Menggagas Pesantren Kilat untuk Mengisi Libur Sekolah

...

Oleh: M. Adib Shofwan Libur sekolah menjadi hal yang menyenangkan bagi anak-anak. Anak-anak biasanya melewati masa liburan dengan beragam kegiatan, seperti berlibur ke tempat wisata bersama keluarga atau ke rumah keluarga di luar kota. Ada juga anak-anak yang menghabiskan libur sekolah hanya di rumah saja. Mereka menghabiskan sebagian waktunya untuk bermain ke rumah teman di lingkungannya, nonton tv atau bermain HP. Kondisi libur yang berlangsung lama kadang juga bisa membawa suasana yang menguras kesabaran dan emosi orang tua. Perlu sikap yang bijak saat anak-anak menikmati libur panjang. Berlibur boleh, santai boleh tapi jangan sampai lupa kewajiban dan tanggung jawab untuk belajar. Sebagai aktivis pendidikan, penulis melihat fenomena ini menjadi sebuah tantangan untuk mengolahnya menjadi hal yang bermanfaat dan berdaya guna, tidak hanya menghabiskan waktu dengan percuma. Diantaranya dengan kegiatan Pesantren Kilat. Pesantren Kilat menjadi salah satu alternatif kegiatan positif bagi anak-anak kita. Waktunya tidak perlu lama, cukup 7-10 hari. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam beberapa bentuk sesuai dengan fasilitas dan tenaga pengajar, antara lain:

  1. Diasramakan. Dengan diasramakan, anak akan memperoleh pengalaman tersendiri dan banyak manfaat bagi anak. Anak akan belajar hidup mandiri, terpisah dari orang tua dan belajar bersosialisasi serta bermasyarakat. Pada model ini ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan oleh penyelenggara, diantaranya:
  • Asrama sebagai tempat kegiatan dan istirahat
  • Tenaga pengajar/ustadz dan ustadzah
  • Materi pembelajaran bisa berupa Alquran, kitab kuning, terjemah kitab dan modul
  • Jadwal kegiatan dan jadwal pembelajaran.
  • Materi pembelajaran bisa fokus pada membaca Alquran, fiqh dasar, tauhid dasar dan akhlak
  • Pengadaan kebutuhan makan bisa melalui iuran atau piket konsumsi harian yang dibebankan pada orang tua
  • Infak kegiatan sesuai kebutuhan
Kegiatan pesantren kilat bisa dimulai dari salat tahajud sebelum subuh, jamaah subuh, mengaji pagi, sarapan bersama, olah raga, ngaji siang, jamaah zuhur, ngaji setelah zuhur, istirahat siang, jamaah asar, mandi sore, ngaji sore, jamaah magrib, ngaji setelah magrib, jamaah isya, ngaji malam dan ditutup dengan istirahat malam. Disela-sela waktu bisa diisi dengan kegiatan rebana, kasidah dan kesenian lain sebagai hiburan yang sehat. Kegiatan pesantren kilat yang diasramakan, dimana anak terpisah dari orang tuanya akan menemui banyak “drama Korea” yang harus disikapi dengan bijak dan sabar. Namun, manfaatnya akan sangat luar biasa. Anak akan belajar mandiri, ngaji dan belajar ilmu agama secara intensif dan langsung dipraktikkan dengan pendampingan full time. Melalui pesantren kilat ini secara tidak langsung anak akan belajar mondok.
  1. Tidak diasramakan. Anak-anak tidak diasramakan tetapi datang ke pesantren setelah salat subuh dan langsung masuk dalam kegiatan pesantren. Setelah selesai berkegiatan di pesantren hingga malam anak-anak dapat pulang ke rumah masing-masing.
Untuk kegiatan pesantren kilat model ini diperlukan seorang konseptor, pelaksana dan pengawas. Atau dilaksanakan oleh para ustadz dan guru ngaji secara bersama-sama dalam mengkonsep, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan anak-anak.

Penulis adalah Kabag Artikel dan Kontributor berita NUKO dan Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Anak-Anak Al-Amin Kebonharjo Patebon Kendal

Informasi Lainnya

Banser dan Natal: Khidmah Kemanusiaan Tanpa...

Oleh: Anis Hidayati Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan lembaga semi-otonom di bawah naungan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom...

Bola Liar Konflik PBNU dan Harapan Nahdliyyin...

Oleh: M. Irhamni Sabil, S.Sy., MH Sudah hampir satu bulan konflik yang menerpa jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bergulir di ruang...

Seni Merawat Khidmah: Ikhtiar Menghidupkan...

Oleh: M. Adib Shofwan Khidmah di Nahdlatul Ulama bukan sekadar soal niat baik, tetapi juga membutuhkan seni, gagasan kreatif, dan strategi yang...

Gus Dur, sudah Lama Jadi Pahlawan Rakyat

Desember identik dengan bulan Gus Dur. Khaul ke-16 tahun ini digelar di mana-mana .Majalah AULA edisi bulan Desember tak absen mengangkat tema...

Advertisement

Press ESC to close