September 2023 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Limbangan Boja.

 

PD-PKPNU angkatan I akan diikuti 120 kader dari jajaran Pengurus Harian Cabang, Lembaga NU, Banom NU maupun pengurus MWC NU.

 

PD-PKPNU menjadi langkah konkrit PCNU Kendal dalam mencetak kader-kader NU yang berkualitas dan mampu untuk memahami tata kelola organisasi dengan baik dan benar sebagai modal untuk mengembangkan NU agar menjadi organisasi yang berdaya guna. Selain itu, PD-PKPNU juga menjadi upaya pengkaderan para calon pimpinan NU melalui kegiatan yang terarah dan terukur supaya bisa memberikan manfaat dan dampak positif bagi perkembangan PCNU ke depan. Karena kemajuan NU ke depan berada di pundak para pengurus dan kader-kader muda NU.

 

Seperti diketahui, Nahdlatul Ulama merupakan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia bahkan dunia. Warga nahdliyin jumlahnya ratusan juta orang yang tersebar di seluruh dunia. Organisasi NU memiliki badan otonom, lembaga, perangkat NU, unit kerja NU dan lain sebagainya. Namun demikian, secara statistik prosentase level pengurus yang telah melewati serangkaian pendidikan dan pelatihan yang memadai masih minim. Inilah kondisi yang saat ini terjadi pada mayoritas kepemimpinan NU termasuk di Kendal.

 

NU telah melakukan kaderisasi berjenjang sesuai tingkatan usia. Pada usia pelajar didorong untuk ikut pengkaderan IPNU-IPPNU, usia dewasa Ansor - Fatayat, lalu usia matang terjun di NU - Muslimat. Namun demikian, seringkali outputnya tidak ter-connect ke jenjang kepengurusan tingkat berikutnya. Akibatnya, pengelolaan tata organisasi dan kepemimpinan yang ada lebih sering didominasi oleh orang-orang yang berpengaruh ketimbang yang berpotensi dan telah lulus pengkaderan. Sehingga saat dihadapkan pada persoalan-persoalan di lapangan cenderung tidak bisa beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat.

 

Dengan berbagai kondisi tersebut, dirasa perlu dan penting sekali adanya sistem pengkaderan yang terintegrasi yakni Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama atau biasa dikenal PKPNU.

 

Hemat Penulis, PKPNU lahir dan tumbuh dengan latar belakang kebutuhan mendesak akan kesadaran berjamaah dalam shaf yang rapi. Mengingat sejauh ini pendidikan kader yang dilakukan oleh badan otonom (Banom) NU belum memenuhi watak kolosal selain karakter lain yang bersifat ideologis untuk memenuhi kebutuhan kepengurusan NU.

 

Kebutuhan itu makin mendesak bila dihadapkan dengan fakta bahwa warga nahdliyin masih sering menjadi bulan-bulanan dalam berbagai kontestasi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, pendidikan dan politik. Karena itu warga nahdliyin memerlukan satu perangkat sistem kaderisasi yang efektif, massif dan masal.

 

Diskoneksi Kaderisasi

 

Pola kaderisasi berjenjang sepintas tampak ideal. Namun faktanya kontinuitas pendidikan kader pada masing-masing badan otonom tidak otomatis connect dengan perekrutan kepengurusan di wadah-wadah organisasi yang dihuni nahdliyin usia matang.

 

Kondisi demikian bisa disebabkan beberapa faktor,  antara lain faktor like and dislike, ego para elit yang kemapanannya tidak ingin terganggu, juga terkadang pengaruh kepentingan politik praktis akibat transaksi politik yang mewarnai proses pergantian kepemimpinan NU itu sendiri. Akibatnya, tidak banyak kader-kader terbaik yang kemudian bisa terpasang dalam formasi kepengurusan NU. Selain faktor di atas, tidak jarang pula penyebabnya adalah faktor psikologis belaka.

 

Banyak kalangan kader elit NU enggan masuk induk organisasi yakni NU. Karena basic needs mereka yang tak mungkin terpenuhi di wadah-wadah barunya. Ada juga faktor perbedaan mendasar antara watak budaya organisasi badan otonom dengan induknya. Kader-kader terbaik di banom-banom tidak mudah beradaptasi dengan nilai-nilai baru yang mapan di induk organisasi.

 

Jadi, tak perlu analisis rumit untuk mengungkap lemahnya harakah NU di level bawah. Pertanyaannya kemudian berapa banyak MWC NU ataupun PAC Muslimat yang saat ini sanggup menjalankan tugas-tugas keormasan yang efektif?. Seberapa kuat pengurus-pengurus NU dan Muslimat membangun jaringan rapi secara vertikal sehingga instruksi pimpinan dapat dilakukan secara efektif sampai di tingkat anak ranting?

 

Di sisi lain, fakta menunjukkan umumnya warga NU kultural tidak berkarakter ideologis sehingga nyaris tidak punya daya juang yang memadai sebagai daya tangkal. Pendek kata, NU kultural ini rendah dan tidak sarat pengalaman dalam tata kelola organisasi. NU kultural selain hanya tetap melaksanakan amaliah rutinan NU, juga sangat beragam dalam cara pandang tentang NU sebagai jamiyah. Mereka umumnya tanpa pendidikan kader dan miskin pengalaman memimpin organisasi.

Malangnya lagi, dari kalangan itulah kepengurusan ranting, MWC bahkan pengurus harian NU berasal.

 

Jadi bisa dipahami jika jaringan kepengurusan organisasi lemah dalam rantai komando. Ending-nya launching program-program unggulan banyak yang tidak bisa dipahami warga nahdliyin. Celakanya kenyataan seperti itu sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun.

 

Masih adakah optimisme untuk melakukan perubahan besar? Hemat penulis masih ada. Diantara solusinya adalah melakukan Pendidikan Kader Penggerak NU secara massal untuk memenuhi kebutuhan kader baik di kepengurusan NU maupun di tingkat grassroot.

 

Terbukti, desain dan muatan spiritual PKPNU dalam waktu singkat menjadi primadona pendidikan kader warga nahdliyin. Ini menjadi fakta tak terbantahkan bahwa warga nahdliyin haus akan pengkaderan dan PKPNU menjadi model diklat yang sangat digemari masyarakat bawah.

Wataknya yang tidak elitis membuat pelatihan kader ini sangat mudah diakses oleh semua golongan masyarakat warga nahdliyin. Ongkosnya pun terbilang sangat murah, sehingga bisa berfungsi sebagai sarana pengukuhan kebersamaan.

Di hampir semua penyelenggaraan PKPNU yang membutuhkan waktu berhari-hari selalu melibatkan masyarakat dalam menyokong kebutuhan fisik dasar. Akomodasi, konsumsi dan sanitasi umumnya terbantu oleh subsidi masyarakat.

 

Penulis rasa sulit memecahkan rekor kecepatan pencetakan jumlah kader seperti yang sudah dilakukan para instruktur PKPNU. Dalam beberapa tahun sejak dilaunching, tercatat sudah terbaiat ratusan ribu bahkan jutaan kader di seantero negeri.

 

PKPNU juga diketahui sangat efektif dalam mendongkrak level ideologis warga NU umumnya kader jebolan PKPNU militansinya relatif permanen. Bahkan cenderung makin kuat skor ideologisnya dengan dijalankannya program pertemuan tatap muka model Silatnas, Silatda, Silatcab hingga Silatcam sebagai medium penting untuk upgrading semangat berjuang.

 

Memang benar, PKPNU dirancang untuk mendidik kader militan dengan tujuan untuk melahirkan satu lapisan kelas penggerak di tengah warga nahdliyin. Namun satu hal yang perlu diingat, bahwa selapisan kader militan tersebut baru kuat dalam ideologi. Jadi, masih perlu bekal tambahan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas dalam tugasnya sebagai kader penggerak.

 

Beragamnya matra kerja NU membutuhkan kekuatan agregat yang mencukupi untuk mewujudkan visi NU memasuki kedua abadnya. PKPNU akan menjawab kebutuhan kader siap latih yang selama ini tidak terpenuhi melalui sistem kaderisasi berjenjang.

 

Sistem perangkat PKPNU akan merapikan shaf jamaah NU beserta banom-banom dan lembaga-lembaganya. Loyalitas kader penggerak yang di atas rata-rata akan menjamin soliditas dalam menangkal serangan lawan, menjamin terciptanya tata kelola managemen organisasi yang baik serta terwujudnya kepemimpinan NU yang progresif dalam memenuhi solusi-solusi dari apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan masyarakat.

 

Akhirnya penulis ucapkan selamat ber PD-PKPNU. Semoga menjadi Kader Penggerak NU yang sesuai Harapan.


Penulis adalah Wakil Ketua PC Lazisnu Kabupaten Kendal

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close